Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan besarnya pahala adzan, berdiri di shaf pertama, bersegera shalat di awal waktu (tahjir), serta shalat Isya dan Subuh berjamaah. Rasulullah ﷺ menggambarkan bahwa seandainya manusia benar-benar mengetahui besarnya pahala tersebut, mereka akan saling berlomba dan bahkan rela mengundi untuk mendapatkannya. Ini menunjukkan bahwa amalan-amalan ini memiliki keutamaan besar yang sering dilupakan manusia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Adzan, Bab Mengundi dalam Adzan, nomor 615, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Malik bin Anas dari Sumayyi (mantan budak Abu Bakr) dari Abu Shalih.
Teks hadits:
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
Terjemahan: "Seandainya manusia mengetahui pahala yang ada pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak menemukan cara lain selain mengundi, niscaya mereka akan mengundi. Seandainya mereka mengetahui pahala bersegera (di awal waktu), niscaya mereka akan berlomba. Seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan bersegera dalam kebaikan:
QS. Al-Baqarah [2]: 148
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Terjemahan: "Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."
QS. Al-Munafiqun [63]: 9
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."
Penjelasan Rinci
Pertama: Keutamaan Adzan dan Shaf Pertama
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa adzan memiliki keutamaan besar karena ia adalah seruan kepada shalat, syiar Islam yang paling tampak, dan mengandung tauhid serta pujian kepada Allah. Orang yang mengumandangkan adzan akan mendapat pahala sebesar pahala orang yang shalat bersamanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain yang shahih.
Adapun shaf pertama, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keutamaannya sangat besar karena ia paling dekat dengan imam, paling awal masuk shalat, dan paling cepat keluar dari shalat. Namun para ulama berbeda pendapat: apakah shaf pertama yang dimaksud adalah shaf pertama di belakang imam, ataukah shaf pertama yang paling depan secara umum. Pendapat yang paling kuat menurut jumhur ulama — dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar — adalah shaf yang paling dekat dengan imam, karena itulah yang secara zahir disebut "shaf pertama."
Kedua: Makna "Mengundi" (Istiham)
Kata "يَسْتَهِمُوا" berasal dari "sahm" yang berarti undian. Imam Al-Bukhari sendiri memasukkan hadits ini dalam bab "Al-Istiham 'ala Al-Adzan" (mengundi untuk adzan), menunjukkan bahwa jika terjadi perselisihan siapa yang berhak adzan atau mendapat shaf pertama, maka boleh dilakukan undian. Ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan amalan tersebut sampai-sampai para sahabat rela mengundi untuk mendapatkannya.
Ketiga: Makna "Tahjir"
Kata "التَّهْجِير" menurut Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar berarti bersegera menuju shalat pada awal waktu, khususnya shalat Zuhur. Sebagian ulama seperti Qatadah menafsirkan bahwa tahjir adalah berangkat shalat ketika matahari telah tergelincir (masuk waktu Zuhur). Maknanya: bersegera dan tidak menunda-nunda shalat di awal waktu.
Keempat: Shalat Isya dan Subuh
Rasulullah ﷺ menyebut secara khusus shalat Isya (العَتَمَة) dan Subuh karena keduanya adalah shalat yang paling berat bagi orang munafik, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain yang shahih. Waktu Isya adalah waktu istirahat, dan waktu Subuh adalah waktu tidur. Maka siapa yang menjaga keduanya berjamaah, itu menjadi tanda keimanan yang kuat. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari-nya menjelaskan bahwa beratnya kedua shalat ini menjadikan pahalanya lebih besar dan menjadi pembeda antara orang mukmin sejati dengan orang munafik.
Kelima: "Meskipun dengan Merangkak"
Ungkapan "وَلَوْ حَبْوًا" menunjukkan betapa besar pahala shalat Isya dan Subuh berjamaah, sampai-sampai seandainya seseorang tidak mampu berjalan, ia akan tetap datang dengan merangkak. Ini adalah gaya bahasa hiperbolik (mubalaghah) untuk menunjukkan besarnya keutamaan, bukan perintah literal untuk merangkak.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa para sahabat Nabi ﷺ sangat bersemangat dalam amalan-amalan ini. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah berkata tentang Abu Bakr: "Seandainya adzan itu bisa diperjualbelikan, niscaya Abu Bakr akan membelinya." Ini menunjukkan betapa para sahabat memahami besarnya pahala adzan.
Dalam riwayat lain, ketika para sahabat berselisih tentang siapa yang paling berhak menjadi imam atau muadzin, mereka tidak saling berebut dengan cara yang tercela, tetapi mereka menerima undian sebagai jalan keluar yang adil. Ini mengajarkan adab: berlomba dalam kebaikan, tetapi tetap menjaga akhlak dan keadilan.
Kesimpulan Praktis
- Jagalah adzan — baik dengan mengumandangkannya sendiri jika memungkinkan, atau setidaknya menjawab adzan dengan penuh perhatian dan doa setelahnya.
- Berusahalah mendapat shaf pertama — datang lebih awal ke masjid, karena shaf pertama memiliki keutamaan besar.
- Bersegeralah shalat di awal waktu — jangan menunda shalat Zuhur hingga akhir waktu tanpa udzur.
- Jagalah shalat Isya dan Subuh berjamaah — meskipun berat, inilah tanda keimanan yang kuat dan pembeda dari kemunafikan.
- Berlomba dalam kebaikan, bukan dalam dunia — sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 148.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.