Penjelasan Hadits Bukhari No. 6010 tentang Rahmat Allah luas, jangan dibatasi hanya untuk sebagian orang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang luasnya rahmat Allah ﷻ yang tidak terbatas. Seorang Badui berdoa agar rahmat Allah hanya untuk dirinya dan Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ menegur dengan lembut bahwa perbuatan itu berarti "membatasi" sesuatu yang sangat luas. Pelajaran utamanya: rahmat Allah itu untuk semua makhluk, dan seorang mukmin hendaknya mendoakan kebaikan untuk sesama, bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:

<p>حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي صَلاَةٍ وَقُمْنَا مَعَهُ، فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ وَهْوَ فِي الصَّلاَةِ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا، وَلاَ تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا. فَلَمَّا سَلَّمَ النَّبِيُّ ﷺ قَالَ لِلأَعْرَابِيِّ " لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا ". يُرِيدُ رَحْمَةَ اللَّهِ.</p>

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS. Al-A'raf [7]: 156)

Ayat ini menunjukkan bahwa rahmat Allah tidak terbatas dan meliputi seluruh makhluk-Nya, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama tafsir.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya, dan beliau menempatkannya dalam Kitab Al-Adab untuk menunjukkan adab seorang muslim dalam berdoa dan berinteraksi dengan sesama.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa makna "لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا" adalah engkau telah mempersempit dan membatasi sesuatu yang luas, yaitu rahmat Allah. Beliau menukil perkataan ulama bahwa rahmat Allah itu luas, tidak layak dibatasi hanya untuk orang tertentu.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Peristiwa ini terjadi ketika Nabi ﷺ sedang shalat berjamaah, dan seorang Badui (Arab pedalaman) yang mungkin belum paham adab-adab shalat dengan baik berdoa dengan suara keras di dalam shalatnya.

Doa Badui tersebut berbunyi: "Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad saja, dan jangan Engkau rahmati seorang pun bersama kami." Ini adalah doa yang lahir dari keegoisan dan keterbatasan pemahaman. Beliau mengira rahmat Allah itu seperti harta dunia yang bisa habis jika dibagikan kepada banyak orang.

Nabi ﷺ tidak marah, tidak membentak, dan tidak menghinanya. Setelah selesai shalat, beliau menegur dengan ucapan yang sangat dalam maknanya: "لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا" — "Engkau telah membatasi sesuatu yang sangat luas." Maksudnya, rahmat Allah itu maha luas, tidak bisa dibatasi dan tidak akan habis. Membatasi rahmat Allah hanya untuk segelintir orang adalah bentuk kebodohan dan kesempitan berpikir.

Penjelasan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa kata "حَجَّرْتَ" berasal dari kata "التحجير" yang berarti membuat pagar atau batas. Jadi maknanya: engkau telah membuat pagar pembatas pada sesuatu yang seharusnya tidak dibatasi, yaitu rahmat Allah yang luas.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (hadits serupa juga diriwayatkan Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menegur kesalahan dalam shalat setelah selesai, dan juga menunjukkan bahwa rahmat Allah tidak boleh dipersempit.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa pelajaran dari hadits ini adalah seorang muslim hendaknya mendoakan kebaikan untuk semua orang, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Karena rahmat Allah itu luas, dan doa untuk sesama adalah bagian dari akhlak mulia.

Pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Luasnya rahmat Allah — Rahmat Allah tidak terbatas dan tidak bisa habis. Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tanpa mengurangi rahmat untuk yang lain.
  2. Adab berdoa — Seorang muslim hendaknya berdoa dengan adab yang baik, termasuk mendoakan kebaikan untuk sesama muslim, bukan hanya untuk diri sendiri.
  3. Kelembutan Nabi ﷺ dalam menasihati — Nabi ﷺ tidak marah kepada Badui tersebut, tetapi menasihatinya dengan bijak dan lembut. Ini adalah teladan dalam berdakwah dan menasihati orang yang belum paham.
  4. Larangan sifat egois — Islam mengajarkan untuk mencintai saudara sesama muslim sebagaimana mencintai diri sendiri, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang luasnya rahmat Allah yang diriwayatkan dari para ulama salaf. Dikisahkan bahwa Imam Al-Hasan al-Bashri — seorang ulama besar tabi'in — pernah ditanya tentang rahmat Allah. Beliau menjawab dengan menangis, kemudian berkata: "Rahmat Allah itu begitu luas, hingga seorang hamba yang berdosa pun berharap mendapatkannya. Dan Allah lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya."

Kisah lain, Imam Fudhail bin 'Iyadh — seorang ulama zuhud yang sangat takut kepada Allah — pernah berdoa: "Ya Allah, Engkau Maha Luas rahmat-Mu. Aku hamba yang penuh dosa, namun aku tidak berputus asa dari rahmat-Mu. Sungguh, jika Engkau memasukkan seluruh makhluk-Mu ke dalam surga, itu tidak akan mengurangi rahmat-Mu sedikit pun."

Kisah-kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf memahami luasnya rahmat Allah. Mereka tidak pernah membatasi rahmat Allah hanya untuk golongan tertentu, karena mereka tahu bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu.

Kesimpulan Praktis

Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Perluas doa untuk sesama — Jangan hanya mendoakan diri sendiri dan keluarga, tetapi doakan juga kaum muslimin seluruhnya. Karena rahmat Allah itu luas dan tidak akan habis dibagikan.
  2. Jangan egois dalam kebaikan — Jika kita mendapat ilmu, rezeki, atau kebaikan, jangan pelit untuk berbagi dan mendoakan orang lain mendapat kebaikan yang sama.
  3. Teladani kelembutan Nabi ﷺ — Ketika menasihati orang yang salah, gunakan cara yang lembut dan bijak, jangan kasar dan menghakimi.
  4. Pahami luasnya rahmat Allah — Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, dan jangan pula membatasi rahmat-Nya hanya untuk orang-orang tertentu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?