Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits yang sangat agung dan sarat pelajaran. Intinya, hadits ini menggambarkan tata cara shalat malam (qiyamul lail) dan doa yang dipanjatkan Nabi ﷺ setelah bangun tidur di malam hari. Doa ini berisi permohonan agar Allah ﷻ memberikan cahaya (nur) kepada seluruh anggota tubuh dan segala arah, sebagai bentuk permohonan agar seluruh kehidupan seorang hamba dipenuhi dengan petunjuk dan kebaikan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Doa, Bab Doa Ketika Terbangun di Malam Hari, nomor 6316, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
> يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِيْمَانِهِمْ ۖ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ
> Yahdīhim rabbuhum bi'īmānihim, tajrī min taḥtihimul-anhāru fī jannātin-na'īm
> "Tuhan mereka memberi petunjuk kepada mereka dengan iman mereka. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan." (QS. Yunus [10]: 9)
Ayat ini menunjukkan bahwa iman adalah sumber petunjuk dan cahaya bagi seorang hamba, sebagaimana doa Nabi ﷺ yang memohon cahaya dalam segala hal.
Hadits terkait:
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 763) dari jalur lain, dengan lafaz yang lebih lengkap mengenai doa cahaya.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (11/118) menjelaskan secara panjang lebar tentang hadits ini, termasuk faedah-faedah fiqih dan adab yang terkandung di dalamnya. Beliau menyebutkan bahwa doa ini menunjukkan keagungan permohonan Nabi ﷺ agar seluruh aspek kehidupan beliau dipenuhi cahaya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung banyak pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Tentang Shalat Malam dan Wudhu
- Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa beliau tidur di rumah bibinya, Maimunah radhiyallahu 'anha, untuk mengamati bagaimana Nabi ﷺ shalat malam. Ini menunjukkan semangat para sahabat dalam menuntut ilmu dan mempelajari ibadah Nabi ﷺ secara langsung.
- Nabi ﷺ bangun, menunaikan hajat, mencuci wajah dan tangan, lalu tidur kembali. Kemudian beliau bangun lagi dan berwudhu dengan sempurna namun tidak berlebihan dalam menggunakan air. Ini menunjukkan bahwa wudhu yang baik tidak harus menggunakan air yang banyak, tetapi harus merata dan sempurna.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ungkapan "wudhu'an baina wudhu'ain" (wudhu di antara dua wudhu) maknanya adalah wudhu yang tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, namun sempurna.
2. Tentang Posisi Makmum
- Ketika Ibnu Abbas berdiri di sebelah kiri Nabi ﷺ, beliau memegang telinganya dan memindahkannya ke sebelah kanan. Ini menunjukkan bahwa jika makmum hanya satu orang, maka posisinya adalah di sebelah kanan imam, bukan di sebelah kiri. Ini adalah pendapat jumhur ulama berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lainnya.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (4/188) menjelaskan bahwa memegang telinga di sini adalah bentuk kasih sayang dan pengajaran, bukan hukuman.
3. Tentang Doa Cahaya
- Doa ini adalah doa yang sangat agung. Nabi ﷺ memohon agar Allah memberikan cahaya dalam hati, penglihatan, pendengaran, dari arah kanan, kiri, atas, bawah, depan, dan belakang. Ini menunjukkan bahwa seorang hamba membutuhkan cahaya (petunjuk) dari segala arah dan dalam seluruh aspek kehidupannya.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa cahaya yang dimaksud adalah cahaya iman, ilmu, dan petunjuk. Cahaya ini akan menerangi hati seorang hamba sehingga ia mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, serta mampu berjalan di atas jalan yang lurus.
- Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa doa ini menunjukkan betapa pentingnya memohon petunjuk dan cahaya dari Allah dalam setiap keadaan, karena tanpa cahaya dari Allah, seorang hamba akan tersesat dalam kegelapan.
4. Tentang Tidurnya Nabi ﷺ Setelah Shalat Malam
- Setelah shalat malam, Nabi ﷺ berbaring dan tidur hingga Bilal datang memberitahukan waktu shalat Subuh. Kemudian beliau shalat Subuh tanpa berwudhu baru. Ini menunjukkan bahwa tidur yang ringan (tidak nyenyak) tidak membatalkan wudhu menurut pendapat yang kuat di kalangan ulama. Namun, jika tidurnya nyenyak hingga hilang kesadaran, maka wudhunya batal.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa tidurnya Nabi ﷺ di sini adalah tidur ringan yang tidak membatalkan wudhu, karena mata beliau tidur tetapi hatinya tidak tidur, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang semangat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam menuntut ilmu. Beliau adalah sepupu Nabi ﷺ yang masih muda. Suatu malam, beliau sengaja tidur di rumah bibinya, Maimunah, yang merupakan istri Nabi ﷺ, hanya untuk mengamati bagaimana Nabi ﷺ beribadah di malam hari. Beliau bersembunyi dan memperhatikan dengan seksama setiap gerakan Nabi ﷺ.
Ketika Nabi ﷺ bangun dan hendak shalat, Ibnu Abbas berdiri di samping beliau. Nabi ﷺ kemudian memegang telinganya dan memindahkannya ke sebelah kanan. Ini adalah momen yang sangat berharga bagi Ibnu Abbas, karena beliau mendapatkan pengajaran langsung dari Nabi ﷺ tentang tata cara shalat berjamaah.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa menuntut ilmu itu membutuhkan pengorbanan dan kesungguhan. Ibnu Abbas rela meninggalkan kenyamanan tidurnya untuk belajar dari Nabi ﷺ. Dan hasilnya, beliau menjadi salah satu ulama terbesar di kalangan sahabat yang dijuluki Hibrul Ummah (tinta umat) dan Turjumanul Qur'an (penafsir Al-Qur'an).
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, sebagaimana Ibnu Abbas yang rela berkorban untuk belajar dari Nabi ﷺ.
- Menjaga kualitas wudhu tanpa berlebihan dalam menggunakan air.
- Memperhatikan adab shalat berjamaah, yaitu makmum yang hanya satu orang berdiri di sebelah kanan imam.
- Memperbanyak doa memohon cahaya dari Allah dalam segala aspek kehidupan, sebagaimana doa Nabi ﷺ.
- Menghidupkan malam dengan shalat, karena shalat malam adalah kebiasaan Nabi ﷺ dan para salafus shalih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.