Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6100 tentang Bab Kesabaran Terhadap Gangguan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang mukmin, terutama pemimpin atau dai, wajib bersabar ketika mendapat celaan atau tuduhan buruk. Nabi ﷺ sendiri dimaki oleh seorang Ansar yang menuduh pembagiannya tidak ikhlas, namun beliau tidak membalas, melainkan mencontohkan kesabaran Nabi Musa yang lebih berat lagi ujiannya. Ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah akhlak para nabi dan jalan utama meraih ridha Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an (QS. Al-Ahqaf [46]: 35)

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْعَزْمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ

Maka bersabarlah kamu seperti sabarnya para rasul yang memiliki keteguhan hati.

Ayat ini memerintahkan Nabi ﷺ agar bersabar sebagaimana para nabi sebelumnya, termasuk Musa ‘alaihissalam yang dituduh dan disakiti oleh kaumnya.

Hadits Shahih Bukhari No. 6100

Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Nabi ﷺ membagi suatu pembagian seperti biasanya. Lalu seorang laki-laki dari Kaum Ansar berkata, ‘Demi Allah, sungguh pembagian ini bukanlah pembagian yang diniatkan untuk mencari wajah Allah.’ Aku (Ibnu Mas‘ud) berkata, ‘Aku pasti akan memberitahukan hal ini kepada Nabi ﷺ.’ Maka aku datang kepada beliau ketika beliau sedang bersama para sahabatnya, lalu aku bisikkan hal itu. Perkataan itu terasa sangat berat bagi Nabi ﷺ, wajahnya berubah, dan beliau marah, sehingga aku berharap seandainya aku tidak memberitahukannya. Kemudian beliau bersabda, ‘Sungguh Musa telah disakiti dengan sesuatu yang lebih besar dari ini, namun ia tetap sabar.’”

Kitab Syarh – Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/480) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sabar terhadap gangguan dan larangan menuduh niat buruk kepada pemimpin tanpa bukti. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (18/125) menambahkan bahwa Nabi ﷺ menegur sahabat yang menyampaikan berita negatif semacam itu, tetapi beliau sendiri tetap menahan diri.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Kitab al-Adab, bab “Kesabaran terhadap Gangguan”. Kejadiannya ketika Rasulullah ﷺ membagi harta rampasan perang atau sedekah kepada suku-suku Arab yang baru masuk Islam, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar. Tujuan beliau adalah untuk melunakkan hati mereka (ta’liful qulub). Namun, seorang Ansar yang tidak memahami hikmah di balik kebijakan itu menuduh bahwa pembagian tersebut tidak ikhlas karena Allah.

Ibnu Mas‘ud merasa wajib melaporkan ucapan itu kepada Nabi ﷺ. Ketika beliau mendengarnya, beliau merasa sangat berat hingga wajahnya berubah. Dalam riwayat lain (Bukhari: 3146), Nabi ﷺ juga bersabda: “Semoga Allah merahmati Musa, sungguh dia telah disakiti lebih dari ini namun ia bersabar.” Ini menunjukkan bahwa kemarahan Nabi ﷺ bukanlah kemarahan karena dendam pribadi, melainkan kesedihan karena umatnya belum memahami sunnahnya.

Ulama Ahlus Sunnah, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (no. 38), menekankan pelajaran berikut:

  1. Sabar terhadap celaan – Kesabaran adalah ciri para nabi dan orang-orang saleh. Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan memberikan contoh kesabaran.
  2. Amar ma’ruf nahi munkar dengan adab – Ibnu Mas‘ud menyampaikan berita secara diam-diam (sararahu), agar tidak mempermalukan orang lain di hadapan publik. Ini adab dalam menyampaikan teguran.
  3. Menghindari menuduh niat buruk – Ucapan Ansar itu mengandung tuduhan bahwa Nabi ﷺ tidak ikhlas. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di dalam Tafsir as-Sa‘di (surat al-Hujurat: 6) menegaskan bahwa menuduh niat tanpa bukti adalah dosa besar.
  4. Mengambil pelajaran dari kisah para nabi – Nabi ﷺ tidak langsung menasehati panjang lebar, tetapi cukup menyebutkan kesabaran Nabi Musa. Ini metode tarbiyah yang efektif: menyentuh hati dengan contoh nyata.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (1/136) mengatakan bahwa hadits ini merupakan dalil bahwa seorang pemimpin boleh marah saat ada yang menentang sunnah, namun kemarahan itu harus terkendali dan tidak berlebihan.

Story Telling

Nabi Musa ‘alaihissalam adalah seorang rasul ulul azmi yang sangat disakiti oleh Bani Israil. Dalam Shahih al-Bukhari (3404) disebutkan bahwa ada seorang laki-laki dari Bani Israil yang menuduh Musa memiliki penyakit tertentu. Padahal Musa adalah seorang yang pemalu dan tidak pernah terbuka auratnya. Ketika tuduhan itu sampai, Musa marah dan membuktikan bahwa tuduhan itu dusta, namun setelah itu beliau memaafkan dan tidak membalas dendam. Bahkan dalam riwayat lain (Shahih Muslim: 2387), disebutkan bahwa Musa dipukul dan dicaci oleh kaumnya, namun beliau tetap berdoa untuk kebaikan mereka.

Kisah ini menunjukkan bahwa para nabi adalah manusia yang bisa merasa sakit hati, tetapi mereka memilih jalan sabar dan tawakal. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits di atas.

Kesimpulan Praktis

  1. Jika kita mendapat celaan atau tuduhan, jangan segera membalas. Ingatlah bahwa para nabi dan salafush shalih telah melewati ujian yang lebih berat dengan kesabaran.
  2. Jika menjadi pemimpin atau dai, bersikaplah lembut terhadap kritik, namun tetap tegas dalam kebenaran.
  3. Jangan menuduh niat seseorang tanpa bukti, karena itu dosa yang bisa merusak ukhuwah.
  4. Ambillah pelajaran dari kisah-kisah para nabi dan ulama (seperti dalam daftar) untuk menguatkan hati ketika menghadapi gangguan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.