Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang zuhud (tidak terlalu mementingkan harta dunia) dan pentingnya membelanjakan harta di jalan Allah. Nabi ﷺ mencontohkan bahwa harta yang banyak tidaklah berarti jika tidak digunakan untuk kebaikan dan membantu sesama. Hadits ini juga memberikan kabar gembira yang sangat besar, bahwa siapa saja yang mati dalam keadaan bertauhid (tidak menyekutukan Allah) akan masuk surga, meskipun ia pernah melakukan dosa besar seperti zina dan mencuri.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq (Hadits No. 6444), dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu.
Ayat yang relevan dengan kandungan hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:
QS. Ali 'Imran [3]: 14
<div dir="rtl">زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ</div>
"Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada aneka kesenangan berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk-tumpuk dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik."
Ayat ini menjelaskan bahwa kecintaan pada harta adalah tabiat manusia, namun Allah mengingatkan bahwa semua itu hanyalah kesenangan dunia yang sementara. Tempat kembali yang baik adalah di sisi Allah.
Juga firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Kahf [18]: 46
<div dir="rtl">الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا</div>
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa harta dan anak bukanlah tujuan utama, melainkan amal shalih yang kekal. Beliau menukil perkataan para salaf bahwa yang dimaksud al-baqiyat ash-shalihat adalah amal-amal shalih seperti shalat, puasa, dzikir, dan sedekah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Sikap Zuhud Nabi ﷺ Terhadap Harta
Nabi ﷺ menyatakan bahwa beliau tidak ingin memiliki emas sebesar Gunung Uhud jika itu hanya akan tersimpan dan tidak bermanfaat. Ini menunjukkan puncak zuhud beliau. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa zuhud bukanlah berarti mengharamkan harta atau membuangnya, tetapi zuhud adalah menjadikan harta di tangan, bukan di hati. Hati seorang yang zuhud tidak terikat pada harta, sehingga ketika harta datang ia bersyukur, dan ketika pergi ia bersabar.
2. Harta Hanya Untuk Kebaikan dan Melunasi Utang
Nabi ﷺ mengecualikan dua hal dari pernyataan beliau: (1) menyimpan harta untuk melunasi utang, dan (2) membelanjakan harta di jalan Allah ke kanan, kiri, dan belakang—maksudnya ke segala arah untuk membantu sesama. Ini menunjukkan bahwa memiliki harta untuk memenuhi kebutuhan dan kewajiban adalah hal yang baik, selama tidak menjadikan hati terikat padanya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa yang dimaksud "menyimpan untuk utang" adalah menyimpan harta secukupnya untuk membayar kewajiban yang harus ditunaikan. Ini bukan bertentangan dengan zuhud, karena membayar utang adalah kewajiban syar'i.
3. Orang Kaya yang Sedikit Pahalanya di Akhirat
Sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya orang-orang yang banyak hartanya adalah orang-orang yang sedikit (pahalanya) pada hari kiamat, kecuali orang yang membelanjakan hartanya ke kanan, kiri, dan ke belakang—dan sedikit sekali mereka itu."
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang memiliki banyak harta namun tidak menggunakannya untuk kebaikan. Mereka akan dihisab dengan ketat atas harta mereka. Adapun orang kaya yang membelanjakan hartanya di jalan kebaikan, maka mereka termasuk orang-orang yang sedikit jumlahnya namun besar pahalanya.
4. Kabar Gembira Bagi Ahli Tauhid
Di akhir hadits, Nabi ﷺ menyampaikan kabar gembira dari Jibril: "Barangsiapa yang mati dari umatmu tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, maka ia masuk surga." Ketika Abu Dzar bertanya, "Walaupun ia berzina dan mencuri?" Nabi ﷺ menjawab, "Ya, walaupun ia berzina dan mencuri."
Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tauhid yang sangat besar. Dosa-dosa besar seperti zina dan mencuri tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam selama ia tidak menyekutukan Allah. Namun ini bukan berarti dosa-dosa tersebut tidak dihukum—pelakunya tetap akan dihisab dan bisa masuk neraka sementara untuk dibersihkan dosanya, kemudian baru masuk surga. Ini sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah bahwa pelaku dosa besar tidak kafir dan tidak kekal di neraka selama ia mati dalam keadaan bertauhid.
5. Ketaatan Abu Dzar kepada Perintah Nabi ﷺ
Kisah Abu Dzar yang tetap berdiri di tempatnya meskipun mendengar suara keras dan khawatir terhadap keselamatan Nabi ﷺ menunjukkan adab yang agung: mendahulukan ketaatan kepada perintah Rasulullah ﷺ di atas kekhawatiran pribadi. Ini pelajaran tentang pentingnya kepatuhan dan kepercayaan penuh kepada beliau.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling zuhud. Suatu hari, beliau ditanya oleh sebagian orang, "Wahai Abu Dzar, mengapa kami melihatmu tidak memiliki harta?"
Abu Dzar menjawab, "Sesungguhnya aku tidak suka menyimpan harta untuk diriku sendiri, karena Rasulullah ﷺ bersabda: 'Siapa yang memiliki unta, kambing, atau harta yang ia simpan, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan kaya-raya (dengan hisab yang berat).' Maka aku lebih suka hartaku berada di sisi Allah daripada di sisiku."
Kemudian beliau berkata, "Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk zuhud di dunia, dan aku tidak mencintai dunia. Aku tidak menjadikan dunia sebagai tempat tinggal yang kekal."
Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat memahami dan mengamalkan ajaran Nabi ﷺ tentang zuhud. Mereka tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai ladang untuk menanam amal kebaikan.
Kesimpulan Praktis
- Jadilah orang yang zuhud—artinya harta di tangan, bukan di hati. Gunakan harta untuk kebutuhan dan kebaikan, bukan untuk menumpuk dan berbangga diri.
- Dahulukan membayar utang—Nabi ﷺ sendiri mengecualikan menyimpan harta untuk melunasi utang. Ini menunjukkan pentingnya menunaikan hak orang lain.
- Perbanyak sedekah ke segala arah—bantulah orang di kanan, kiri, dan belakang kita; artinya bantulah siapa saja yang membutuhkan tanpa pilih-pilih.
- Jangan takut miskin karena bersedekah—justru orang yang banyak harta namun pelit akan merugi di akhirat.
- Pegang teguh tauhid—ini adalah kunci keselamatan. Jauhilah segala bentuk kesyirikan, karena tauhid adalah syarat utama masuk surga.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah—meskipun seseorang pernah berbuat dosa besar, selama ia bertaubat dan mati dalam keadaan bertauhid, ia tetap berharap mendapatkan surga Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.