Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 655 tentang Pahala setiap langkah menuju masjid

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap langkah menuju masjid untuk shalat dicatat sebagai kebaikan dan diberi pahala oleh Allah. Nabi ﷺ menegur Bani Salima yang ingin pindah mendekati masjid, karena justru dengan tinggal jauh dan berjalan kaki ke masjid, mereka mendapat pahala dari jejak langkah mereka. Ayat QS. Yasin [36]: 12 menegaskan bahwa Allah mencatat segala yang mereka kerjakan dan jejak-jejak mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Yasin [36]: 12

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan jejak-jejak (bekas) mereka. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh)."

Hadits — Shahih Al-Bukhari no. 655, Kitab Adzan, Bab Menghitung Jejak

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Bani Salima: "Wahai Bani Salima! Tidakkah kalian mengharap pahala atas jejak-jejak langkah kalian?"

Penjelasan Mujahid bin Jabr (tabi'in, ahli tafsir): beliau menafsirkan "آثَارَهُمْ" (jejak-jejak mereka) dalam QS. Yasin [36]: 12 sebagai "خُطَاهُمْ" — yaitu langkah-langkah kaki mereka di muka bumi. Penafsiran ini disebutkan langsung oleh Imam Al-Bukhari dalam hadits ini.

Kaitan dengan ulama: Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip penafsiran Mujahid tentang ayat ini.

Penjelasan Rinci

Latar belakang hadits: Bani Salima adalah salah satu kabilah Anshar yang tinggal di pinggiran Madinah, cukup jauh dari Masjid Nabawi. Mereka ingin pindah ke dekat masjid agar lebih mudah menghadiri shalat berjamaah. Namun Nabi ﷺ tidak menyukai jika daerah pinggiran Madinah menjadi kosong, dan beliau mengarahkan mereka untuk tetap tinggal, seraya menjelaskan bahwa langkah kaki mereka menuju masjid dicatat sebagai pahala.

Makna "تَحْتَسِبُونَ آثَارَكُمْ": Kata "تَحْتَسِبُونَ" berasal dari "احتساب" yaitu mengharap pahala dari Allah. Nabi ﷺ mengajak mereka menyadari bahwa setiap langkah yang mereka tempuh untuk datang ke masjid bukanlah kerugian, melainkan tabungan pahala. Semakin jauh jaraknya, semakin banyak langkah, semakin besar pahala yang dicatat.

Penafsiran Mujahid bin Jabr: Mujahid, seorang tabi'in murid Ibnu Abbas, menafsirkan "آثَارَهُمْ" dalam QS. Yasin [36]: 12 dengan "خُطَاهُمْ" (langkah-langkah kaki). Ini menunjukkan bahwa amal yang tampak sepele — seperti langkah kaki menuju masjid — tetap dicatat oleh Allah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menguatkan penafsiran ini dan menyebutkan bahwa ayat ini mencakup dua hal: amal yang dikerjakan (مَا قَدَّمُوا) dan bekas/jejak yang ditinggalkan (آثَارَهُمْ).

Pemahaman Ibnu Hajar al-Asqalani: Dalam Fathul Bari, beliau menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil keutamaan tinggal jauh dari masjid bagi yang mampu bersabar, karena banyaknya langkah menuju masjid berarti banyaknya pahala. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini memotivasi untuk tidak malas berjalan ke masjid.

Pemahaman Imam an-Nawawi: Dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa tentang Bani Salima), beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan berjalan kaki ke masjid dan bahwa pahala langkah kaki dihitung, baik langkah pergi maupun pulang.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama memahami bahwa pindah dekat masjid tetap boleh, namun yang lebih utama adalah tetap tinggal jauh jika mampu bersabar, berdasarkan isyarat Nabi ﷺ dalam hadits ini. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa Nabi ﷺ mengarahkan Bani Salima untuk tetap di tempat mereka karena pahala langkah kaki, dan ini menunjukkan keutamaan yang besar bagi yang bersabar.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Bani Salima — sebuah kabilah Anshar yang tinggal di ujung Madinah — merasa berat berjalan jauh ke Masjid Nabawi, terutama di malam hari dan cuaca dingin. Mereka pun berniat pindah ke rumah-rumah dekat masjid. Ketika Nabi ﷺ mengetahui hal ini, beliau tidak melarang secara keras, tetapi bertanya dengan lembut: "Wahai Bani Salima, tidakkah kalian mengharap pahala atas jejak langkah kalian?" Mendengar sabda Nabi ﷺ itu, mereka pun mengurungkan niat pindah dan tetap tinggal di tempat mereka, karena mereka sadar bahwa setiap langkah menuju masjid adalah pahala yang dicatat Allah. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Hikmahnya: kadang sesuatu yang tampak berat dan melelahkan justru menyimpan pahala besar, jika kita mengharap ridha Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Setiap langkah ke masjid bernilai pahala — jangan remehkan perjalanan menuju shalat berjamaah, meskipun jauh dan melelahkan.
  2. Niatkan langkah sebagai ibadah — dengan mengharap pahala (ihtisab), langkah kaki menjadi amal yang dicatat.
  3. Jangan malas berjamaah — hadits ini memotivasi untuk bersemangat mendatangi masjid, bukan mencari alasan untuk meninggalkannya.
  4. Allah mencatat segala sesuatu — termasuk hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele, sebagaimana QS. Yasin [36]: 12.
  5. Bersabar dalam ketaatan — jika jarak ke masjid jauh, itu bukan penghalang, melainkan peluang pahala.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi