Bab Siapa yang Duduk di Masjid Menunggu Shalat dan Keutamaan Masjid
Shahih
haddatsana muhammadu ibnu bassyarin, qala haddatsana yahya, an ubaydi allahi, qala haddatsani khubaybu ibnu abdi arrahmani, an hafshi ibni ashimin, an abi hurayraha, ani annabiyyi qala " sabahun yuzhilluhumu allahu fi zhillihi yawma la zhilla ila zhilluhu alimamu aladilu, wasyabbun nasyaa fi ibadahi rabbihi, warajulun qalbuhu muallaqun fi almasajidi, warajulani tahabba fi allahi ajtamaa alayhi watafarraqa alayhi, warajulun thalabathu amraahun dzatu manshibin wajamalin faqala inni akhafu allaha. warajulun tashaddaqa akhfa hatta la talama syimaluhu ma tunfiqu yaminuhu, warajulun dzakara allaha khaliyan fafadhat aynahu ".
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bashar, ia berkata, "Telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Ubaidullah, ia berkata, "Telah menceritakan kepadaku Khubaib bin Abdul Rahman, dari Hafs bin Asim, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ bersabda: "Tujuh orang yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Tuhannya, seorang lelaki yang hatinya terikat pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang lelaki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku takut kepada Allah," seorang lelaki yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya, dan seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lalu mengalirlah air matanya."