Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ mengirim surat dakwah kepada pembesar Bahrain untuk diteruskan kepada Kisra (Raja Persia). Ketika Kisra membaca surat tersebut, ia merobeknya dengan kasar sebagai bentuk penghinaan. Melihat hal itu, Nabi ﷺ mendoakan agar Kisra dan kerajaannya dihancurkan oleh Allah, dan doa tersebut terkabul—kerajaan Persia akhirnya runtuh. Hadits ini mengajarkan kita tentang pentingnya berdakwah kepada penguasa, adab menghormati surat dakwah, dan kekuatan doa Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ilmu, Bab: "Apa yang Dikatakan tentang Penyerahan dan Surat dari Ahli Ilmu ke Negara-Negara" (no. 64). Teks haditsnya sebagaimana yang Anda cantumkan.
Kaitan dengan ulama dalam daftar:
- Ibnu Syihab Az-Zuhri adalah salah satu perawi dalam sanad hadits ini. Beliau adalah ulama besar tabi'in yang sangat luas ilmunya tentang sirah dan hadits.
- Sa'id bin Al-Musayyib disebut dalam matan hadits (sebagai orang yang meriwayatkan doa Nabi ﷺ). Beliau adalah ulama tabi'in terkemuka di Madinah.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan hadits ini secara panjang lebar dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, termasuk membahas siapa utusan Nabi ﷺ tersebut dan kronologi peristiwa ini.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman tentang sikap orang-orang kafir terhadap dakwah:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia." (QS. Al-Ma'idah [5]: 67)
Ayat ini menunjukkan perintah Allah kepada Nabi ﷺ untuk menyampaikan risalah dakwah, termasuk kepada para penguasa dan raja-raja di luar Arab.
Penjelasan Rinci
1. Konteks Sejarah Surat Nabi ﷺ kepada Kisra
Para ulama menjelaskan bahwa setelah Perjanjian Hudaibiyah (tahun 6 H), Nabi ﷺ mengirim surat dakwah kepada beberapa raja dan penguasa di sekitarnya, di antaranya:
- Kisra (raja Persia)
- Heraklius (Kaisar Romawi)
- Al-Muqawqis (penguasa Mesir)
- An-Najasyi (raja Habasyah)
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengirim surat melalui seorang utusan kepada Al-Mundzir bin Sawa, Gubernur Bahrain yang berada di bawah kekuasaan Persia. Gubernur Bahrain kemudian meneruskan surat tersebut kepada Kisra.
2. Sikap Kisra yang Merobek Surat
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ketika Kisra membaca surat Nabi ﷺ yang diawali dengan "Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra Agung Persia", ia marah besar dan merobek surat tersebut sebagai bentuk penolakan dan penghinaan.
3. Doa Nabi ﷺ dan Pengabulannya
Sa'id bin Al-Musayyib meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berdoa: "Ya Allah, robek-robeklah kerajaan mereka (Kisra dan pengikutnya) sebagaimana ia merobek suratku."
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa doa ini terkabul. Tidak lama setelah itu, kerajaan Persia mengalami kekacauan internal, dan akhirnya runtuh di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Putra Kisra (Syarwaih) bahkan membunuh ayahnya sendiri, lalu kerajaan Persia semakin melemah hingga ditaklukkan kaum muslimin.
4. Pelajaran dari Hadits Ini
- Bolehnya menulis surat dakwah kepada penguasa: Ini adalah metode dakwah yang dicontohkan Nabi ﷺ. Para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa menyampaikan ilmu dan dakwah bisa dilakukan melalui tulisan dan surat-menyurat, bahkan kepada penguasa non-muslim.
- Adab menghormati surat dakwah: Kisra merobek surat Nabi ﷺ karena kesombongan. Sikap ini sangat tercela. Sebaliknya, Heraklius dan An-Najasyi memperlakukan surat Nabi ﷺ dengan hormat meskipun tidak langsung masuk Islam.
- Kekuatan doa Nabi ﷺ: Doa beliau pasti dikabulkan oleh Allah. Ini menunjukkan kedudukan mulia Nabi ﷺ di sisi Allah.
- Kesombongan akan membawa kehancuran: Kisra merasa dirinya lebih besar dari Nabi ﷺ, tetapi justru kehancuran yang ia dapatkan. Ini sejalan dengan firman Allah:
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina." (QS. Ghafir [40]: 60)
5. Catatan Penting tentang Perawi
Dalam sanad hadits ini, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari gurunya Isma'il bin Abdullah (Ibnu Uwais), dari Ibrahim bin Sa'd, dari Shalih bin Kaisan, dari Ibnu Syihab Az-Zuhri, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud, dari Ibnu Abbas. Semua perawi dalam sanad ini adalah perawi yang tsiqah (terpercaya) menurut para ulama hadits.
Story Telling
Ada kisah menarik yang diriwayatkan oleh para ulama tentang surat Nabi ﷺ kepada Kisra. Ketika Kisra merobek surat tersebut, utusan Nabi ﷺ kembali ke Madinah dan melaporkan kejadian itu. Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya apabila mereka (Kisra) merobek suratku, maka Allah akan merobek kerajaan mereka."
Tidak lama kemudian, Allah mengabulkan doa tersebut. Kisra (Khosrow II) dibunuh oleh putranya sendiri, Syiruyah (Kavad II), dalam kudeta istana. Kerajaan Persia mulai terpecah-belah dan melemah. Hingga akhirnya, di masa Khalifah Umar bin Khaththab, pasukan muslimin di bawah pimpinan Sa'd bin Abi Waqqash mengalahkan Persia dalam Pertempuran Qadisiyyah (tahun 16 H), dan kemudian berlanjut hingga runtuhnya kekaisaran Persia.
Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Sungguh Allah menghinakan Kisra dan kerajaannya karena ia menghina surat Rasulullah ﷺ. Maka janganlah sekali-kali seorang muslim meremehkan urusan dakwah, karena Allah akan menolong hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya."
Kesimpulan Praktis
- Dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk melalui surat dan tulisan kepada penguasa atau tokoh masyarakat.
- Jangan meremehkan orang yang menyampaikan kebenaran, karena bisa jadi Allah akan menghinakan kita sebagaimana Kisra dihinakan karena merobek surat Nabi ﷺ.
- Doa adalah senjata orang mukmin, terutama doa untuk kehancuran kezaliman dan kemenangan kebenaran.
- Kesombongan adalah pangkal kehancuran, sebagaimana Kisra yang sombong akhirnya binasa.
- Sebagai penuntut ilmu, kita harus menghormati guru, ulama, dan orang yang menyampaikan ilmu kepada kita, karena menghina mereka berarti menghina ilmu itu sendiri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.