Penjelasan Hadits Bukhari No. 6054 tentang Boleh menggunjing orang fasik dan menjaga adab

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab penting: boleh menyebut keburukan seseorang yang memang dikenal buruk (untuk peringatan), namun tetap wajib berakhlak baik ketika berhadapan langsung dengannya. Nabi ﷺ mencontohkan bahwa menjaga lisan dan pergaulan yang baik bukan berarti berpura-pura, tetapi bentuk kehati-hatian agar tidak terjatuh pada perbuatan buruk. Manusia paling buruk adalah yang dijauhi orang lain karena kekotoran lisan dan perbuatannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Dan janganlah kamu saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adab, Bab "Apa yang Diperbolehkan dari Menggibah Orang-orang yang Rusak dan Ragu", nomor 6054. Perawi: Ibnu 'Uyainah (Sufyan bin 'Uyainah) dari Ibnu al-Munkadir dari 'Urwah bin az-Zubair dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bab ini menunjukkan bolehnya menyebut keburukan seseorang yang dikenal buruk perangainya, sebagai peringatan bagi orang lain, bukan untuk mencela tanpa alasan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa gibah dibolehkan dalam keadaan darurat tertentu, salah satunya untuk memperingatkan kaum muslimin dari keburukan seseorang.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan pentingnya akhlak mulia dalam bergaul, termasuk tetap lembut kepada orang yang buruk akhlaknya selama tidak ada maslahat syar'i untuk bersikap keras.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Bolehnya menyebut keburukan orang yang dikenal buruk.

Nabi ﷺ berkata tentang lelaki yang meminta izin: "Betapa buruknya, saudara dari kaumnya atau anak dari kaumnya." Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa ini menunjukkan bolehnya menyebutkan keburukan seseorang yang memang dikenal memiliki sifat buruk, sebagai bentuk peringatan (tahdzir) kepada orang lain, bukan sebagai gibah yang tercela. Ini sejalan dengan kaidah yang disebutkan Imam an-Nawawi bahwa gibah dibolehkan dalam enam keadaan, salah satunya untuk memperingatkan kaum muslimin dari keburukan.

Kedua: Tetap berakhlak baik ketika berhadapan langsung.

Meskipun Nabi ﷺ menyebut keburukan lelaki itu, ketika lelaki tersebut masuk, Nabi ﷺ berbicara dengan lembut dan sopan. Ini menunjukkan bahwa menyebut keburukan seseorang di belakangnya untuk maslahat syar'i tidak berarti kita boleh bersikap kasar kepadanya secara langsung. Ibn Rajab al-Hanbali menekankan bahwa akhlak mulia adalah bagian dari agama, dan Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini.

Ketiga: Manusia paling buruk adalah yang dijauhi karena keburukannya.

Nabi ﷺ bersabda: "Manusia yang paling buruk adalah mereka yang ditinggalkan oleh orang-orang untuk menyelamatkan diri dari bahasa kotor mereka atau dari pelanggaran mereka." Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah peringatan keras terhadap orang yang membuat orang lain menjauhinya karena kekotoran lisan dan perbuatannya. Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan dan pergaulan yang baik adalah tanda keimanan yang sempurna.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama memahami bahwa Nabi ﷺ menyebut keburukan lelaki itu sebelum ia masuk sebagai bentuk pemberitahuan kepada 'Aisyah dan yang hadir, bukan gibah yang tercela. Sebagian lagi memahami bahwa ini adalah bentuk tahdzir (peringatan) agar orang lain berhati-hati. Namun, kesimpulan yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa gibah dibolehkan dalam keadaan tertentu untuk maslahat syar'i, dan tetap wajib berakhlak baik ketika berhadapan langsung.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang lelaki meminta izin untuk bertemu Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ yang mengetahui keburukan akhlak lelaki tersebut berkata kepada para sahabat yang hadir: "Izinkan dia. Betapa buruknya, saudara dari kaumnya atau anak dari kaumnya." Namun, ketika lelaki itu masuk, Nabi ﷺ menyambutnya dengan wajah yang ramah dan berbicara dengan lembut.

'Aisyah radhiyallahu 'anha yang menyaksikan hal itu merasa heran. Setelah lelaki itu pergi, ia bertanya: "Wahai Rasulullah! Engkau telah mengatakan apa yang engkau katakan, namun engkau berbicara dengannya dengan sangat sopan?" Nabi ﷺ menjawab: "Wahai Aisyah! Manusia yang paling buruk adalah mereka yang ditinggalkan oleh orang-orang untuk menyelamatkan diri dari bahasa kotor mereka atau dari pelanggaran mereka."

Kisah ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ menggabungkan antara kejujuran dalam menilai dan kelembutan dalam bergaul. Beliau tidak berpura-pura, tetapi juga tidak bersikap kasar. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh menyebut keburukan seseorang yang dikenal buruk perangainya untuk tujuan peringatan (tahdzir), bukan untuk mencela tanpa alasan.
  2. Tetap berakhlak baik ketika berhadapan langsung dengan orang tersebut, karena akhlak mulia adalah bagian dari agama.
  3. Jaga lisan dan perbuatan agar tidak menjadi manusia paling buruk yang dijauhi orang lain karena kekotoran lisan dan perbuatannya.
  4. Bedakan antara gibah yang tercela dan tahdzir yang dibolehkan sesuai kaidah yang dijelaskan para ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani.
  5. Teladani Nabi ﷺ dalam menggabungkan kejujuran dan kelembutan dalam bergaul dengan semua orang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?