Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6573 tentang Melihat Allah di hari kiamat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits teragung tentang melihat Allah ﷻ di akhirat dan gambaran jembatan (Shirath) di atas Jahannam. Hadits ini mengajarkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka di hari kiamat dengan jelas, sebagaimana melihat matahari dan bulan di langit yang cerah. Kemudian Allah ﷻ akan menguji manusia, siapa yang benar-benar beribadah kepada-Nya. Setelah itu, jembatan dibentangkan di atas neraka, dan manusia menyeberanginya sesuai amal mereka. Hadits ini juga menceritakan tentang orang yang paling akhir masuk surga, yang menunjukkan luasnya rahmat dan kasih sayang Allah ﷻ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat."

(QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23)

Allah ﷻ juga berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan (melihat wajah Allah)."

(QS. Yunus [10]: 26)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab Jembatan Jahannam, no. 6573, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab Ma'rifati Thariqir Ru'yati, no. 182.

Kaitan dengan ulama:

Hadits ini diriwayatkan dari jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), salah satu ulama tabi'in yang sangat dihormati dan termasuk dalam daftar rujukan kita. Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, menegaskan bahwa melihat Allah di akhirat adalah salah satu aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Penjelasan Rinci

Hadits yang agung ini mengandung beberapa pelajaran besar:

1. Tentang Melihat Allah ﷻ di Akhirat

Para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ apakah mereka akan melihat Rabb mereka di hari kiamat. Nabi ﷺ menjawab dengan perumpamaan yang sangat jelas: sebagaimana kalian tidak ragu melihat matahari di siang hari yang cerah tanpa awan, dan tidak ragu melihat bulan purnama di malam yang terang, maka demikianlah kalian akan melihat Rabb kalian di akhirat nanti—dengan jelas dan tanpa keraguan.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan bahwa melihat Allah ﷻ di akhirat adalah sesuatu yang pasti dan jelas, tidak ada keraguan di dalamnya. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah, berbeda dengan kelompok Mu'tazilah yang mengingkari ru'yah (melihat Allah).

2. Tentang Ujian Manusia di Hari Kiamat

Setelah itu, Allah ﷻ mengumpulkan seluruh manusia. Allah berfirman: "Barangsiapa yang menyembah sesuatu, maka ikutilah ia." Maka orang-orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, yang menyembah bulan mengikuti bulan, yang menyembah thaghut (berhala) mengikuti thaghut. Yang tersisa hanyalah umat Islam beserta orang-orang munafik di antara mereka.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa pada hari kiamat, Allah ﷻ akan memisahkan antara orang-orang yang ikhlas beribadah kepada Allah dengan orang-orang yang menyembah selain-Nya. Orang-orang yang beriman akan tetap teguh menunggu Rabb mereka, sementara orang-orang musyrik akan mengikuti sesembahan mereka yang tidak dapat memberikan manfaat apa pun.

3. Tentang Jembatan (Shirath) di Atas Jahannam

Setelah itu, Allah ﷻ membentangkan jembatan di atas neraka Jahannam. Jembatan ini memiliki kait-kait seperti duri tanaman sa'dan (sejenis tanaman berduri yang sangat tajam). Ukuran besarnya tidak diketahui kecuali oleh Allah ﷻ. Manusia akan melewati jembatan ini sesuai dengan amal mereka:

  • Ada yang selamat dengan cepat seperti kedipan mata
  • Ada yang selamat seperti kilat
  • Ada yang selamat seperti angin
  • Ada yang selamat seperti kuda yang berlari
  • Ada yang selamat seperti unta
  • Ada yang berjalan
  • Ada yang merangkak
  • Ada yang tersambar oleh kait-kait tersebut karena dosa-dosa mereka

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya At-Takhwif min An-Nar menjelaskan bahwa jembatan ini adalah ujian terakhir bagi manusia. Mereka yang selamat adalah mereka yang istiqamah di atas shirath (jalan yang lurus) di dunia. Sebagaimana mereka berjalan di atas jalan yang lurus di dunia dengan mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah, maka di akhirat mereka akan berjalan di atas shirath sesuai dengan kadar keistiqamahan mereka.

4. Tentang Syafa'at dan Keluarnya Ahli Tauhid dari Neraka

Setelah Allah ﷻ selesai menghisab hamba-hamba-Nya, Allah memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka orang-orang yang pernah mengucapkan "La ilaha illallah" meskipun mereka berdosa. Malaikat mengenali mereka dari bekas sujud (tanda putih di dahi). Allah mengharamkan neraka memakan bekas sujud tersebut.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah salah satu dalil tentang syafa'at bagi ahli tauhid yang berdosa. Mereka akan dikeluarkan dari neraka setelah dibersihkan dari dosa-dosa mereka, kemudian disiram dengan air yang disebut "ma'ul hayah" (air kehidupan), sehingga mereka tumbuh seperti tumbuhnya biji-bijian di tepi aliran sungai.

5. Tentang Orang yang Paling Akhir Masuk Surga

Di akhir hadits, Nabi ﷺ menceritakan tentang seorang laki-laki yang paling akhir masuk surga. Ia berada di ambang neraka, wajahnya menghadap ke api. Ia memohon kepada Allah agar dipalingkan wajahnya dari neraka. Allah mengabulkan permintaannya, tetapi kemudian ia meminta lagi untuk didekatkan ke pintu surga. Allah mengingatkannya bahwa ia telah berjanji tidak akan meminta yang lain. Namun karena kasih sayang Allah, permintaannya tetap dikabulkan. Ketika ia melihat ke dalam surga, ia terdiam, lalu meminta untuk dimasukkan ke dalam surga. Allah mengingatkannya lagi tentang janjinya, tetapi akhirnya Allah tersenyum (rida) dan mengizinkannya masuk. Kemudian Allah memberinya segala yang ia minta dan ditambah dengan yang semisalnya.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah ﷻ dan betapa mudahnya Allah mengabulkan permohonan hamba-Nya yang beriman, meskipun ia telah melanggar janjinya. Ini juga menunjukkan bahwa Allah ﷻ Maha Pemurah dan Maha Penyayang, dan bahwa surga adalah karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya bukan semata-mata karena amal mereka, tetapi karena rahmat Allah semata.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri—semoga Allah merahmatinya—ketika membaca ayat:

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

"Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah?"

(QS. Al-Infithar [82]: 6)

Beliau menangis tersedu-sedu dan berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya Rabbmu Maha Pemurah. Kemurahan-Nya inilah yang membuatmu berani bermaksiat kepada-Nya. Demi Allah, seandainya Allah menutup pintu taubat, niscaya engkau akan binasa. Tetapi Allah membukakan pintu taubat untukmu, maka mengapa engkau tidak kembali kepada-Nya?"

Kemudian beliau berkata: "Sesungguhnya orang yang paling akhir masuk surga adalah orang yang paling banyak dosanya di antara ahli tauhid. Namun karena rahmat Allah yang Maha Luas, ia tetap dimasukkan ke dalam surga. Maka janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah, dan jangan pula ia merasa aman dari azab Allah. Berjalanlah di antara khauf (takut) dan raja' (harap)."

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, tetapi juga tidak boleh merasa aman dari azab-Nya. Kita harus beribadah kepada Allah dengan penuh harap dan takut.

Kesimpulan Praktis

Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Yakinlah bahwa kita akan melihat Allah ﷻ di akhirat — ini adalah kenikmatan terbesar bagi penghuni surga. Maka perbanyaklah amal yang bisa mendekatkan kita kepada Allah.
  2. Ikhlaslah dalam beribadah hanya kepada Allah — karena pada hari kiamat, hanya orang-orang yang ikhlas yang akan selamat dan tetap teguh mengikuti Allah.
  3. Jaga shalat dan sujud kita — karena bekas sujud akan menjadi tanda pengenal bagi orang-orang beriman di hari kiamat dan menjadi penghalang dari api neraka.
  4. Jangan berputus asa dari rahmat Allah — meskipun kita banyak berbuat dosa, pintu taubat selalu terbuka. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  5. Berhati-hatilah dengan dosa — karena dosa-dosa akan menjadi kait-kait yang menyambar kita ketika melewati jembatan di akhirat. Semakin banyak dosa, semakin berat perjalanan kita di atas shirath.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.