Penjelasan Hadits Bukhari No. 6416 tentang Hidup di dunia seperti orang asing atau pengembara

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita untuk hidup di dunia dengan kesadaran bahwa kita hanya sementara, seperti seorang musafir yang sedang dalam perjalanan pulang ke kampung halaman yang abadi, yaitu akhirat. Sikap ini akan membuat kita tidak terlalu terikat pada dunia, fokus mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati, dan memanfaatkan waktu serta kesehatan sebaik-baiknya sebelum semuanya hilang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq (yang melembutkan hati), Bab Qaulun Nabi ﷺ "Kun fid-dunya ka-annaka gharibun au 'abiru sabil", no. 6416. Dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Penjelasan Ulama:

  1. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari): Beliau menjelaskan bahwa makna gharib (orang asing) adalah orang yang tidak memiliki tempat tinggal tetap di suatu negeri, sehingga ia selalu merasa tidak betah dan ingin kembali ke kampung halamannya. Sedangkan 'abiru sabil (pengembara/orang yang lewat jalan) adalah orang yang sedang dalam perjalanan, yang tidak berhenti lama di suatu tempat. Keduanya mengisyaratkan bahwa dunia ini bukanlah tempat tinggal abadi, melainkan tempat persinggahan sementara.
  2. Imam Ibn Rajab al-Hanbali (dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam): Beliau berkata, "Barangsiapa yang mengetahui bahwa dunia ini adalah negeri perjalanan dan bukan negeri tempat tinggal, maka ia akan bersikap seperti seorang musafir yang selalu bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Ia tidak akan disibukkan oleh perhiasan dunia dan tidak akan bersedih atas kehilangannya."
  3. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (dalam Bahjah Qulub al-Abrar): Beliau menjelaskan bahwa hadits ini adalah obat bagi hati yang cinta dunia. Seorang mukmin hendaknya memandang dunia sebagai tempat singgah sementara untuk mengambil bekal menuju negeri yang kekal. Sikap ini akan melahirkan sifat zuhud (tidak rakus pada dunia), qana'ah (menerima apa adanya), dan semangat dalam beramal shalih.

Penjelasan Rinci

Hadits yang mulia ini merupakan nasihat agung dari Nabi ﷺ kepada sahabatnya, Abdullah bin Umar, dan kepada seluruh umatnya. Beliau memegang bahu Ibnu Umar sebagai isyarat perhatian penuh terhadap nasihat ini.

Makna "Orang Asing" dan "Pengembara"

Nabi ﷺ memberikan dua perumpamaan. Pertama, seperti orang asing (gharib). Orang asing di suatu negeri biasanya tidak memiliki banyak ikatan, harta, atau ambisi yang besar di negeri itu. Ia hanya ingin menyelesaikan urusannya lalu kembali ke negerinya. Kedua, seperti pengembara ('abiru sabil). Ini lebih kuat lagi. Seorang pengembara tidak memiliki tempat tinggal sama sekali. Ia hanya berjalan, beristirahat sejenak di bawah pohon atau di pinggir jalan, lalu melanjutkan perjalanan. Ia tidak akan sibuk membangun istana di tengah jalan, karena ia tahu itu bukan tujuannya.

Praktik Sahabat: Wasiat Ibnu Umar

Perkataan Ibnu Umar yang diriwayatkan dalam hadits ini adalah penjelasan praktis dari nasihat Nabi ﷺ:

  1. "Jika kamu sudah malam, janganlah kamu menunggu pagi, dan jika kamu sudah pagi, janganlah kamu menunggu malam." Ini adalah perintah untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan. Jangan katakan "nanti" atau "besok", karena kita tidak tahu apakah besok masih punya kesempatan. Ini adalah kesadaran penuh akan singkatnya waktu.
  2. "Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu, dan dari hidupmu untuk matimu." Ini adalah perintah untuk memanfaatkan masa sehat dan masa hidup sebelum datangnya masa sakit dan kematian. Saat sehat, kita bisa beribadah dengan mudah. Saat sakit, ibadah menjadi berat. Maka, perbanyaklah amal di waktu sehat. Begitu pula, kehidupan di dunia adalah ladang untuk menuai hasil di akhirat. Amal shalih yang kita lakukan sekarang adalah bekal yang akan kita nikmati setelah mati.

Pandangan Ulama Salaf

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Seorang mukmin itu seperti seorang musafir yang sedang dalam perjalanan. Ia tidak akan merasa tenang hingga sampai di tempat tujuannya, yaitu surga." Beliau juga sering berkata, "Dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Maka, bagaimana mungkin seorang tahanan merasa betah di penjaranya?"

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, "Jadilah di dunia ini seperti lebah. Ia makan dari yang baik, menghasilkan yang baik, dan jika ia hinggap di sesuatu, ia tidak merusaknya." Ini adalah gambaran seorang mukmin yang mengambil manfaat dunia seperlunya tanpa merusak akhiratnya.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa suatu hari ia melewati pasar Madinah. Ia berhenti sejenak dan berkata, "Wahai penduduk pasar, kalianlah yang paling berhak atas sesuatu yang tidak aku lihat ada pada kalian." Mereka bertanya, "Apa itu, wahai Abu Hurairah?" Beliau menjawab, "Warisan Nabi ﷺ yang sedang dibagi-bagi di masjid, dan kalian sibuk di sini. Pergilah, ambillah bagian kalian!" Maka mereka pun pergi ke masjid, tetapi mereka tidak melihat apa-apa selain orang-orang yang sedang berdzikir dan belajar Al-Qur'an. Mereka kembali kepada Abu Hurairah dan berkata, "Kami tidak melihat apa-apa yang dibagi." Abu Hurairah berkata, "Itulah warisan Nabi ﷺ. Warisan beliau bukanlah emas dan perak, melainkan ilmu dan amal shalih. Kalian sibuk dengan dunia yang fana, sementara warisan yang abadi ada di masjid."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat memahami bahwa dunia hanyalah kesibukan sementara, dan mereka sangat bersemangat mengejar bekal akhirat yang merupakan "warisan" sejati dari Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Tanamkan dalam hati bahwa dunia ini bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan menuju akhirat. Jangan terlalu larut dalam kesenangan atau kesedihan duniawi.
  2. Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Jangan menunda shalat, taubat, sedekah, atau amal kebaikan lainnya. Anggap setiap hari adalah kesempatan terakhir.
  3. Jaga kesehatan dan masa muda untuk beribadah. Gunakan kekuatan dan vitalitas untuk ketaatan, bukan untuk maksiat.
  4. Kurangi ambisi duniawi yang berlebihan. Cukupkan diri dengan apa yang halal dan jangan sampai sibuk mengumpulkan harta sehingga lupa pada kewajiban kepada Allah.
  5. Perbanyak mengingat kematian. Ingatlah bahwa setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Kesadaran ini akan membuat kita lebih siap dan tidak lengah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?