Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan keadaan seorang laki-laki yang paling akhir keluar dari neraka dan paling akhir masuk surga. Ini adalah gambaran tentang tingkatan surga yang paling rendah, sekaligus menunjukkan betapa luas dan agungnya karunia Allah ﷻ. Hadits ini juga mengajarkan kita tentang sifat Allah yang Maha Pemurah, Maha Pemberi, dan Maha Lembut, serta betapa besarnya rahmat-Nya yang melampaui segala perkiraan hamba-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab Sifat Surga dan Neraka, no. 6571, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Selain itu, hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Akhiru Ahlin-Nar Khurujan ilal Jannah", no. 186, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang lebih panjang.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
> قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
"Katakanlah: 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.'" (QS. Yunus [10]: 58)
Ayat ini menunjukkan bahwa karunia dan rahmat Allah adalah sesuatu yang agung, yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang beriman. Hadits di atas adalah salah satu wujud nyata dari karunia dan rahmat Allah yang tak terhingga.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Makna "keluar dari neraka dengan merangkak" (كَبْوًا)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa kata kabwan berarti jatuh tersungkur di atas wajahnya, kemudian berjalan dengan susah payah seperti merangkak. Ini menggambarkan kondisi terakhir seorang hamba yang akan keluar dari neraka setelah sekian lama mendapat siksa, sehingga tubuhnya dalam keadaan lemah dan tidak mampu berjalan tegak. Ini menunjukkan bahwa meskipun ia telah disiksa, Allah ﷻ tetap mengeluarkannya karena rahmat-Nya.
2. Ujian terakhir bagi penghuni neraka yang paling akhir keluar
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa ketika laki-laki itu diperintahkan masuk surga, ia mendapati surga seolah-olah penuh. Ini adalah ujian terakhir baginya, untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar telah menerima karunia Allah dengan penuh kerendahan, bukan karena merasa berhak. Setelah ia kembali dan mengaku bahwa surga penuh, Allah memerintahkannya untuk masuk kembali dan memberinya jaminan berupa dunia dan sepuluh kali lipatnya. Ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ tidak pernah mengecewakan hamba-Nya yang berharap.
3. Makna "Apakah Engkau memperolok-olokku?"
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan laki-laki itu, "Tasykharu minni" (apakah Engkau memperolok-olokku?) bukanlah bentuk keberanian yang tidak sopan kepada Allah, melainkan ungkapan keterkejutan dan kebahagiaan yang luar biasa. Ia tidak percaya bahwa karunia sebesar itu akan diberikan kepadanya setelah ia merasakan siksa neraka. Maka Rasulullah ﷺ pun tersenyum hingga terlihat gigi gerahamnya, sebagai tanda kagum dan bahagia atas interaksi yang indah antara hamba dan Rabb-nya.
4. Tingkatan surga yang paling rendah
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa orang yang paling rendah kedudukannya di surga tetap mendapatkan karunia yang luar biasa, yaitu sepuluh kali lipat dunia. Ini menunjukkan betapa agungnya surga dan betapa besarnya karunia Allah bagi penghuninya. Jika yang paling rendah saja mendapat sepuluh kali dunia, maka bagaimana lagi dengan yang lebih tinggi? Ini memotivasi kita untuk bersungguh-sungguh dalam beramal.
5. Pelajaran tentang sifat Allah
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sifat Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi. Allah tidak hanya mengeluarkan hamba-Nya dari neraka, tetapi juga memberinya karunia yang berlipat ganda. Ini adalah bukti bahwa rahmat Allah melampaui murka-Nya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits qudsi: "Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku."
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dalam riwayat Imam Muslim yang lebih panjang, disebutkan bahwa setelah laki-laki itu masuk surga, Allah ﷻ berfirman kepadanya:
> "Berangan-anganlah!" Maka ia pun berangan-angan. Allah berfirman: "Kamu akan mendapatkan apa yang kamu angan-angankan dan sepuluh kali lipat dunia." Laki-laki itu berkata: "Engkau memperolok-olokku padahal Engkau adalah Raja?" Maka Rasulullah ﷺ tersenyum hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: "Itulah tingkatan surga yang paling rendah."
Kemudian dalam riwayat tersebut, Nabi ﷺ bersabda bahwa orang-orang yang beriman akan berkata: "Bukankah kita telah dijanjikan oleh Rabb kita untuk makan dan minum sepuasnya?" Maka dikatakan: "Benar, dan itu telah kalian dapatkan." Ini menunjukkan bahwa kenikmatan surga tidak pernah habis dan tidak pernah membuat bosan.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa Allah ﷻ Maha Pemurah dan tidak pernah mengecewakan hamba-Nya. Bahkan orang yang paling rendah kedudukannya di surga mendapat karunia yang tak terbayangkan. Maka janganlah kita berputus asa dari rahmat Allah, sekecil apa pun amal kita.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguhlah dalam beramal karena surga memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda, dan kita tidak tahu di tingkatan mana kita akan ditempatkan.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat-Nya melampaui segala dosa dan kesalahan kita.
- Rendah hatilah dalam beribadah, jangan merasa amal kita sudah cukup, karena surga adalah murni karunia Allah, bukan hasil usaha kita semata.
- Yakinlah bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya, sebagaimana laki-laki dalam hadits ini yang awalnya ragu, namun akhirnya mendapat karunia yang luar biasa.
- Perbanyaklah memohon surga dan berlindung dari neraka, karena keduanya adalah tujuan akhir yang hakiki.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.