Penjelasan Hadits Bukhari No. 6043 tentang Larangan menumpahkan darah, merampas harta, dan merusak kehormatan sesama muslim

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu khutbah terpenting Nabi ﷺ di hari raya kurban (10 Dzulhijjah) di Mina. Inti pesannya adalah penetapan keharaman tiga perkara besar antar sesama Muslim: darah (jiwa), harta, dan kehormatan (kehormatan/martabat). Keharaman ini disamakan dengan kesucian hari raya, bulan Dzulhijjah, dan tanah Haram (Mekah). Ini adalah fondasi akhlak Islam dalam menjaga hak-hak sesama Muslim.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

2. Hadits yang dimaksud:

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab tentang firman Allah QS. Al-Hujurat [49]: 11, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

3. Kaitan dengan ulama:

  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah bagian dari khutbah Nabi ﷺ pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) di Mina, yang dikenal dengan Khutbatul Wada' (khutbah perpisahan). Beliau menegaskan bahwa hadits ini mencakup larangan menumpahkan darah, mengambil harta, dan merusak kehormatan sesama Muslim.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (hadits semakna) menjelaskan bahwa keharaman ini bersifat mutlak dan kekal, tidak terbatas pada hari, bulan, atau tempat tertentu saja, meskipun diserupakan dengan kesucian hari, bulan, dan tanah Haram untuk menunjukkan betapa besarnya larangan tersebut.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan momen bersejarah ketika Nabi ﷺ berada di Mina pada hari raya kurban di tengah para sahabat. Beliau bertanya bertahap untuk menggugah kesadaran mereka:

  1. "Hari apa ini?" → Dijawab: Hari yang haram (suci), yaitu hari Nahr (10 Dzulhijjah).
  2. "Kota apa ini?" → Dijawab: Kota yang haram, yaitu Mekah.
  3. "Bulan apa ini?" → Dijawab: Bulan yang haram, yaitu Dzulhijjah.

Setelah menegaskan kesucian tiga hal tersebut, beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian satu sama lain, seperti kesucian hari ini, bulan ini, dan kota ini."

Makna yang dipahami para ulama:

  • Darah (jiwa): Tidak boleh membunuh atau menumpahkan darah sesama Muslim tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 32 bahwa membunuh satu jiwa tanpa hak bagaikan membunuh manusia seluruhnya.
  • Harta: Tidak boleh mengambil harta orang lain dengan cara batil, baik melalui pencurian, penipuan, riba, ghasab (merampas), atau cara-cara curang lainnya.
  • Kehormatan (kehormatan/martabat): Tidak boleh merusak nama baik, menggunjing (ghibah), memfitnah, menghina, mencemooh, atau menyebarkan aib orang lain. Ini ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat [49]: 11-12 yang melarang mengolok-olok, mencela, memanggil dengan gelar buruk, berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing.

Pandangan ulama tentang cakupan hadits:

  • Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa Islam sangat menjaga hak-hak sesama Muslim. Beliau menegaskan bahwa kehormatan seorang Muslim sangat agung di sisi Allah, bahkan disebutkan dalam hadits lain bahwa menggunjing seorang Muslim adalah riba (memakan daging saudaranya yang telah mati) dalam arti dosa yang sangat besar.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya atas QS. Al-Hujurat menjelaskan bahwa larangan mengolok-olok dan menghina adalah karena bisa jadi orang yang dihina lebih mulia di sisi Allah daripada yang menghina. Ini mengajarkan tawadhu' (rendah hati) dan tidak merasa lebih baik dari orang lain.

Perbedaan penekanan: Para ulama sepakat bahwa keharaman ini bersifat umum dan kekal. Namun, ada penekanan bahwa penyebutan "hari, bulan, dan kota yang haram" adalah untuk menunjukkan betapa agungnya larangan ini, bukan berarti larangan hanya berlaku di waktu dan tempat tersebut. Ini adalah pendapat jumhur ulama.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa setelah Nabi ﷺ menyampaikan khutbah ini di Mina, beliau bersabda: "Sungguh, telah sampai (pesan) ini kepada yang hadir agar disampaikan kepada yang tidak hadir." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa pesan ini bukan hanya untuk para sahabat saat itu, tetapi untuk seluruh umat Islam hingga akhir zaman.

Ada kisah tentang Al-Hasan Al-Bashri yang sangat menjaga kehormatan orang lain. Beliau berkata: "Aku tidak pernah menggunjing seseorang pun sejak aku mengetahui firman Allah: 'Dan janganlah kamu saling menggunjing...'" (QS. Al-Hujurat [49]: 12). Beliau juga berkata: "Sungguh, aku lebih suka duduk bersama orang-orang yang berakal meskipun mereka bukan orang kaya, daripada duduk bersama orang-orang yang suka menggunjing." Ini menunjukkan bagaimana para salaf sangat menjaga lisan dan kehormatan sesama.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga jiwa sesama Muslim — jangan membunuh, melukai, atau membahayakan orang lain tanpa hak.
  2. Jaga harta sesama Muslim — jangan mengambil, mencuri, menipu, atau merampas hak orang lain.
  3. Jaga kehormatan sesama Muslim — jangan menggunjing, memfitnah, menghina, mencemooh, atau menyebarkan aib.
  4. Rendah hati — jangan merasa lebih baik dari orang lain, karena bisa jadi orang yang kita hina lebih mulia di sisi Allah.
  5. Sampaikan kebaikan — sebagaimana Nabi ﷺ memerintahkan untuk menyampaikan pesan ini kepada yang lain, kita pun wajib mengajarkan akhlak mulia ini kepada keluarga dan masyarakat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?