Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengingatkan bahwa seiring bertambahnya usia, kecintaan manusia terhadap harta dan keinginan untuk hidup lebih lama justru semakin menguat, bukan berkurang. Ini adalah ujian bagi manusia agar tidak tenggelam dalam cinta dunia dan lupa akan akhirat. Para ulama menekankan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk selalu muhasabah (introspeksi) dan memprioritaskan bekal untuk kehidupan setelah mati.
---
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits:
Shahih Al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, Bab Barangsiapa yang Mencapai Usia Enam Puluh Tahun, Maka Allah Telah Memberi Maaf Kepadanya dalam Hal Umur, no. 6421.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
> يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ: حُبُّ الْمَالِ، وَطُولُ الْعُمُرِ
> "Anak Adam menjadi tua, dan dua perkara ikut menjadi tua bersamanya: cinta harta dan (harapan) panjang umur."
Ayat terkait (sebagai penguat):
QS. At-Takatsur [102]: 1–2
> أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)
> "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur."
Penjelasan ulama dalam daftar:
- Qatadah (perawi dari Anas) menafsirkan bahwa manusia tidak pernah merasa puas dengan harta dan umur, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (11/394).
- Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini adalah sindiran halus agar manusia menyadari bahwa usia tua seharusnya membawa kematangan iman, bukan justru bertambah cinta dunia (Fath al-Bari, 11/394).
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (2/367) mengatakan bahwa cinta harta dan panjang umur adalah dua tabiat buruk yang melekat pada manusia, dan tidak akan hilang kecuali dengan keimanan yang kuat dan persiapan menghadapi kematian.
---
Penjelasan Rinci
Hadits ini sangat dalam maknanya. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa manusia ketika masih muda mungkin masih mudah diatur, namun begitu usia senja, dua hal ini justru menguat:
- Cinta harta (ḥubb al-māl).
Manusia semakin tua justru semakin khawatir miskin, semakin rakus mengumpulkan harta, dan sulit berbagi. Padahal seharusnya semakin dekat ajal semakin banyak bersedekah dan meninggalkan ketamakan. Imam Al-Bukhari sendiri meletakkan hadits ini dalam bab ar-Riqaq (pelembut hati) sebagai peringatan agar tidak tertipu oleh dunia.
- Harapan panjang umur (ṭūl al-‘umr).
Semakin tua seseorang, ia cenderung merasa masih akan hidup lama, sehingga menunda taubat dan amal saleh. Padahal tidak ada jaminan usia.
Ulama dari kalangan salaf menjelaskan:
- Al-Hasan al-Bashri (tabi’in) berkata, "Anak Adam tidak akan tua (secara hakiki) jika ia sadar bahwa usianya terus berkurang, tetapi setan membuatnya lupa sehingga cinta dunia tetap membara." (Disebut oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum).
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah berkata, "Siapa yang panjang umurnya sementara imannya tidak bertambah, maka ia telah rugi. Karena usia adalah modal yang akan dimintai pertanggungjawaban." (Madarij as-Salikin, 1/209).
Peringatan bagi yang sudah berusia 60 tahun ke atas:
Dalam bab yang sama, Imam Bukhari meriwayatkan hadits bahwa Allah memberi maaf (tidak akan menyiksa) orang yang telah mencapai usia 60 tahun, karena itu adalah batas usia yang cukup untuk bertaubat dan beramal. Namun maaf ini bukan berarti kewajiban gugur, melainkan sebagai rahmat agar ia segera kembali kepada Allah.
---
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu saat hendak wafat, beliau berkata kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha:
> "Wahai Aisyah, inilah hari-hari yang dulu kami takuti (kematian) sejak muda, namun justru kini kami merindukannya."
Beliau menunjukkan bahwa semakin tua seorang mukmin, seharusnya semakin rindu bertemu Allah, bukan semakin cinta dunia. Bandingkan dengan sifat yang disebut dalam hadits ini. Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat berusaha keras melawan keinginan panjang umur hanya untuk dunia, dan menjadikan sisa umur untuk akhirat.
---
Kesimpulan Praktis
- Muhasabah usia: Semakin tua, semakin sering evaluasi iman dan amal. Jangan biarkan cinta harta dan angan-angan panjang umur mendominasi hati.
- Prioritaskan bekal akhirat: Banyak bersedekah, banyak istigfar, dan perbanyak ibadah sunnah sebelum ajal tiba.
- Jauhi sifat tamak: Ingatlah bahwa harta tidak akan ikut ke kubur, sedangkan umur adalah anugerah yang harus diisi dengan ketaatan.
- Doa memohon husnul khatimah: Mintalah kepada Allah agar diberikan akhir hidup yang baik dan dijauhkan dari sifat rakus dunia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.