Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk selalu ingin menambah harta, tidak akan pernah merasa puas sampai ia meninggal dan kembali menjadi tanah. Namun, Allah tetap membuka pintu tobat bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya. Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak silau dengan harta dan selalu bertaubat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Raqaq (Bab Apa yang Dihindari dari Fitnah Harta), nomor 6437. Perawi sahabatnya adalah Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits lengkap:
حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ، أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ، أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، قَالَ سَمِعْتُ عَطَاءً، يَقُولُ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ، يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ " لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ مِثْلَ وَادٍ مَالاً لأَحَبَّ أَنَّ لَهُ إِلَيْهِ مِثْلَهُ، وَلاَ يَمْلأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ ". قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَلاَ أَدْرِي مِنَ الْقُرْآنِ هُوَ أَمْ لاَ. قَالَ وَسَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ يَقُولُ ذَلِكَ عَلَى الْمِنْبَرِ.
Terjemahan: Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika anak Adam memiliki harta sebanyak lembah, maka ia akan menginginkan lembah yang lain seperti itu, dan tidak akan pernah puas mata anak Adam kecuali dengan tanah. Dan Allah akan mengampuni orang yang bertobat kepada-Nya." Ibnu Abbas berkata: Aku tidak tahu apakah ucapan ini diambil dari Al-Qur'an atau tidak. Ata berkata, "Aku mendengar Ibnu Az-Zubair mengucapkan ini saat ia berada di atas mimbar."
Hadits ini juga memiliki penguat dari Al-Qur'an, di antaranya firman Allah:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
(QS. Thaha [20]: 131)
Terjemahan: "Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan sifat dasar manusia yang cenderung tamak terhadap harta. Rasulullah ﷺ mengumpamakan jika seseorang memiliki harta sepenuh lembah, ia tetap akan menginginkan lembah lainnya. Ini menunjukkan bahwa keinginan manusia terhadap dunia tidak ada batasnya, kecuali jika ia sudah meninggal dan kembali menjadi tanah.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan peringatan keras terhadap sifat tamak dan rakus terhadap harta. Beliau menyebutkan bahwa "tidak akan memenuhi mata anak Adam kecuali tanah" bermakna bahwa hanya kematian yang bisa menghentikan ketamakan manusia. Sementara Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini mendorong untuk zuhud terhadap dunia dan mencukupkan diri dengan apa yang halal.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ragu apakah kalimat ini bagian dari Al-Qur'an atau bukan, karena maknanya sangat dalam dan sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Namun, para ulama seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa makna hadits ini sejalan dengan ayat-ayat tentang fitnah harta, seperti QS. At-Takatsur [102]: 1-2.
Adapun kalimat "Allah akan mengampuni orang yang bertobat", ini menunjukkan bahwa meskipun manusia memiliki sifat tamak, pintu tobat tetap terbuka. Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa taubat adalah jalan keluar dari penyakit cinta dunia. Siapa yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, Allah akan menerima taubatnya.
Para ulama seperti Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak juga menekankan pentingnya qana'ah (merasa cukup) dan menjauhi sikap rakus. Mereka mengajarkan bahwa harta yang sedikit namun disyukuri lebih baik daripada harta banyak namun membuat lalai.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhuma pernah mengucapkan hadits ini di atas mimbar untuk mengingatkan kaum muslimin tentang bahaya cinta harta. Beliau adalah seorang sahabat yang dikenal zuhud dan berani, meskipun beliau juga seorang pemimpin. Ini menunjukkan bahwa hadits ini bukan hanya untuk orang biasa, tetapi juga untuk para pemimpin agar tidak terjebak dalam fitnah harta.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata bahwa beliau tidak pernah melihat seseorang yang lebih zuhud daripada Ibnu Zubair dalam hal harta, meskipun beliau memiliki kekuasaan. Ini menjadi pelajaran bahwa kekuasaan dan harta tidak boleh membuat seseorang lupa akan akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Sadari sifat tamak: Manusia cenderung tidak puas dengan harta, maka sadarilah dan lawanlah dengan qana'ah.
- Fokus pada akhirat: Harta hanya alat, bukan tujuan. Gunakan untuk kebaikan, bukan untuk menumpuk.
- Segera bertaubat: Jika tergelincir dalam cinta dunia, segeralah bertaubat kepada Allah.
- Zuhud bukan berarti miskin: Zuhud adalah hati tidak terikat pada harta, meskipun tangan bekerja untuk mencari rezeki halal.
- Ingat kematian: Hanya tanah yang akan memenuhi keinginan manusia, maka persiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.