Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6614 tentang Pertengkaran Adam dan Musa tentang takdir

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa takdir Allah telah ditetapkan sebelum penciptaan makhluk. Ketika Nabi Adam dan Nabi Musa bertengkar di hadapan Allah, Adam memenangkan perdebatan dengan alasan bahwa dosa yang ia lakukan sudah ditakdirkan Allah sejak 40 tahun sebelum penciptaannya. Hadits ini tidak berarti menghapus tanggung jawab manusia atas perbuatannya, tetapi mengajarkan bahwa takdir Allah pasti terjadi dan kita harus menerimanya dengan iman.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Hadid [57]: 22

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Terjemahan: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."

Hadits:

Hadits riwayat Shahih Al-Bukhari no. 6614, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ bersabda: "Adam dan Musa bertengkar. Musa berkata: 'Wahai Adam, engkau adalah bapak kami, engkau telah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga.' Adam menjawab: 'Wahai Musa, Allah telah memilihmu dengan firman-Nya dan menulis untukmu dengan tangan-Nya. Apakah engkau menyalahkanku atas sesuatu yang telah Allah tetapkan atasku 40 tahun sebelum Dia menciptakanku?' Maka Adam mengalahkan Musa." (HR. Bukhari)

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (11/497) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan penetapan takdir dan bahwa hujjah Adam diterima karena dosanya sudah ditakdirkan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/218) menegaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan tanggung jawab manusia, karena Adam bertaubat dan dosanya diampuni. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa' al-'Alil (hal. 25) menjelaskan bahwa perdebatan ini terjadi di alam barzakh atau di hadapan Allah pada hari kiamat, dan menunjukkan bahwa takdir adalah rahasia Allah yang harus diimani.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Takdir dan juga oleh Imam Muslim. Para ulama dari daftar rujukan memberikan penjelasan sebagai berikut:

Makna Hadits:

Nabi Adam dan Nabi Musa bertengkar di hadapan Allah. Musa menegur Adam karena dosanya yang menyebabkan manusia dikeluarkan dari surga. Adam menjawab dengan hujjah bahwa dosa itu sudah ditakdirkan Allah 40 tahun sebelum penciptaannya. Kata "mengalahkan" (حَجَّ) berarti Adam menang dalam perdebatan karena hujjahnya lebih kuat.

Pendapat Ulama:

  1. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari, 11/497-498) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa takdir telah ditetapkan sejak azali. Adam tidak berdosa dalam arti maksiat yang disengaja, tetapi ia melakukan kesalahan yang sudah ditakdirkan. Hujjah Adam diterima karena ia sudah bertaubat dan dosanya diampuni.
  2. Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim, 16/218-219) menegaskan bahwa hadits ini tidak boleh dipahami sebagai penghapusan tanggung jawab manusia. Adam bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Perdebatan ini menunjukkan bahwa takdir adalah hak Allah, tetapi manusia tetap harus berusaha dan bertaubat.
  3. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (dalam Syifa' al-'Alil, hal. 25-27) menjelaskan bahwa perdebatan ini terjadi di alam barzakh atau di hadapan Allah pada hari kiamat. Adam menggunakan hujjah takdir karena ia sudah bertaubat dan diampuni. Ini mengajarkan bahwa takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk terus berbuat dosa, tetapi harus menjadi pengingat akan kekuasaan Allah.
  4. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dalam Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah, hal. 234) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa takdir adalah salah satu rahasia Allah. Manusia tidak boleh menggunakan takdir sebagai alasan untuk berbuat maksiat, tetapi harus beriman bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah.

Kesimpulan Ulama:

Hadits ini mengajarkan bahwa takdir Allah pasti terjadi dan tidak bisa diubah. Namun, manusia tetap bertanggung jawab atas perbuatannya karena ia memiliki kehendak dan pilihan. Adam diampuni karena bertaubat, dan hujjahnya diterima karena ia sudah bertaubat. Maka, hadits ini tidak bertentangan dengan ajaran tentang tanggung jawab manusia.

Story Telling

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal (dalam Musnad, no. 10835) bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ: "Wahai Rasulullah, apakah manusia akan dihisab atas perbuatannya?" Beliau menjawab: "Ya, setiap manusia akan dihisab." Laki-laki itu bertanya lagi: "Lalu apa gunanya takdir?" Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Beramallah, karena setiap orang dimudahkan kepada apa yang diciptakan untuknya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa takdir tidak menghapus amal. Manusia tetap harus berusaha dan berdoa, karena takdir adalah rahasia Allah yang tidak diketahui manusia.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada takdir adalah rukun iman yang keenam. Kita wajib percaya bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah.
  2. Jangan menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas beribadah atau berbuat dosa. Manusia tetap bertanggung jawab atas perbuatannya.
  3. Bertaubatlah jika melakukan kesalahan, karena Allah Maha Pengampun. Seperti Adam yang bertaubat dan diampuni.
  4. Berusaha dan berdoalah karena takdir tidak diketahui manusia. Usaha adalah bagian dari takdir itu sendiri.
  5. Jangan berdebat tentang takdir secara berlebihan, karena ini adalah rahasia Allah yang tidak boleh diperdebatkan tanpa ilmu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id gratis

Bantu penjelasan AI tetap berjalan

Baca kalimat awal di atas. Lanjutkan dengan donasi seikhlasnya, atau nanti saja.

Donasi