Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua amalan yang sangat agung dalam Islam: memberi makan dan menebarkan salam kepada semua orang, baik yang kita kenal maupun tidak. Ini adalah tanda kebaikan Islam seseorang dan merupakan sarana untuk menyebarkan cinta dan persaudaraan di antara sesama muslim.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dengan sanadnya. Berikut kami tuliskan kembali dengan harakat untuk memudahkan pembaca:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ، عَنْ أَبِي الْخَيْرِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَجُلاً، سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ " تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ ".
Terjemahan: Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang pria bertanya kepada Nabi ﷺ, "Islam yang mana yang terbaik?" Nabi menjawab, "Memberi makan (kepada orang), dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal." (HR. Al-Bukhari, no. 6236)
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
"Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya) yang itu adalah doa yang baik dari sisi Allah, yang diberkati dan baik." (QS. An-Nur [24]: 61)
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka, di antaranya:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari menjelaskan makna hadits ini secara panjang lebar.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga membahas hadits ini dengan sanad yang serupa.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin memberikan penjelasan yang sangat bermanfaat tentang adab salam ini.
Penjelasan Rinci
Pertama: Makna "Islam yang mana yang terbaik?"
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "khair" (terbaik) di sini adalah amalan yang paling utama dan paling dicintai Allah. Ini adalah pertanyaan tentang amalan yang paling afdhal dalam Islam.
Kedua: "Memberi makan" (تُطْعِمُ الطَّعَامَ)
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa memberi makan di sini bersifat umum, mencakup memberi makan orang miskin, orang yang membutuhkan, tamu, dan juga keluarga. Ini adalah amalan yang sangat dicintai Allah karena menunjukkan kepedulian sosial dan kasih sayang kepada sesama.
Syaikh al-Utsaimin menambahkan bahwa memberi makan bisa berupa makanan yang dimasak, atau bahan makanan pokok seperti beras dan gandum. Yang terpenting adalah niat ikhlas karena Allah dan membantu saudara sesama muslim.
Ketiga: "Mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan tidak dikenal"
Ini adalah poin yang sangat penting. Para ulama menjelaskan bahwa mengucapkan salam kepada orang yang tidak kita kenal adalah tanda ketulusan dan keikhlasan dalam beramal. Karena jika kita hanya memberi salam kepada orang yang kita kenal, bisa jadi itu hanya karena basa-basi atau kepentingan tertentu.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya memulai salam kepada siapa saja, baik yang dikenal maupun tidak. Ini adalah syiar Islam yang agung dan sarana untuk menumbuhkan rasa cinta di antara sesama muslim.
Keempat: Hikmah di Balik Perintah Ini
- Menumbuhkan persaudaraan - Salam adalah doa keselamatan. Dengan mengucapkannya, kita mendoakan kebaikan untuk saudara kita.
- Menghilangkan kecurigaan - Ketika kita memberi salam kepada orang yang tidak dikenal, ini menunjukkan bahwa kita tidak memiliki rasa takut atau curiga terhadapnya, dan ini bisa menjadi pembuka komunikasi yang baik.
- Menunjukkan kerendahan hati - Memberi salam terlebih dahulu adalah tanda tawadhu' (rendah hati), bukan tanda kelemahan.
- Menyebarkan kedamaian - Salam adalah simbol perdamaian dan keselamatan. Semakin banyak salam yang diucapkan, semakin damai suasana masyarakat.
Kelima: Perbedaan Pendapat Ulama tentang Hukum Salam
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memulai salam:
- Pendapat Jumhur (mayoritas ulama): Hukumnya sunnah, bukan wajib. Ini adalah pendapat Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan mayoritas ulama.
- Pendapat sebagian ulama: Ada yang berpendapat wajib berdasarkan keumuman perintah dalam hadits ini, namun pendapat ini dianggap lemah.
Yang lebih kuat adalah pendapat jumhur bahwa memulai salam hukumnya sunnah, namun sangat dianjurkan. Adapun menjawab salam hukumnya wajib berdasarkan firman Allah dalam QS. An-Nisa' [4]: 86.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu, yang merupakan perawi hadits ini. Beliau adalah salah satu sahabat yang sangat bersemangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ.
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr sangat bersemangat dalam mengamalkan hadits ini. Beliau dikenal sebagai sahabat yang sering memberi salam kepada siapa saja yang ditemuinya, baik yang dikenal maupun tidak. Bahkan ketika beliau pergi ke pasar, beliau akan memberi salam kepada setiap orang yang ditemuinya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang beliau.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad bahwa Abdullah bin Amr pernah berkata: "Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah memberi makan dan memberi salam." Ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman beliau terhadap hadits ini dan semangat beliau dalam mengamalkannya.
Hikmah dari kisah ini: Para sahabat tidak hanya menghafal hadits, tetapi mereka benar-benar menghidupkan sunnah dalam keseharian mereka. Mereka memahami bahwa ilmu itu harus diamalkan, bukan hanya dihafal.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan memberi makan - Mulailah dari hal yang sederhana, seperti berbagi makanan dengan tetangga, teman kerja, atau orang yang membutuhkan. Ini adalah amalan yang sangat dicintai Allah.
- Perbanyak mengucapkan salam - Ucapkan "Assalamu'alaikum" kepada siapa saja yang kita temui, baik yang kita kenal maupun tidak. Ini adalah sunnah yang mudah namun sangat besar pahalanya.
- Niatkan karena Allah - Lakukan kedua amalan ini dengan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau dibalas.
- Mulai dari lingkungan terdekat - Biasakan memberi salam kepada keluarga, tetangga, dan rekan kerja terlebih dahulu, kemudian kembangkan kepada orang lain.
- Jadikan salam sebagai identitas - Jadikan ucapan salam sebagai kebiasaan yang membedakan kita sebagai seorang muslim, dan sebagai sarana untuk menyebarkan kedamaian.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.