Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengingatkan bahwa orang-orang saleh akan wafat secara bertahap dan meninggalkan generasi yang buruk—seperti ampas biji-bijian yang tidak bernilai. Allah tidak akan mempedulikan mereka karena kehilangan keberkahan dengan perginya orang-orang shalih. Ini adalah peringatan agar kita berusaha menjadi bagian dari orang shalih, bukan menjadi sisa yang hina.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
QS. Maryam [19]: 96
<blockquote dir="rtl">
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
</blockquote>
"Sungguh, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati mereka)."
Hadits:
Dari Mirdas al-Aslami radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
<blockquote dir="rtl">"يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الأَوَّلُ فَالأَوَّلُ، وَيَبْقَى حُفَالَةٌ كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوِ التَّمْرِ، لاَ يُبَالِيهِمُ اللَّهُ بَالَةً"</blockquote>
"(Orang-orang saleh akan pergi secara bertahap, dan akan tersisa ampas seperti ampas jelai atau kurma, yang tidak dipedulikan Allah sedikit pun.)" (HR. Bukhari no. 6434)
Penjelasan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (11/379) menjelaskan bahwa "حُفَالَة" berarti ampas atau sisa yang tidak bernilai. Makna hadits: orang-orang shalih akan wafat satu per satu, dan yang tersisa hanyalah orang-orang yang tidak ada kebaikan padanya, seperti ampas makanan.
- Al-Bukhari sendiri menyebutkan bahwa lafaz "حُفَالَة" dan "حُثَالَة" bermakna sama, yaitu sisa yang paling rendah.
- Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad (5/199) meriwayatkan hadits serupa yang menekankan bahwa perginya orang shalih adalah pertanda hilangnya keberkahan.
- Ibnu al-Mubarak dalam Az-Zuhd (no. 141) menyebutkan bahwa para salaf sangat takut menjadi bagian dari "حُفَالَة" yang dimaksud.
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk nubuwwah (kenabian) tentang kondisi akhir zaman. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang-orang shalih—yang memiliki ilmu, iman, amal saleh, dan akhlak mulia—akan wafat secara berurutan (الأَوَّلُ فَالأَوَّلُ). Ini bukan berarti mereka mati bersamaan, tetapi satu demi satu hingga habis generasi shalih.
Setelah itu yang tersisa adalah حُفَالَة (ampas). Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim (16/221) menjelaskan bahwa ini adalah perumpamaan halus untuk menggambarkan manusia yang tidak memiliki nilai kebaikan, seperti sisa jelai atau kurma yang sudah diambil bagian terbaiknya.
Tentang "لاَ يُبَالِيهِمُ اللَّهُ بَالَةً": maknanya adalah Allah tidak akan memperhatikan mereka dengan perhatian rahmat dan taufik. Bukan berarti Allah tidak mengetahui mereka, tetapi mereka tidak dipedulikan karena telah kehilangan hakikat keimanan. Sebagaimana tafsir Ibn Qayyim dalam Miftah Dar as-Sa'adah bahwa orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah akan diabaikan.
Penerapan menurut ulama salaf:
- Al-Hasan al-Bashri berkata: "Barangsiapa mengenal Allah, ia akan mencintai kebaikan; dan barangsiapa yang tidak peduli terhadap saudaranya, maka ia termasuk dalam ancaman ini."
- Fudail bin 'Iyadh berwasiat: "Jika engkau melihat orang shalih meninggal, maka perhatikan apakah engkau termasuk dalam sisa yang ditinggalkan?"
Hadits ini juga mengingatkan bahwa manusia yang tidak memiliki kebaikan di hati mereka akan dibiarkan oleh Allah dalam kesesatan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ lainnya: "Akan datang suatu masa, yang paling utama di antara kalian adalah orang yang sibuk dengan urusan dunianya."
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin al-Mubarak—seorang ulama tabi'ut tabi'in yang zuhud—bahwa beliau pernah bermimpi melihat Khalid bin al-Walid radhiyallahu 'anhu di surga. Ketika ditanya bagaimana ia bisa mencapai derajat itu, Khalid menjawab: "Karena aku tidak pernah menyepelekan kebaikan sekecil apa pun, meskipun hanya suatu amalan sunnah."
Para salaf sangat takut menjadi bagian dari generasi yang disebut "حُفَالَة". Muhammad bin Sirin pernah ditanya tentang suatu perkara, lalu ia menangis seraya berkata: "Aku khawatir menjadi orang yang tidak dipedulikan Allah, sehingga ilmu ini tidak bermanfaat."
Kisah ini mengajarkan bahwa keteguhan dalam kebaikan dan menjaga amal saleh hingga akhir hayat adalah sebab utama selamat dari ancaman hadits ini.
Kesimpulan Praktis
- Berusahalah menjadi orang saleh: dengan istiqamah dalam iman, ibadah, dan akhlak mulia.
- Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena kebaikan itulah yang menyelamatkan dari kehinaan di akhir zaman.
- Bersegera taubat dan memperbaiki diri karena orang shalih akan wafat bertahap—kita tidak tahu apakah kita termasuk di antara mereka atau justru sisa yang hina.
- Doa dan tawakkal: mintalah kepada Allah agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang saleh dan tidak termasuk dalam "حُفَالَة" yang tidak dipedulikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.