Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah tentang Nabi ﷺ yang lupa jumlah rakaat dalam shalat Zhuhur, hanya mengerjakan dua rakaat lalu salam. Ketika ditegur oleh seorang sahabat bernama Dzul Yadain, beliau ﷺ menyempurnakan shalatnya dengan dua rakaat lagi, kemudian melakukan sujud sahwi dua kali sebelum salam. Hadits ini mengajarkan kita tentang tata cara mengatasi lupa dalam shalat, pentingnya menegur kesalahan dengan adab, dan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang juga bisa lupa, namun Allah menjaganya dalam syariat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Apa yang Diperbolehkan dalam Menyebut Orang", no. 6051, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Masajid, no. 573, dengan lafaz yang serupa.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra' [17]: 36)
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak boleh berbicara tanpa ilmu. Dalam hadits ini, para sahabat tidak langsung menegur Nabi ﷺ karena khawatir, namun Dzul Yadain bertanya dengan cara yang baik dan penuh adab, bukan dengan tuduhan.
Hadits terkait tentang sujud sahwi:
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَلْقِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى الْيَقِينِ ثُمَّ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ
"Jika salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, maka buanglah keraguan itu dan bangunlah di atas keyakinan, kemudian sujudlah dua kali (sujud sahwi)." (HR. Muslim no. 571)
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar dalam bab shalat, dan beliau menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa sujud sahwi dilakukan setelah salam jika lupa tersebut diketahui setelah salam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in dan kitab-kitab fiqihnya juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya sujud sahwi setelah salam.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits terpenting dalam bab sujud sahwi. Mari kita pahami beberapa pelajaran besar darinya:
1. Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang bisa lupa
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa lupa yang menimpa Nabi ﷺ dalam shalat adalah sesuatu yang disengaja oleh Allah agar umatnya mendapatkan pelajaran. Allah menjadikan Nabi ﷺ lupa bukan karena kekurangan, tetapi justru untuk mengajarkan umatnya bagaimana menyikapi lupa dalam shalat. Ini adalah rahmat Allah kepada umat ini.
2. Adab para sahabat dalam menegur
Dalam hadits ini, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma tidak berani menegur Nabi ﷺ karena rasa hormat dan takzim mereka yang sangat tinggi. Ini menunjukkan adab yang luar biasa. Namun, Dzul Yadain bertanya dengan cara yang halus: "Apakah engkau lupa atau shalatnya dipendekkan?" — ini adalah pertanyaan yang tidak menuduh, tetapi mencari kejelasan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa menegur kesalahan harus dengan cara yang baik, tidak langsung menuduh, dan memilih waktu serta cara yang tepat.
3. Jawaban Nabi ﷺ yang jujur dan tenang
Nabi ﷺ menjawab dengan tenang: "Aku tidak lupa dan tidak dipendekkan." Namun ketika para sahabat menegaskan bahwa beliau lupa, beliau langsung membenarkan Dzul Yadain dan menyempurnakan shalatnya. Ini menunjukkan sifat tawadhu' Nabi ﷺ — beliau tidak marah ketika dikoreksi, bahkan mengakui kebenaran.
4. Tata cara sujud sahwi
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ setelah menyempurnakan dua rakaat yang tertinggal, beliau salam, kemudian bertakbir dan sujud dua kali (sujud sahwi), lalu salam lagi. Ini adalah salah satu bentuk sujud sahwi yang dilakukan setelah salam.
Para ulama menjelaskan bahwa sujud sahwi ada beberapa bentuk:
- Jika lupa setelah salam dan diketahui setelah salam, maka sujud sahwi dilakukan setelah salam (seperti dalam hadits ini)
- Jika lupa sebelum salam, maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti' menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sujud sahwi setelah salam ketika seseorang baru ingat setelah salam.
5. Pelajaran tentang kejujuran dan mengakui kesalahan
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa mengakui kesalahan adalah tanda keimanan dan kejujuran. Nabi ﷺ yang ma'shum (terjaga dari dosa) saja mengakui lupa beliau, maka kita sebagai manusia biasa harus lebih berani mengakui kesalahan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah peristiwa ini, Dzul Yadain — yang nama aslinya adalah Al-Khirbaq bin Amr — menjadi dikenal karena keberaniannya bertanya kepada Nabi ﷺ. Para ulama menyebutkan bahwa keberaniannya dalam bertanya justru menjadi sebab turunnya pelajaran besar bagi umat Islam tentang sujud sahwi.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa setelah Nabi ﷺ menyempurnakan shalatnya dan melakukan sujud sahwi, beliau bersabda kepada para sahabat yang bertanya:
لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تَقْصُرْ
"Aku tidak lupa dan tidak dipendekkan."
Namun kemudian beliau membenarkan perkataan Dzul Yadain. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak merasa malu untuk mengakui kebenaran, meskipun datangnya dari orang yang lebih rendah kedudukannya.
Hikmah dari kisah ini: Kebenaran harus diterima dari siapa pun datangnya. Sebagaimana Nabi ﷺ menerima teguran dari Dzul Yadain, kita pun harus lapang dada menerima nasihat dan koreksi dari orang lain, selama berdasarkan dalil dan kebenaran.
Kesimpulan Praktis
- Jika lupa jumlah rakaat dalam shalat, maka kita boleh berpegang pada keyakinan yang lebih kuat, dan jika ragu, ambil yang paling yakin (paling sedikit), lalu sujud sahwi.
- Sujud sahwi dilakukan dua kali sujud seperti sujud biasa, baik sebelum maupun sesudah salam, sesuai dengan kondisi lupa tersebut.
- Menegur kesalahan harus dengan adab — tidak menuduh, tidak merendahkan, tetapi bertanya dengan cara yang baik dan mencari kejelasan.
- Mengakui kesalahan adalah tanda keimanan — Nabi ﷺ sendiri mengakui lupa beliau, maka kita tidak boleh gengsi untuk mengakui kekeliruan kita.
- Terima kebenaran dari siapa pun — meskipun datangnya dari orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.