Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi tiga nasihat penting dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: pertama, batasi pengajian agar tidak membuat bosan; kedua, jangan memotong pembicaraan orang lain untuk berceramah; ketiga, hindari doa yang dibuat bersajak dan berima secara berlebihan. Ini semua mengajarkan adab dalam menyampaikan ilmu dan berdoa sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari
Teks Arab hadits (sebagian yang relevan):
فَانْظُرِ السَّجْعَ مِنَ الدُّعَاءِ فَاجْتَنِبْهُ، فَإِنِّي عَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَأَصْحَابَهُ لَا يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ
Terjemahan: “Dan perhatikanlah sajak (prosa berima) dalam doa, maka jauhilah ia. Sesungguhnya aku mengetahui Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya tidak melakukan kecuali itu.” (HR. Bukhari no. 6337)
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (11/149) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan saj’ dalam doa adalah membuat doa dengan rima yang dipaksakan, seperti yang dilakukan para dukun dan penyair. Ini dilarang karena bisa mengurangi kekhusyukan dan menjauhkan dari adab berdoa yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar (hlm. 308) mengatakan bahwa doa yang baik adalah doa yang sederhana, tulus, dan tidak dibuat-buat. Beliau mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri bahwa doa yang paling utama adalah doa yang keluar dari hati yang khusyuk, bukan yang dihias dengan kata-kata.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (5/348) menegaskan bahwa larangan ini bukan berarti semua doa yang berima dilarang, tetapi yang dilarang adalah doa yang sengaja dibuat bersajak seperti syair, sehingga menghilangkan rasa rendah diri dan kebutuhan kepada Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang memberikan nasihat kepada seorang pendakwah. Ada tiga poin utama:
Pertama: Adab dalam menyampaikan ilmu
Ibnu Abbas menasihati agar pengajian tidak terlalu sering sehingga membuat orang bosan. Ini sesuai dengan petunjuk Nabi ﷺ dalam hadits lain: “Mudahkanlah, jangan persulit; berilah kabar gembira, jangan membuat lari.” (HR. Bukhari). Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Malik sangat menekankan agar ilmu disampaikan dengan hikmah dan tidak memberatkan pendengar.
Kedua: Adab terhadap orang lain
Jangan memotong pembicaraan orang untuk berceramah. Ini menunjukkan akhlak mulia dalam bergaul. Al-Hasan al-Bashri berkata, “Orang beriman itu diamnya adalah pemikiran, bicaranya adalah dzikir, dan pandangannya adalah pelajaran.” Maka, seorang penuntut ilmu harus peka terhadap situasi.
Ketiga: Larangan doa bersajak (saj’ dalam doa)
Yang dimaksud saj’ di sini adalah doa yang dibuat dengan rima dan irama yang dipaksakan, seperti syair. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Jawab al-Kafi (hlm. 145) menjelaskan bahwa doa yang baik adalah doa yang keluar dari hati yang hancur, penuh kebutuhan, dan tidak dibuat-buat. Beliau mencontohkan doa-doa Nabi ﷺ yang sederhana namun penuh makna.
Imam Asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak suka seseorang berdoa dengan doa yang dibuat-buat. Cukuplah baginya doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ.” (Diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi dalam Sunan al-Kubra).
Namun, perlu dibedakan antara saj’ yang dilarang dan saj’ yang alami. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (22/519) menjelaskan bahwa jika rima itu muncul secara alami tanpa dipaksakan, maka tidak mengapa. Yang dilarang adalah memaksakan diri membuat doa bersajak seperti seorang penyair.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Sa’id bin al-Musayyib – seorang tabi’in besar – pernah ditanya tentang doa yang panjang dan bersajak. Beliau menjawab, “Cukuplah bagimu doa Nabi ﷺ: Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar.” (HR. Ahmad). Beliau mengajarkan bahwa doa yang paling utama adalah doa yang singkat namun mencakup kebaikan dunia dan akhirat.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kesederhanaan dalam berdoa lebih utama daripada memperindah kata-kata. Sebagaimana Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Doa itu adalah intisari ibadah, dan intisari doa adalah keikhlasan dan kerendahan hati.”
Kesimpulan Praktis
- Dalam berdakwah dan mengajar: Jangan terlalu sering sehingga membuat bosan. Sesuaikan dengan kondisi pendengar.
- Dalam bergaul: Hormati pembicaraan orang lain. Jangan memotong untuk menyampaikan ilmu kecuali diminta atau ada keperluan.
- Dalam berdoa: Hindari doa yang dibuat bersajak dan berima secara berlebihan. Gunakan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ atau doa yang keluar dari hati dengan tulus dan sederhana.
- Utamakan adab dan keikhlasan dalam setiap amalan, karena itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.