Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab menyambut tamu dan bahaya marah yang dipicu setan. Abu Bakr radhiyallahu 'anhu sempat marah kepada anaknya karena tamu belum makan, lalu beliau sadar bahwa kemarahan itu dari setan dan segera menahan diri sambil menyebut nama Allah. Pelajarannya: jagalah adab terhadap tamu, dan lawanlah marah dengan menyebut nama Allah serta menahan diri.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adab, Bab Apa yang Dilarang dari Kemarahan dan Kesedihan Saat Menyambut Tamu (no. 6140), dari Abdurrahman bin Abu Bakr radhiyallahu 'anhuma.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَا تَغْضَبْ»
Terjemah: "Jangan marah." (HR. Al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ»
Terjemah: "Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu." (HR. Abu Dawud, dari 'Atiyyah as-Sa'di; dinilai shahih oleh para ulama hadits)
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bab ini sebagai bimbingan adab dan pengendalian diri. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya banyak membahas obat marah. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam juga menguraikan hadits "Jangan marah" secara luas.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:
- Kemuliaan akhlak Abu Bakr radhiyallahu 'anhu. Beliau mengundang tamu, berpesan kepada anaknya untuk melayani mereka, dan pergi menemui Nabi ﷺ. Ini menunjukkan perhatian beliau terhadap hak tamu dan kesungguhan dalam memuliakan mereka.
- Kewajiban memuliakan tamu. Para ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menegaskan bahwa memuliakan tamu termasuk sunnah yang ditekankan dan bagian dari iman, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
- Marah yang tercela dan obatnya. Ketika Abu Bakr datang dan mendapati tamu belum makan, beliau marah kepada anaknya. Namun beliau segera menyadari bahwa kemarahan itu dari setan, lalu beliau menyebut nama Allah dan makan. Ini sesuai dengan penjelasan Ibn Qayyim bahwa marah adalah bara api setan yang harus dipadamkan dengan dzikir, menahan diri, dan wudhu. Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa menahan marah adalah tanda kekuatan iman, bukan kelemahan.
- Adab tamu dan tuan rumah. Para tamu menolak makan sebelum tuan rumah datang sebagai bentuk penghormatan. Namun ketika tuan rumah bersumpah tidak makan sampai mereka makan, mereka pun mengikuti. Ini menunjukkan fleksibilitas adab: menghormati tuan rumah dan tidak menyulitkannya.
- Sumpah dan kafarah. Abu Bakr bersumpah tidak makan, lalu beliau makan karena keadaan darurat dan karena tamu bersumpah pula. Para ulama fiqih seperti Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad menjelaskan bahwa sumpah untuk melakukan sesuatu yang lebih baik boleh ditinggalkan dengan membayar kafarah, atau jika sumpah itu untuk menolak kemungkaran maka wajib ditinggalkan. Di sini Abu Bakr memilih makan demi memuliakan tamu, dan ini termasuk kebijaksanaan beliau.
- Pelajaran tentang nama "Ghuntsar". Kata ini adalah panggilan yang keras, namun konteksnya adalah teguran seorang ayah kepada anaknya karena situasi yang memancing marah. Ini menunjukkan bahwa manusia bisa tergelincir dalam marah, tetapi orang beriman segera kembali kepada Allah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu suatu hari mengundang beberapa tamu. Beliau berpesan kepada putranya, Abdurrahman, untuk melayani mereka, lalu beliau pergi menemui Nabi ﷺ. Abdurrahman menyajikan makanan, tetapi para tamu menolak makan sebelum tuan rumah datang. Abdurrahman berusaha meyakinkan mereka, namun mereka tetap menolak. Ketika Abu Bakr pulang dan mengetahui hal itu, beliau marah kepada Abdurrahman. Abdurrahman bersembunyi, tetapi Abu Bakr memanggilnya dengan keras. Setelah Abdurrahman keluar dan menjelaskan, para tamu membenarkannya. Abu Bakr lalu bersumpah tidak akan makan malam itu, dan para tamu pun bersumpah tidak akan makan sampai beliau makan. Akhirnya Abu Bakr menyadari bahwa kemarahan itu dari setan, beliau menyebut nama Allah, dan makan bersama mereka. (HR. Al-Bukhari no. 6140)
Hikmahnya: Setan senang memecah belah dan memancing kemarahan, bahkan pada orang mulia seperti Abu Bakr. Namun orang beriman segera sadar, menyebut nama Allah, dan menahan diri.
Kesimpulan Praktis
- Muliakan tamu dengan pelayanan terbaik dan wajah yang ramah.
- Jangan marah, karena marah adalah pintu setan. Jika marah, segera:
- Diam dan jangan berbicara.
- Ucapkan "A'udzu billahi minasy-syaithanir-rajim".
- Berwudhu jika perlu.
- Ubah posisi (duduk menjadi berdiri, dsb).
- Selesaikan masalah dengan musyawarah dan jangan biarkan sumpah menjadi penghalang kebaikan.
- Teladani Abu Bakr yang segera sadar dan kembali kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.