Penjelasan Hadits Bukhari No. 6619 tentang Pahala syahid bagi yang sabar saat wabah

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa wabah tha'un (pes) pada awalnya adalah azab yang Allah kirimkan kepada umat-umat tertentu, namun Allah menjadikannya sebagai rahmat dan ujian keimanan bagi kaum mukminin. Barangsiapa yang tetap tinggal di daerah wabah, bersabar, mengharap pahala, dan meyakini bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Takdir, Bab firman Allah: "Katakanlah, tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Allah tetapkan bagi kami" (QS. At-Taubah [9]: 51). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan menjadi salah satu dalil utama dalam bab takdir dan keimanan kepada qadha dan qadar.

Adapun ayat Al-Qur'an yang menjadi judul bab ini adalah:

QS. At-Taubah [9]: 51

وَقُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.'"

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan kepada kaum mukminin untuk tidak takut kepada musuh atau bencana, karena segala sesuatu terjadi sesuai ketetapan Allah, dan hanya kepada-Nya mereka berserah diri.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Tha'un sebagai azab dan rahmat.

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa tha'un pada awalnya adalah azab yang Allah turunkan kepada umat-umat sebelumnya yang berbuat maksiat. Namun, Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "rahmat" di sini adalah bahwa tha'un menjadi sebab pengampunan dosa, pahala syahid, dan kebaikan bagi orang beriman yang bersabar. Sedangkan bagi orang kafir atau yang tidak beriman, ia tetap menjadi azab.

Kedua: Syarat mendapatkan pahala syahid.

Nabi ﷺ menyebutkan beberapa syarat bagi orang yang tinggal di daerah wabah untuk mendapatkan pahala seperti syahid:

  1. Tetap tinggal di daerah tersebut dan tidak keluar melarikan diri dari takdir Allah.
  2. Bersabar atas kesulitan dan ketakutan yang dialami.
  3. Mengharap pahala dari Allah (ihtisab), bukan karena riya atau sebab duniawi.
  4. Meyakini bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang beriman dan bersabar saat wabah melanda. Ia juga menegaskan bahwa larangan keluar dari daerah wabah bukan karena takut mati, tetapi karena perintah syariat untuk tidak menyebarkan penyakit dan sebagai bentuk tawakal kepada Allah.

Ketiga: Kaitan dengan takdir.

Imam Ibnul Qayyim dalam Syarh Kitab al-Qadar (atau Zaad al-Ma'ad) menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa keimanan kepada takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi justru mendorong seseorang untuk bersabar dan ridha terhadap ketetapan Allah. Orang yang beriman tahu bahwa ajalnya tidak akan datang lebih cepat atau lebih lambat dari yang telah ditetapkan.

Keempat: Perbedaan pendapat ulama.

Para ulama dalam daftar rujukan sepakat bahwa hadits ini shahih dan menjadi dalil keutamaan orang yang bersabar saat wabah. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa orang yang mati karena tha'un termasuk syahid akhirat (mendapat pahala syahid, tetapi tetap dimandikan dan dishalatkan). Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik juga mengakui keutamaan ini, meskipun dalam beberapa hukum fikih terkait jenazah orang yang mati karena tha'un terdapat perbedaan pendapat yang ringan.

Kelima: Hikmah di balik larangan keluar dari daerah wabah.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa larangan keluar dari daerah wabah adalah untuk mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain, sekaligus sebagai bentuk tawakal dan ridha terhadap takdir Allah. Ini bukan berarti seseorang tidak boleh berobat atau mencari perlindungan, tetapi tidak boleh melarikan diri dari takdir dengan cara yang dilarang syariat.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa pada masa pemerintahan Umar bin al-Khattab, terjadi wabah tha'un di Syam. Umar kemudian berencana untuk kembali ke Madinah bersama rombongan. Abu Ubaidah bin al-Jarrah bertanya, "Apakah engkau melarikan diri dari takdir Allah?" Umar menjawab, "Seandainya bukan engkau yang bertanya, wahai Abu Ubaidah, aku akan menjawab. Ya, kita melarikan diri dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain." Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf dan menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda, "Jika kalian mendengar wabah tha'un di suatu daerah, janganlah kalian masuk ke daerah itu. Dan jika wabah itu terjadi di daerah tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari daerah itu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kisah ini menunjukkan bahwa larangan keluar dari daerah wabah adalah perintah syariat yang harus ditaati, bukan karena takut mati, tetapi karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Umar bin al-Khattab sebagai khalifah yang bijak memahami bahwa takdir Allah tetap berlaku, tetapi syariat mengajarkan adab dan hikmah dalam menghadapinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman. Yakinlah bahwa tidak ada yang menimpa kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan.
  2. Bersabar dan mengharap pahala saat menghadapi musibah, termasuk wabah, akan mendatangkan pahala seperti pahala syahid.
  3. Taat kepada perintah syariat untuk tidak keluar dari daerah wabah dan tidak masuk ke dalamnya, sebagai bentuk tawakal dan menjaga keselamatan orang lain.
  4. Perbanyak doa dan dzikir serta menjaga kesehatan, karena ikhtiar adalah bagian dari tawakal.
  5. Jangan putus asa dari rahmat Allah, karena setiap musibah bagi orang beriman adalah penghapus dosa dan pengangkat derajat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?