Penjelasan Hadits Bukhari No. 6441 tentang Berkah harta tergantung cara memperolehnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa harta itu indah dan menarik, tetapi sikap hati saat mengambilnya sangat menentukan keberkahan. Orang yang mengambil harta dengan hati lapang, tidak serakah, dan tidak meminta-minta akan diberkahi. Sebaliknya, orang yang mengambilnya dengan keserakahan tidak akan merasa cukup, seperti makan yang tidak pernah mengenyangkan. Nabi ﷺ juga menegaskan bahwa memberi lebih baik daripada meminta.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Raqaq, Bab Sabda Nabi ﷺ: "Harta ini manis dan hijau", dari sahabat Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ، يَقُولُ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ، وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ، قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ "هَذَا الْمَالُ ـ وَرُبَّمَا قَالَ سُفْيَانُ قَالَ لِي يَا حَكِيمُ ـ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِطِيبِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى"

Terjemahan: "Harta ini adalah (seperti buah) yang hijau dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan hati yang lapang (tidak serakah), maka ia akan diberkahi. Barangsiapa mengambilnya dengan keserakahan, maka ia tidak akan diberkahi, dan ia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang. Dan tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (meminta)."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Baqarah [2]: 261

مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Terjemahan: "Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."

Ayat ini menunjukkan bahwa harta yang diambil dan digunakan dengan cara yang benar akan membawa keberkahan dan pahala berlipat.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting tentang sikap terhadap harta:

Pertama, Nabi ﷺ menggambarkan harta sebagai "خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ" (hijau dan manis). Ini adalah perumpamaan yang indah — seperti buah yang hijau dan manis, harta itu menarik, menyenangkan, dan diinginkan oleh jiwa manusia. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sifat "hijau" menggambarkan kesegaran dan keindahan harta, sedangkan "manis" menggambarkan kenikmatan yang dirasakan ketika memilikinya. Keduanya menunjukkan bahwa harta memang diciptakan Allah sebagai sesuatu yang menarik bagi manusia.

Kedua, kunci keberkahan harta terletak pada طِيبِ نَفْسٍ (hati yang lapang). Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah mengambil harta dengan cara yang halal, tanpa kerakusan, tanpa meminta-minta kepada orang lain, dan dengan hati yang ridha terhadap apa yang Allah berikan. Orang seperti ini akan mendapatkan keberkahan — harta yang sedikit terasa cukup, dan harta yang banyak membawa manfaat.

Ketiga, kebalikannya adalah إِشْرَافِ نَفْسٍ (keserakahan jiwa). Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa ini adalah kondisi hati yang selalu merasa kurang, selalu ingin lebih, dan tidak pernah puas dengan apa yang ada. Orang seperti ini diumpamakan seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang — semakin banyak makan, semakin lapar. Ini adalah gambaran orang yang harta tidak membawa ketenangan, justru menambah kegelisahan.

Keempat, Nabi ﷺ menutup hadits dengan kaidah emas: الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى (tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah). Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam bab tentang qana'ah (merasa cukup). Para ulama menjelaskan bahwa "tangan di atas" adalah orang yang memberi, dan "tangan di bawah" adalah orang yang meminta. Ini bukan berarti meminta itu haram, tetapi memberi itu lebih mulia.

Kaitan dengan kisah Hakim bin Hizam:

Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang dikenal dermawan. Dalam hadits ini, beliau meminta kepada Nabi ﷺ tiga kali, dan Nabi ﷺ memberinya tiga kali. Ini menunjukkan kemuliaan akhlak Nabi ﷺ yang tidak menolak permintaan orang yang membutuhkan. Namun, setelah tiga kali, Nabi ﷺ memberikan nasihat agar Hakim memahami hakikat harta dan sikap yang benar terhadapnya.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Hakim bin Hizam setelah itu tidak pernah lagi meminta kepada siapa pun sampai akhir hayatnya, sebagai bentuk pengamalan dari nasihat Nabi ﷺ.

Perbedaan pendapat ulama:

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meminta-minta. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i berpendapat bahwa meminta-minta hukumnya makruh (dibenci) kecuali dalam keadaan darurat. Sedangkan Imam Malik bin Anas menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta. Namun, semua ulama sepakat bahwa memberi lebih baik daripada meminta, dan bahwa keberkahan harta tergantung pada sikap hati.

Story Telling

Dikisahkan bahwa setelah mendengar nasihat Nabi ﷺ ini, Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu berubah menjadi orang yang sangat menjaga kehormatan dirinya. Beliau tidak pernah lagi meminta kepada siapa pun. Bahkan ketika beliau menjadi gubernur di masa kekhalifahan, beliau dikenal sebagai orang yang paling dermawan dan tidak pernah mengambil gaji dari baitul mal.

Suatu ketika, seseorang bertanya kepada Hakim bin Hizam tentang rahasia kedermawanannya. Beliau menjawab bahwa sejak mendengar sabda Nabi ﷺ tentang "tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah", beliau bertekad untuk selalu menjadi tangan yang di atas — selalu memberi, tidak pernah meminta.

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala mencatat bahwa Hakim bin Hizam hidup hingga usia 120 tahun dan selalu dalam keadaan kaya, namun tidak pernah terpengaruh oleh harta. Beliau pernah berkata: "Aku tidak pernah menerima sesuatu dari seseorang kecuali aku merasa bahwa itu adalah rezeki yang Allah berikan melalui tangannya."

Kesimpulan Praktis

  1. Ambil harta dengan hati lapang — carilah rezeki dengan cara halal, tanpa kerakusan, dan ridha dengan apa yang Allah berikan.
  2. Jangan serakah — keserakahan tidak menambah rezeki, justru menghilangkan keberkahan dan membuat hati tidak pernah tenang.
  3. Biasakan memberi — tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Latih diri untuk menjadi pemberi, bukan peminta.
  4. Jaga kehormatan diri — jangan meminta-minta kecuali dalam keadaan darurat yang benar-benar membutuhkan.
  5. Yakinlah pada janji Allah — barang siapa yang mengambil harta dengan cara yang benar dan hati yang bersih, Allah akan memberkahinya, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 261.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?