Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan momen-momen terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ. Beliau mengajarkan bahwa setiap nabi akan diperlihatkan tempatnya di surga, lalu diberikan pilihan antara tetap hidup di dunia atau berpindah kepada Allah ﷻ. Ketika ajal tiba, Rasulullah ﷺ memilih "Ar-Rafiq Al-A'la" (Teman yang Tertinggi), yaitu Allah ﷻ dan para nabi serta orang-orang saleh di surga. Ini menunjukkan kemuliaan akhlak beliau, kerinduan kepada Allah, dan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi orang beriman, melainkan pertemuan dengan Kekasihnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ad-Da'awat (Doa-Doa), Bab "Doa Nabi ﷺ: Ya Allah, Teman yang Tertinggi", no. 6348, dari sahabat Aisyah radhiyallahu 'anha.
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
"Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa' [4]: 69)
Ayat ini menjelaskan makna "Ar-Rafiq Al-A'la" yang diucapkan Rasulullah ﷺ—yaitu bergabung dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh di surga. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya bahwa mereka akan ditempatkan bersama para kekasih Allah yang paling mulia, dan itu adalah keutamaan yang besar.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
Pertama: Kedudukan para Nabi dan pilihan yang diberikan kepada mereka
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa para nabi diperlihatkan tempat tinggal mereka di surga terlebih dahulu, kemudian mereka diberi pilihan antara tetap hidup di dunia atau berpindah ke akhirat. Ini adalah bentuk kemuliaan dan penghormatan Allah kepada para nabi-Nya—mereka tidak diwafatkan kecuali setelah mengetahui dengan yakin kenikmatan yang menanti mereka.
Kedua: Makna "Ar-Rafiq Al-A'la"
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "Ar-Rafiq Al-A'la" adalah Allah ﷻ, atau para nabi dan malaikat yang berada di tempat tertinggi. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa Rasulullah ﷺ memilih untuk bergabung dengan kekasihnya yang tertinggi, bukan karena bosan dengan dunia, tetapi karena kerinduan kepada Allah dan pertemuan dengan-Nya.
Ketiga: Pemahaman Aisyah radhiyallahu 'anha
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Jika demikian, beliau tidak memilih kita." Ini menunjukkan kecerdasan dan pemahaman beliau yang mendalam. Beliau langsung memahami bahwa ucapan "Ar-Rafiq Al-A'la" adalah pilihan Rasulullah ﷺ untuk berpindah ke akhirat, sebagaimana yang pernah beliau sampaikan sebelumnya bahwa setiap nabi akan diberi pilihan.
Keempat: Pelajaran tentang kematian dan persiapan menghadapinya
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Ad-Da'u wad-Dawa' menjelaskan bahwa orang beriman tidak takut kepada kematian itu sendiri, tetapi yang ia takutkan adalah jika ia belum siap menghadap Allah. Adapun orang yang saleh, kematian adalah pintu menuju pertemuan dengan Kekasihnya. Karena itulah Rasulullah ﷺ memilih "Ar-Rafiq Al-A'la" dengan penuh ketenangan dan kerinduan.
Kelima: Akhlak mulia Rasulullah ﷺ di saat sakit
Meskipun sedang sakit keras, Rasulullah ﷺ tetap mengajarkan umatnya—bahkan ucapan terakhir beliau adalah doa dan pilihan untuk bertemu Allah. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin hendaknya selalu menjaga lisan dan hatinya, bahkan di saat-saat terakhir kehidupannya.
Story Telling
Ada kisah yang menyentuh tentang bagaimana Aisyah radhiyallahu 'anha menggambarkan saat-saat terakhir Rasulullah ﷺ. Beliau berkata:
"Ketika Rasulullah ﷺ sakit yang menyebabkan beliau wafat, beliau bersandar di dadaku. Aku mendengar beliau mengucapkan: 'Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan pertemukan aku dengan Ar-Rafiq Al-A'la.'"
Aisyah juga menceritakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda ketika sehat: "Tidaklah seorang nabi diwafatkan kecuali setelah diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga, kemudian dia diberi pilihan."
Ketika Rasulullah ﷺ mengucapkan "Ar-Rafiq Al-A'la" di saat-saat terakhirnya, Aisyah berkata: "Demi Allah, aku tahu saat itu beliau sedang memilih, dan aku pun berkata: 'Beliau tidak memilih kita.'" Lalu Aisyah menguatkan hatinya dan berkata: "Demi Allah, aku tidak cemburu kepada siapa pun atas diri Rasulullah ﷺ sebagaimana aku cemburu kepadanya ketika beliau wafat, karena beliau tidak memilih kita."
Kisah ini menunjukkan betapa dalamnya cinta Aisyah kepada Rasulullah ﷺ, namun ia rela dan ikhlas karena tahu bahwa pilihan beliau adalah yang terbaik di sisi Allah.
Kesimpulan Praktis
- Rindukan pertemuan dengan Allah—kematian bagi orang beriman adalah pintu menuju pertemuan dengan Kekasihnya, bukan sesuatu yang menakutkan.
- Jaga lisan di setiap keadaan—Rasulullah ﷺ mengajarkan kita bahwa ucapan terakhir seorang mukmin hendaknya adalah kalimat yang baik, seperti doa dan dzikir.
- Persiapkan diri menghadapi kematian—perbanyak amal saleh dan perbaiki hubungan dengan Allah sebelum ajal menjemput.
- Teladani kecintaan Aisyah dan para sahabat—mereka rela berkorban demi Rasulullah ﷺ dan menerima ketentuan Allah dengan ikhlas.
- Berdoa agar husnul khatimah—memohon kepada Allah agar akhir hidup kita diakhiri dengan kalimat yang baik dan iman yang teguh.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.