Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa Nabi ﷺ adalah pribadi yang sangat dermawan dan tidak pernah menolak permintaan orang yang meminta. Seorang sahabat meminta kain yang baru saja dipakai Nabi ﷺ bukan karena tamak, tetapi karena mengharapkan keberkahan untuk dijadikan kain kafannya. Ini menunjukkan adab dalam memuliakan Nabi ﷺ dan bagaimana para sahabat mencari keberkahan melalui beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Ahzab [33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Terjemahan: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adab, Bab Kebaikan Akhlak, Kedermawanan, dan Apa yang Diharamkan dari Kebakhilan (no. 6036), dari sahabat Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menolak permintaan, dan ini termasuk akhlak mulia beliau. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para sahabat mencari keberkahan dari bekas Nabi ﷺ, dan ini adalah bentuk tabarruk yang dibenarkan karena dilakukan langsung terhadap diri Nabi ﷺ semasa hidupnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
Pertama: Kedermawanan Nabi ﷺ
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengambil kain tersebut karena beliau memang membutuhkannya, bukan karena beliau rakus atau tamak. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang memiliki kebutuhan, namun tetap mendahulukan orang lain. Ketika seorang sahabat meminta kain itu, beliau langsung memberikannya tanpa keberatan.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan sifat Nabi ﷺ yang tidak pernah menolak permintaan. Bahkan dalam keadaan membutuhkan, beliau tetap memberi. Ini adalah puncak akhlak mulia yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai "suri teladan yang baik."
Kedua: Adab Sahabat dalam Meminta
Para sahabat yang lain menegur lelaki tersebut karena mereka menganggap permintaannya tidak pantas, mengingat Nabi ﷺ sedang membutuhkan kain itu. Namun, lelaki itu menjelaskan alasannya: ia ingin mendapatkan keberkahan dari kain yang pernah dipakai Nabi ﷺ, dengan harapan ia bisa dikafani dengannya.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan pemahaman sahabat tentang keberkahan yang ada pada diri Nabi ﷺ dan barang yang beliau gunakan. Ini adalah bentuk tabarruk (mencari berkah) yang khusus berlaku pada diri Nabi ﷺ dan peninggalannya, bukan pada orang lain setelah beliau wafat.
Ketiga: Keberkahan (Tabarruk) dalam Islam
Ibnu Taymiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa para sahabat mencari keberkahan dari Nabi ﷺ secara langsung, baik dari diri beliau, air wudhu beliau, rambut beliau, maupun pakaian beliau. Ini adalah perkara yang disyariatkan dan dibenarkan karena keberkahan itu berasal dari Nabi ﷺ sendiri.
Namun, Ibn Taymiyyah juga menegaskan bahwa setelah Nabi ﷺ wafat, tidak ada lagi tabarruk terhadap benda-benda tertentu, karena keberkahan hanya khusus pada diri Nabi ﷺ semasa hidupnya. Yang tersisa adalah keberkahan dari Al-Qur'an, doa, dan amal saleh.
Keempat: Akhlak Mulia dalam Bermuamalah
Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam bab "Kebaikan Akhlak, Kedermawanan, dan Apa yang Diharamkan dari Kebakhilan." Ini menunjukkan bahwa kedermawanan adalah bagian dari akhlak mulia, dan kebakhilan adalah sifat tercela yang harus dijauhi.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa kedermawanan Nabi ﷺ adalah contoh tertinggi dalam memberi, bahkan ketika beliau sendiri membutuhkan. Ini mengajarkan kita untuk mendahulukan orang lain (itsar) dan tidak pelit terhadap apa yang kita miliki.
Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama:
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum tabarruk setelah Nabi ﷺ wafat. Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah berpendapat bahwa tabarruk hanya khusus pada Nabi ﷺ semasa hidupnya, dan tidak boleh dilakukan pada selain beliau. Sementara sebagian ulama lain membolehkan tabarruk pada orang-orang saleh dengan syarat tertentu.
Namun, pendapat yang paling kuat adalah pendapat Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim, karena dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa tabarruk adalah kekhususan Nabi ﷺ, dan para sahabat tidak melakukan tabarruk pada selain beliau setelah beliau wafat.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ. Ia menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ memperlakukan orang-orang di sekitarnya dengan penuh kasih sayang dan kedermawanan.
Suatu hari, seorang wanita datang membawa kain burda (sejenis selimut bergaris) sebagai hadiah untuk Nabi ﷺ. Nabi ﷺ menerimanya karena beliau membutuhkannya, lalu memakainya. Seorang lelaki dari sahabat melihat kain itu dan berkata, "Wahai Rasulullah, alangkah indahnya kain itu. Berikanlah kepadaku."
Nabi ﷺ yang tidak pernah menolak permintaan langsung berkata, "Ya," dan memberikan kain itu kepadanya. Para sahabat yang lain menegur lelaki itu, "Engkau tidak berbuat baik. Engkau melihat Nabi ﷺ membutuhkan kain itu, lalu engkau memintanya. Engkau tahu bahwa beliau tidak pernah menolak permintaan."
Lelaki itu menjawab dengan tulus, "Aku hanya berharap keberkahan dari kain yang pernah dipakai Nabi ﷺ. Semoga aku bisa dikafani dengan kain ini."
Kisah ini menunjukkan betapa besar kecintaan para sahabat kepada Nabi ﷺ dan bagaimana mereka mencari keberkahan dari beliau. Ini juga menunjukkan betapa mulianya akhlak Nabi ﷺ yang tidak pernah menolak permintaan, bahkan dalam keadaan membutuhkan.
Kesimpulan Praktis
- Teladani kedermawanan Nabi ﷺ: Berusahalah untuk tidak menolak permintaan orang yang membutuhkan, terutama jika kita mampu memberinya.
- Jauhi sifat bakhil (pelit): Kebakhilan adalah sifat tercela yang harus dijauhi. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam bab tentang kedermawanan dan larangan kebakhilan.
- Pahami tabarruk dengan benar: Tabarruk (mencari berkah) hanya khusus pada Nabi ﷺ semasa hidupnya. Setelah beliau wafat, kita tidak boleh bertabarruk pada benda-benda tertentu, tetapi kita bisa mendapatkan keberkahan melalui Al-Qur'an, doa, dan amal saleh.
- Muliakan Nabi ﷺ: Para sahabat menunjukkan kecintaan dan penghormatan yang tinggi kepada Nabi ﷺ. Kita juga harus memuliakan beliau dengan mengikuti sunnahnya dan menjauhi larangannya.
- Berbaik sangka kepada sesama: Para sahabat awalnya menegur lelaki itu, tetapi setelah mendengar alasannya, mereka memahami maksudnya. Ini mengajarkan kita untuk berbaik sangka dan mendengar penjelasan sebelum menghukumi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.