Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan kelembutan akhlak Nabi ﷺ terhadap keluarganya dan para pelayan, serta membolehkan syair atau ungkapan indah (metafora) selama tidak mengandung kebatilan. Nabi ﷺ menegur Anjasha—penuntun unta—dengan kalimat penuh kasih, bukan hardikan, agar ia memperlambat jalannya unta karena yang ditunggangi adalah para wanita (diibaratkan "bejana kaca" yang mudah pecah/terguncang). Ini juga menjadi dalil bahwa ungkapan kiasan yang baik termasuk adab yang dibolehkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adab, Bab Apa yang Diperbolehkan dari Puisi dan Rima serta yang Diharamkan (no. 6149), dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه, melalui jalur Abu Qilabah.
Terkait kaidah umum tentang ucapan yang baik dan lembut, Allah berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
QS. Al-Baqarah [2]: 83
"Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik."
Juga firman Allah:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
QS. Ali 'Imran [3]: 159
"Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu."
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini memuat bab tentang kebolehan syair/ungkapan kiasan yang tidak mengandung kebatilan, serta menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dan kasih sayangnya kepada keluarga. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa "bejana kaca" adalah kiasan bagi kelembutan dan kehati-hatian terhadap wanita, karena mudah terguncang dan tersakiti.
Penjelasan Rinci
Hadits ini terjadi dalam konteks perjalanan. Anjasha adalah seorang penuntun unta yang dikenal memiliki suara merdu dan sering melantunkan syair untuk memacu untanya. Ketika Nabi ﷺ mendengar ia terlalu cepat menggiring unta yang ditunggangi para wanita (istri-istri beliau dan Ummu Sulaim), beliau menegurnya dengan kalimat:
"وَيْحَكَ يَا أَنْجَشَةُ، رُوَيْدَكَ سَوْقًا بِالْقَوَارِيرِ"
"Celaka engkau (ungkapan kasih, bukan doa keburukan), wahai Anjasha! Perlahanlah dalam menggiring, karena (yang kau bawa) adalah bejana-bejana kaca."
Poin-poin penting menurut para ulama:
- Kelembutan Nabi ﷺ — Ibnu Hajar menyebutkan bahwa kata "ويحك" di sini bukanlah celaan, melainkan ungkapan yang biasa dipakai orang Arab untuk menegur dengan lembut. Nabi ﷺ tidak menghardik Anjasha, tetapi menasihatinya dengan penuh kasih.
- Kiasan (tasybih) yang dibolehkan — Nabi ﷺ mengibaratkan wanita sebagai "bejana kaca" (القوارير). Ibnu Hajar menjelaskan ini adalah kiasan yang indah: wanita itu lembut, mudah terguncang hatinya, dan mudah tersakiti, sebagaimana kaca yang mudah pecah. Maka harus diperlakukan dengan hati-hati.
- Kebolehan syair dan rima — Bab ini secara khusus membahas hal tersebut. Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab tentang apa yang dibolehkan dari syair. Artinya, syair atau ungkapan indah tidak dilarang selama tidak mengandung kebatilan, kedustaan, atau hal yang melampaui batas.
- Perkataan Abu Qilabah — "Seandainya salah satu dari kalian mengucapkannya, kalian pasti akan menegurnya" — maksudnya, kalimat Nabi ﷺ itu terdengar seperti ungkapan yang tidak biasa diucapkan orang awam, sehingga jika orang biasa mengucapkannya, mungkin akan dianggap aneh atau ditegur. Namun karena itu keluar dari Nabi ﷺ, maka itu adalah hikmah dan keindahan bahasa.
Perbedaan pendapat: Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama dalam daftar mengenai hadits ini. Semua sepakat bahwa ini menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dan kebolehan kiasan yang baik.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Anjasha adalah seorang penuntun unta yang suaranya indah. Dalam perjalanan bersama para wanita, ia melantunkan syair untuk memacu untanya. Ketika untanya berjalan terlalu cepat sehingga mengguncang para penunggangnya, Nabi ﷺ menegurnya dengan lembut:
"Perlahanlah, wahai Anjasha, karena yang kau bawa adalah bejana-bejana kaca."
Bayangkanlah: Nabi ﷺ tidak berkata "Berhenti!" atau "Kau bodoh!" — beliau memakai kiasan yang indah dan penuh kasih. Ini mengajarkan kita bahwa dalam menegur pun, ada adab dan keindahan. Anas bin Malik yang meriwayatkan hadits ini adalah pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, dan ia menyaksikan sendiri bagaimana Nabi ﷺ tidak pernah berkata kasar kepadanya. (Sumber: Shahih Al-Bukhari, dan penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)
Kesimpulan Praktis
- Berkatalah dengan lembut, terutama kepada keluarga dan orang yang lemah.
- Gunakan kiasan yang baik untuk menyampaikan nasihat, selama tidak mengandung kebatilan.
- Syair dan ungkapan indah dibolehkan selama tidak melampaui batas syariat.
- Tegurlah dengan kasih, bukan dengan hardikan yang melukai hati.
- Perlakukan wanita dengan kelembutan, karena mereka diciptakan dengan kelembutan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.