Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita adab yang sangat agung: menahan diri dari menyakiti orang lain, bersabar ketika dizalimi, dan tidak menyebarkan perkataan buruk yang dapat melukai hati seseorang. Ketika ada orang yang berkomentar sinis tentang pembagian harta yang dilakukan Rasulullah ﷺ, beliau tidak membalas dengan kemarahan yang meledak-ledak, tetapi justru meneladani kesabaran Nabi Musa 'alaihis salam yang telah disakiti dengan celaan yang lebih banyak lagi. Ini adalah pelajaran tentang hilm (sifat santun) dan shabr (kesabaran) yang agung.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Man Akhbara Shahibahu bi ma Yuqalu fihi" (Bab Siapa yang Mengabarkan Temannya tentang Apa yang Dikatakan Tentangnya), no. 6059, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Terdapat juga dalam riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zakah, Bab "Al-I'tidhar fi al-'Athiyyah" (no. 1062), dari jalur yang sama.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman tentang kesabaran para nabi:
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا
"Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, maka mereka bersabar atas pendustaan itu dan (atas) gangguan yang mereka terima, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka." (QS. Al-An'am [6]: 34)
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/475) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mengabarkan kepada seseorang tentang perkataan orang lain yang menyakitkan, jika di dalamnya terdapat maslahat (kebaikan) seperti mencegah kemungkaran atau agar orang tersebut berhati-hati. Namun beliau juga menegaskan bahwa hal ini bukanlah termasuk ghibah (menggunjing) yang terlarang, karena tujuannya adalah untuk kebaikan, bukan untuk menjatuhkan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Konteks Kejadian
Kejadian ini terjadi setelah Rasulullah ﷺ membagi-bagikan harta rampasan perang. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa saat itu beliau membagikan harta kepada para muallaf (orang yang baru masuk Islam) seperti Al-Aqra' bin Habis dan 'Uyainah bin Hishn, untuk melunakkan hati mereka. Sebagian kaum Ansar merasa keberatan karena mereka tidak mendapat bagian seperti itu, padahal mereka adalah orang-orang yang telah berkorban. Maka seorang laki-laki Ansar berkata, "Demi Allah! Muhammad, dengan pembagian ini, tidak bermaksud untuk menyenangkan Allah."
2. Adab Menyampaikan Informasi
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menyampaikan perkataan tersebut kepada Rasulullah ﷺ. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hal ini dibolehkan karena mengandung maslahat, yaitu agar Rasulullah ﷺ mengetahui apa yang terjadi di tengah kaumnya dan dapat mengambil langkah yang tepat. Namun perlu digarisbawahi: ini bukan berarti kita bebas menyampaikan setiap perkataan buruk tentang orang lain. Para ulama membedakan antara ghibah yang tercela dengan nasihat atau tahdzir (memperingatkan) yang dibolehkan karena ada kepentingan syar'i.
3. Kesabaran Rasulullah ﷺ
Yang sangat menakjubkan adalah reaksi Rasulullah ﷺ. Wajah beliau berubah karena marah, namun beliau tidak membalas dengan perkataan kasar, tidak memanggil orang tersebut untuk dihukum, dan tidak pula menyebut keburukannya. Beliau justru bersabda: "Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Musa, karena ia telah disakiti dengan lebih dari ini, namun ia tetap sabar."
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (7/158) menjelaskan bahwa makna sabda beliau adalah: "Jika Nabi Musa saja disakiti dengan perkataan yang lebih banyak dan lebih berat, lalu ia bersabar, maka aku lebih berhak untuk bersabar." Ini adalah bentuk ta'siyah (menghibur diri) dengan melihat musibah yang lebih besar menimpa para nabi sebelumnya.
4. Hikmah Menyebut Nabi Musa
Mengapa beliau menyebut Nabi Musa? Karena Bani Israil sering menyakiti Nabi Musa dengan berbagai tuduhan, bahkan ada yang menuduhnya memiliki penyakit 'udzrah (pembengkakan di tubuhnya) karena ia tidak mandi bersama mereka. Namun Nabi Musa tetap bersabar. Maka Rasulullah ﷺ menjadikan ini sebagai pelajaran bahwa gangguan dari kaum sendiri adalah ujian yang telah dialami para nabi sebelumnya.
5. Pelajaran tentang Sifat Santun (Hilm)
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (2/310) menjelaskan bahwa hilm adalah menahan diri dari membalas keburukan dengan keburukan, dan justru membalas dengan kebaikan atau memaafkan. Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sempurna dalam sifat ini. Beliau tidak membalas perkataan kasar orang Ansar tersebut dengan hukuman, tetapi justru mendoakan kebaikan untuknya.
6. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Mengabarkan Perkataan Orang
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum mengabarkan perkataan seseorang yang menyakitkan kepada orang yang dimaksud:
- Pendapat pertama (mayoritas ulama seperti Imam Al-Bukhari melalui bab yang dibuatnya, dan diperkuat Ibnu Hajar): Boleh jika ada maslahat, seperti mencegah kemungkaran yang lebih besar atau agar orang tersebut waspada.
- Pendapat kedua: Ini termasuk ghibah yang terlarang, karena mengabarkan perkataan seseorang yang tidak disukainya.
Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, dengan syarat: niatnya ikhlas untuk kebaikan, bukan untuk mengadu domba atau menjatuhkan. Karena dalam hadits ini, Ibnu Mas'ud adalah sahabat yang paling jujur dan tujuannya adalah kebaikan, bukan untuk mengadu domba. Wallahu a'lam.
Story Telling
Ada kisah indah tentang kesabaran para ulama salaf yang sejalan dengan hadits ini. Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah dilempari oleh seseorang dengan kata-kata kasar di majelisnya. Orang itu berkata, "Wahai Abu Sa'id, sesungguhnya kamu telah berbuat begini dan begitu," dengan tuduhan yang tidak benar.
Maka Al-Hasan tersenyum dan berkata, "Wahai saudaraku, jika apa yang kamu katakan itu benar, maka semoga Allah mengampuniku. Dan jika apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka semoga Allah mengampunimu. Sesungguhnya aku telah mendengar firman Allah: 'Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan' (QS. Ali 'Imran: 134)."
Orang itu pun menangis dan berkata, "Wahai Abu Sa'id, sungguh aku telah menyakitimu dengan perkataanku, tetapi engkau membalasnya dengan doa dan kelembutan. Aku bersaksi bahwa engkau adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara manusia."
Lihatlah bagaimana para ulama salaf meneladani Rasulullah ﷺ dalam kesabaran. Mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi dengan kebaikan dan doa. Inilah buah dari pemahaman mereka terhadap hadits ini.
Kesimpulan Praktis
- Bersabar ketika disakiti oleh perkataan orang lain, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabar dan meneladani Nabi Musa 'alaihis salam.
- Jangan terburu-buru membalas perkataan buruk dengan perkataan yang lebih buruk. Jadikan kesabaran sebagai perisai.
- Jika ingin menyampaikan informasi tentang perkataan seseorang, pastikan niatnya ikhlas untuk kebaikan dan kemaslahatan, bukan untuk mengadu domba.
- Teladani akhlak Rasulullah ﷺ yang tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, tetapi dengan maaf dan doa.
- Sadari bahwa para nabi dan ulama telah menghadapi ujian serupa, maka kita pun harus kuat menghadapinya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.