Penjelasan Hadits Bukhari No. 6122 tentang Perumpamaan mukmin seperti pohon kurma yang bermanfaat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita dua hal penting: pertama, perumpamaan seorang mukmin yang indah, yaitu seperti pohon kurma yang selalu hijau, bermanfaat, dan tidak gugur daunnya. Kedua, hadits ini mengajarkan adab dalam menuntut ilmu, yaitu berani menyampaikan kebenaran yang kita ketahui, meskipun kita masih muda atau merasa malu. Rasa malu yang berlebihan hingga meninggalkan kebenaran adalah sesuatu yang disayangkan, sebagaimana disesali oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu terhadap putranya, Abdullah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Apa yang Tidak Malu untuk Menyatakan Kebenaran dalam Memahami Agama" (no. 6122). Berikut matan haditsnya:

Teks Arab (dengan harakat):

حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا مُحَارِبُ بْنُ دِثَارٍ، قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ، يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: "مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ شَجَرَةٍ خَضْرَاءَ، لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَلَا يَتَحَاتُّ". فَقَالَ الْقَوْمُ: هِيَ شَجَرَةُ كَذَا، هِيَ شَجَرَةُ كَذَا، فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ: هِيَ النَّخْلَةُ، وَأَنَا غُلَامٌ شَابٌّ فَاسْتَحْيَيْتُ، فَقَالَ: "هِيَ النَّخْلَةُ". وَعَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنَا خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ مِثْلَهُ وَزَادَ: فَحَدَّثْتُ بِهِ عُمَرَ فَقَالَ: لَوْ كُنْتَ قُلْتَهَا لَكَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا.

Terjemahan: Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti pohon hijau yang daunnya tidak gugur dan tidak berjatuhan." Maka orang-orang berkata, "Itu pohon ini, itu pohon itu." Aku ingin mengatakan, "Itu adalah pohon kurma," tetapi aku masih muda dan merasa malu. Maka Nabi ﷺ bersabda, "Itu adalah pohon kurma." (Dalam riwayat lain) dari Hafsh bin 'Ashim dari Ibnu Umar seperti itu, dan ia menambahkan: "Lalu aku ceritakan hal ini kepada Umar, maka ia berkata, 'Seandainya engkau mengatakannya, itu lebih aku sukai daripada ini dan itu (dunia dan seisinya).'"

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman tentang pohon kurma sebagai perumpamaan yang baik:

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

"Dan perumpamaan kalimat yang baik adalah seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit." (QS. Ibrahim [14]: 24)

Ayat ini ditafsirkan oleh banyak ulama bahwa pohon yang baik tersebut adalah pohon kurma, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat tafsir.

Penjelasan Rinci

1. Makna Perumpamaan Mukmin Seperti Pohon Kurma

Para ulama menjelaskan hikmah mengapa mukmin diumpamakan seperti pohon kurma. Di antaranya:

  • Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa pohon kurma memiliki banyak kemiripan dengan seorang mukmin. Pohon kurma selalu hijau sepanjang tahun, tidak gugur daunnya, dan selalu memberikan manfaat. Demikian pula seorang mukmin, imannya selalu hidup dan segar di hatinya, tidak pernah kering, dan ia selalu bermanfaat bagi orang lain.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa pohon kurma adalah pohon yang paling banyak berkahnya, seluruh bagiannya bermanfaat: buahnya dimakan, daunnya untuk anyaman, batangnya untuk bangunan, dan akarnya untuk kayu bakar. Demikian pula seorang mukmin, seluruh keadaan dan perilakunya bermanfaat dan baik.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa kesamaan mukmin dengan pohon kurma adalah: akarnya kuat dan kokoh (iman yang mantap), batangnya tegak lurus (istiqamah), daunnya selalu hijau (amal yang terus berjalan), dan buahnya selalu ada (manfaat yang terus mengalir).

2. Pelajaran Adab: Berani Menyampaikan Kebenaran

Bagian penting dari hadits ini adalah kisah Ibnu Umar yang merasa malu untuk menjawab karena usianya masih muda. Beliau tahu jawabannya, tetapi ragu untuk mengungkapkannya di hadapan para sahabat yang lebih tua.

  • Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam bab "Bab Apa yang Tidak Malu untuk Menyatakan Kebenaran dalam Memahami Agama" untuk menunjukkan bahwa rasa malu yang menghalangi seseorang dari menyampaikan kebenaran adalah tercela. Rasa malu yang terpuji adalah yang tidak menghalangi dari kebenaran.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Umar bin Khaththab menyesali sikap putranya yang diam, karena seandainya Abdullah menjawab, maka itu akan menjadi pelajaran bagi yang lain bahwa seorang pemuda pun bisa memiliki pemahaman yang benar. Ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak dilihat dari usia, tetapi dari dalil.
  • Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu tidak boleh malu untuk bertanya atau menjawab jika ia mengetahui kebenaran, selama ia melakukannya dengan adab dan sopan santun.

3. Rasa Malu yang Terpuji dan Tercela

Para ulama membedakan dua jenis rasa malu:

  • Rasa malu terpuji: malu untuk berbuat maksiat dan hal-hal yang tidak layak. Ini adalah bagian dari iman, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Rasa malu itu adalah kebaikan seluruhnya." (HR. Muslim)
  • Rasa malu tercela: malu untuk bertanya tentang agama, malu untuk menyampaikan kebenaran, atau malu untuk mencegah kemungkaran. Inilah yang disesali oleh Umar.

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa rasa malu yang menghalangi seseorang dari menuntut ilmu adalah rasa malu yang tercela, karena tujuannya adalah menjaga diri dari celaan manusia, padahal yang lebih penting adalah menjaga diri dari murka Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau menjawab, "Aku tidak tahu." Kemudian beliau berkata, "Aku lebih suka memotong lidahku daripada berdusta atas nama Rasulullah ﷺ."

Ini menunjukkan bahwa keberanian menyampaikan kebenaran juga berarti keberanian untuk mengatakan "tidak tahu" ketika memang tidak tahu. Namun ketika seseorang mengetahui kebenaran, ia tidak boleh menahannya karena malu atau takut.

Kisah lain, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang saat itu masih sangat muda sering duduk di majelis para sahabat senior. Umar bin Khaththab memanggilnya untuk ikut dalam majelis para tokoh sahabat, dan Ibnu Abbas berkata, "Umar memanggilku untuk duduk bersama orang-orang besar, dan aku masih muda." Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak memandang usia dalam menghargai ilmu dan pemahaman agama.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadilah mukmin yang bermanfaat seperti pohon kurma: iman yang kokoh, amal yang terus berjalan, dan manfaat yang mengalir untuk sesama.
  2. Jangan malu menyampaikan kebenaran yang kita ketahui, meskipun kita masih muda atau berada di tengah orang yang lebih tua. Sampaikan dengan adab dan sopan santun.
  3. Bedakan rasa malu yang terpuji dan tercela. Malu berbuat maksiat adalah baik, tetapi malu bertanya atau menyampaikan kebenaran adalah tercela.
  4. Hargai ilmu dari siapa pun, karena kebenaran tidak diukur dari usia atau status sosial.
  5. Jika tidak tahu, katakan tidak tahu. Keberanian juga berarti jujur terhadap keterbatasan diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?