Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah yang sangat agung tentang seorang laki-laki dari umat terdahulu yang diberikan Allah harta dan anak yang banyak. Meskipun ia dikenal sebagai ayah yang baik di mata anak-anaknya, ia merasa tidak memiliki amal kebaikan yang tersimpan di sisi Allah. Karena takut akan siksa Allah, ia memerintahkan anak-anaknya untuk membakar jenazahnya, menghancurkannya, dan menaburkannya di angin. Namun, karena ketakutan dan rasa takutnya yang murni kepada Allah, Allah justru mengampuninya dan menghidupkannya kembali. Kisah ini menunjukkan bahwa rasa takut yang benar kepada Allah, yang lahir dari pengagungan terhadap-Nya, adalah sebab terbesar untuk mendapatkan ampunan-Nya, bahkan bagi orang yang merasa dirinya penuh dosa.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ar-Riqaq (Kitab Renungan), Bab "Al-Khauf min Allah" (Bab Takut kepada Allah), no. 6481, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits (bagian inti):
<p>عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا وَوَلَدًا، فَلَمَّا حُضِرَ قَالَ لِبَنِيهِ: أَيَّ أَبٍ كُنْتُ لَكُمْ؟ قَالُوا: خَيْرَ أَبٍ. قَالَ: فَإِنَّهُ لَمْ يَبْتَئِرْ عِنْدَ اللهِ خَيْرًا، وَإِنْ يَقْدَمْ عَلَى اللهِ يُعَذِّبْهُ، فَانْظُرُوا إِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي حَتَّى إِذَا صِرْتُ فَحْمًا فَاسْحَقُونِي، ثُمَّ إِذَا كَانَ يَوْمٌ رِيحٌ عَاصِفٌ فَأَذْرُونِي فِيهَا. فَأَخَذَ عَلَيْهِمْ مَوَاثِيقَهُ، فَفَعَلُوا، فَقَالَ اللهُ: كُنْ. فَإِذَا هُوَ رَجُلٌ قَائِمٌ. ثُمَّ قَالَ: أَيْ عَبْدِي، مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا فَعَلْتَ؟ قَالَ: مَخَافَتُكَ. فَمَا تَلَافَاهُ أَنْ رَحِمَهُ اللهُ"</p>
Terjemahan: Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Di antara orang-orang sebelum kalian ada seorang laki-laki yang Allah berikan harta dan anak. Ketika maut menjemputnya, ia berkata kepada anak-anaknya, 'Ayah seperti apa aku bagi kalian?' Mereka menjawab, 'Sebaik-baik ayah.' Ia berkata, 'Sungguh, ia (ayah kalian) tidak pernah menyimpan kebaikan di sisi Allah. Jika ia menghadap Allah, niscaya Allah akan mengadzabnya. Maka perhatikanlah, jika aku mati, bakarlah aku hingga menjadi arang, lalu tumbuklah aku, kemudian jika ada hari yang berangin kencang, taburkanlah (abuku) ke dalamnya.' Maka ia mengambil perjanjian yang kuat dari mereka, dan mereka pun melakukannya. Lalu Allah berfirman, 'Jadilah!' Maka tiba-tiba ia menjadi seorang laki-laki yang berdiri tegak. Allah berfirman, 'Wahai hamba-Ku, apa yang mendorongmu melakukan apa yang telah kamu lakukan?' Ia menjawab, 'Takut kepada-Mu.' Maka Allah mengampuninya."
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
- QS. Al-Baqarah [2]: 152
<p>فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ</p>
Terjemahan: "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."
- QS. Al-An'am [6]: 122
<p>أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا</p>
Terjemahan: "Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya), lalu Kami hidupkan dan Kami beri cahaya (iman) yang dia gunakan untuk berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelitan yang tidak bisa keluar darinya?"
Kaitan dengan Ulama:
Kisah ini diriwayatkan oleh Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (ulama tabi'in) dari 'Uqbah bin Abdul Ghafir dari Abu Sa'id. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya. Para ulama seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kisah ini adalah bentuk pengagungan terhadap kekuasaan Allah dan bukti bahwa amal yang paling utama adalah rasa takut dan harap hanya kepada Allah, bukan bergantung pada amal yang mungkin saja tidak diterima.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
- Makna "لم يبتئر" (Lam yabta'ir): Qatadah menafsirkan kata ini dengan "لم يدخر" (tidak menyimpan/menabung). Artinya, laki-laki itu mengakui bahwa ia tidak memiliki tabungan amal shalih yang bisa dijadikan bekal untuk akhirat. Ini adalah bentuk muhasabah (introspeksi diri) yang sangat dalam di saat-saat terakhir hidupnya.
- Rasa Takut yang Murni: Tindakan aneh yang ia perintahkan (membakar dan menaburkan abu) bukanlah bentuk keputusasaan dari rahmat Allah, tetapi justru karena ia sangat takut dan mengagungkan Allah. Ia berpikir, jika Allah mampu menghidupkan kembali dari abu yang tersebar, maka itu menunjukkan kekuasaan Allah yang mutlak. Namun, yang lebih penting, tindakan ini adalah wujud dari rasa takutnya yang luar biasa kepada Allah, karena ia merasa tidak punya amal untuk menghadap-Nya.
- Ampunan karena Takut: Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (syarah hadits arba'in) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah. Rasa takut yang murni kepada Allah, yang lahir dari pengagungan terhadap kebesaran dan kekuasaan-Nya, adalah amalan hati yang sangat agung. Meskipun laki-laki ini tidak memiliki amal lahiriah yang banyak, Allah mengampuninya karena kebaikan hatinya yang dipenuhi rasa takut dan harap.
- Kekuasaan Allah: Hadits ini juga menunjukkan kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Allah berfirman "Kun!" (Jadilah!), maka manusia itu hidup kembali. Ini adalah bukti nyata tentang hari kebangkitan. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kisah ini adalah salah satu dalil bahwa Allah mampu menghidupkan orang mati, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang kering.
- Perbedaan Riwayat: Dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhari, Salman Al-Farisi menambahkan bahwa laki-laki itu berkata, "...taburkanlah abuku di laut." Ini menunjukkan bahwa inti kisahnya sama, hanya saja perintah penaburannya bisa di angin atau di laut, keduanya adalah cara untuk menghilangkan jejak jasad.
Pendapat yang Lebih Kuat: Para ulama sepakat bahwa pelajaran utama dari hadits ini adalah keutamaan rasa takut kepada Allah (khauf) yang disertai dengan harapan (raja'). Rasa takut yang benar akan mendorong seseorang untuk menjauhi maksiat dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Namun, jika seseorang merasa amalnya kurang, maka rasa takut itu akan mendorongnya untuk kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan, dan Allah Maha Pengampun.
Story Telling
Kisah ini mengingatkan kita pada keadaan Imam Ahmad bin Hanbal ketika beliau ditanya oleh anaknya, Abdullah, tentang bagaimana beliau menghadapi maut. Abdullah berkata, "Ayahku, ketika malam terakhirnya, beliau berdoa dan terus menyebut nama Allah. Lalu beliau berkata, 'Belum, belum.' Aku bertanya, 'Wahai Ayah, apa yang belum?' Beliau menjawab, 'Wahai anakku, aku belum siap untuk menghadap Rabb-ku.' Padahal, Imam Ahmad adalah seorang ulama besar yang ilmunya sangat bermanfaat dan kehidupannya penuh dengan ujian dan kesabaran. Namun, karena ma'rifat (pengenalan) yang mendalam tentang kebesaran Allah, beliau tetap merasa kecil dan takut.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa semakin tinggi keimanan dan pengenalan seseorang kepada Allah, semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Rasa takut ini bukanlah ketakutan yang membuat putus asa, melainkan ketakutan yang mendorong untuk lebih dekat dan lebih taat kepada-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak Amal Shalih: Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk "menabung" amal kebaikan di sisi Allah, seperti shalat, sedekah, dzikir, dan berbakti kepada orang tua.
- Tumbuhkan Rasa Takut dan Harap: Seimbangkan antara rasa takut akan siksa Allah dan harapan akan rahmat-Nya. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, dan jangan pula merasa aman dari siksa-Nya.
- Jangan Meremehkan Amal Hati: Amal hati seperti takut, harap, cinta, dan ikhlas adalah amal yang sangat agung di sisi Allah, bahkan bisa menjadi sebab ampunan.
- Yakinlah dengan Kekuasaan Allah: Kisah ini menguatkan keyakinan kita tentang hari kebangkitan. Allah yang mampu menghidupkan dari abu yang tersebar pasti mampu membangkitkan kita dari kubur.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.