Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6605 tentang Takdir telah ditentukan namun tetap harus beramal

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat iman kepada takdir yang sering disalahpahami. Intinya, takdir yang telah Allah tetapkan tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan atau berhenti beramal. Sebaliknya, justru dengan beramal itulah kita akan dimudahkan menuju jalan yang telah Allah tetapkan untuk kita. Nabi ﷺ dengan tegas melarang sikap tawakkal yang keliru (pasrah tanpa usaha) dan memerintahkan kita untuk terus beramal, karena setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan amal yang sesuai dengan takdirnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Takdir (Takdir), Bab "Dan Sesungguhnya Perkara Allah Telah Ditentukan", no. 6605, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ:

  1. Nama Surah & Ayat: QS. Al-Lail [92]: 5-7
  2. Teks Arab (dengan harakat lengkap):

> فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ

  1. Terjemahan/Makna Ringkas: "Maka adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan kebaikan) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebaikan)."

Hadits terkait lainnya yang memperkuat makna ini:

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang pun dari kalian melainkan telah dituliskan tempat duduknya di Neraka atau di Surga." Para sahabat bertanya, "Kalau begitu, apakah kita boleh bersandar (pada takdir ini)?" Beliau menjawab, "Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan (untuk melakukan amal yang sesuai dengan takdirnya)." (HR. Al-Bukhari no. 6605)

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan hadits ini. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan panjang lebar tentang bab ini. Beliau menukil pemahaman para ulama bahwa hadits ini adalah bantahan tegas terhadap kelompok yang salah memahami takdir, yaitu mereka yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan amal.

Penjelasan Rinci

Hadits yang agung ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam tentang hubungan antara takdir dan usaha manusia. Mari kita bedah bersama:

1. Hakikat Takdir yang Telah Tertulis

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa tempat tinggal setiap manusia di akhirat, baik di Surga atau Neraka, telah dituliskan oleh Allah di Lauhul Mahfuzh. Ini adalah bagian dari iman kepada qadha dan qadar. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Syifa'ul 'Alil menjelaskan bahwa penulisan takdir ini adalah ilmu Allah yang azali, yang tidak berubah dan tidak mungkin salah. Ini menunjukkan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah.

2. Kesalahan Memahami Takdir (Sikap Tawakkal yang Keliru)

Ketika para sahabat mendengar kabar ini, muncullah pertanyaan yang sangat logis dari sudut pandang manusia: "Kalau sudah ditentukan, untuk apa kita beramal?" Pertanyaan ini mencerminkan pemahaman yang keliru tentang takdir. Mereka menyangka bahwa takdir berarti manusia seperti wayang yang tidak punya pilihan dan usaha. Inilah yang disebut sebagai hujjah (alasan) yang batil, yang akan dipegang oleh orang-orang musyrik di hari kiamat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan berkata: 'Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak akan mempersekutukan-Nya'." (QS. Al-An'am [6]: 148).

3. Jawaban Nabi ﷺ: "Beramallah, Karena Setiap Orang Dimudahkan"

Nabi ﷺ dengan tegas membantah sikap pasrah yang keliru ini. Beliau memerintahkan untuk beramal. Ini menunjukkan bahwa takdir tidak menghilangkan perintah untuk berusaha. Justru, amal perbuatan kita adalah salah satu sebab yang mengantarkan kita pada takdir yang telah ditetapkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa iman kepada takdir tidak bertentangan dengan perintah untuk beramal. Karena Allah memerintahkan kita untuk beramal, dan dengan amal itulah kita akan mengetahui kemudahan jalan yang telah Allah tetapkan untuk kita. Takdir itu ibarat jalan, dan amal kita adalah langkah kaki di atas jalan tersebut.

4. Makna "Fakullun muyassarun" (Setiap Orang Dimudahkan)

Frasa ini adalah kunci dari hadits ini. Nabi ﷺ kemudian membaca firman Allah dalam QS. Al-Lail untuk menjelaskan maknanya. Ada dua kelompok manusia:

  • Kelompok Pertama: Orang yang memberi (berinfak), bertakwa, dan membenarkan pahala terbaik (Surga). Maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju kebaikan dan kemudahan (li al-yusrā).
  • Kelompok Kedua: Orang yang bakhil, merasa dirinya cukup (tidak butuh pada Allah), dan mendustakan pahala terbaik. Maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju kesulitan dan keburukan (li al-'usrā).

Imam As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa amal perbuatan seseorang adalah bukti dari takdirnya. Siapa yang memilih untuk beramal baik, maka Allah akan menolongnya dan memudahkan amal baik tersebut. Siapa yang memilih beramal buruk, maka Allah akan membiarkannya dan memudahkan jalan untuk berbuat buruk. Jadi, takdir tidak menghilangkan pilihan dan usaha manusia.

5. Kesimpulan dari Para Ulama

Para ulama, seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa manusia memiliki kehendak dan usaha (ikhtiyar). Takdir Allah tidak memaksa manusia untuk berbuat. Manusia diberi akal dan pilihan, dan Allah telah menetapkan sebab-akibat. Barangsiapa memilih sebab kebaikan, maka ia akan sampai pada kebaikan. Barangsiapa memilih sebab keburukan, maka ia akan sampai pada keburukan. Semua itu sudah diketahui dan ditulis oleh Allah dalam ilmu-Nya yang azali.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, suatu ketika Nabi ﷺ sedang duduk bersama para sahabat. Beliau memegang sebatang tongkat dan menggores-goreskannya ke tanah. Suasana hening, penuh ketenangan. Lalu beliau bersabda dengan suara yang jelas dan penuh makna, "Tidak ada seorang pun dari kalian melainkan telah dituliskan tempat duduknya di Neraka atau di Surga."

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hati para sahabat. Mereka yang selama ini berjuang keras beribadah, tiba-tiba dihadapkan pada kabar yang sangat menentukan. Seorang lelaki di antara mereka, dengan penuh keberanian dan keinginan untuk memahami, bertanya, "Wahai Rasulullah, kalau begitu, apakah kita tidak boleh bersandar saja pada takdir ini dan meninggalkan amal?"

Nabi ﷺ menatapnya dengan penuh kasih sayang dan menjawab dengan tegas namun lembut, "Tidak. Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan amal yang sesuai dengan takdirnya." Kemudian beliau membacakan ayat tentang dua golongan manusia: golongan yang dimudahkan menuju kebaikan dan golongan yang dimudahkan menuju keburukan.

Hikmah dari kisah ini: Para sahabat tidak tinggal diam ketika mendengar kabar tentang takdir. Mereka langsung bertanya untuk memahami bagaimana cara menyikapinya. Dan jawaban Nabi ﷺ memberikan ketenangan: takdir bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan motivasi untuk terus beramal. Karena dengan amal itulah kita akan mengetahui kemudahan jalan yang telah Allah tetapkan untuk kita.

Kesimpulan Praktis

Dari hadits yang agung ini, ada beberapa poin yang bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Iman kepada takdir adalah wajib, namun harus dipahami dengan benar. Takdir tidak menghilangkan perintah untuk beramal dan berusaha.
  2. Jangan pernah menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan dalam beribadah atau berusaha mencari rezeki. Ini adalah sikap yang keliru dan dicela oleh Nabi ﷺ.
  3. Amal perbuatan kita adalah bukti dari takdir kita. Jika kita memilih untuk berbuat baik, maka Allah akan memudahkan kita untuk terus berbuat baik. Jika kita memilih berbuat buruk, maka Allah akan membiarkan kita terjerumus dalam keburukan.
  4. Perbanyaklah doa dan memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan amal kebaikan dan dijauhkan dari amal keburukan.
  5. Jangan sibuk mempertanyakan takdir Allah, tetapi sibuklah dengan amal yang diperintahkan. Karena hisab kita kelak adalah tentang amal kita, bukan tentang takdir yang telah ditetapkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.