Penjelasan Hadits Bukhari No. 6008 tentang Kasih sayang Nabi dan perintah mengajarkan agama kepada keluarga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi ﷺ kepada para sahabatnya, terutama para pemuda yang jauh dari keluarga. Beliau tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga memperhatikan perasaan dan kondisi mereka. Hadits ini juga mengajarkan pentingnya mengajarkan agama kepada keluarga, menunaikan shalat sesuai tuntunan Nabi ﷺ, serta adab dalam berjamaah: adzan dan yang tertua menjadi imam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab (Akhlak), Bab Kasih Sayang kepada Manusia dan Hewan, no. 6008. Perawinya adalah Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang datang bersama rombongan pemuda dari Bani Layts untuk belajar Islam langsung kepada Nabi ﷺ.

Hadits ini juga memiliki riwayat serupa dalam Shahih Muslim, dan Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim bahwa hadits ini mengandung banyak pelajaran penting, di antaranya kasih sayang Nabi ﷺ, perintah mengajarkan ilmu kepada keluarga, dan tata cara shalat berjamaah.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kasih sayang dan pengajaran keluarga:

QS. At-Tahrim [66]: 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan seorang muslim untuk mengajarkan ilmu dan adab kepada keluarganya agar mereka terjaga dari neraka. Ini sejalan dengan perintah Nabi ﷺ dalam hadits di atas: "Kembalilah kepada keluarga kalian dan ajarkanlah mereka."

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran utama yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

1. Kasih sayang Nabi ﷺ kepada para sahabat

Nabi ﷺ menyadari bahwa para pemuda ini telah meninggalkan keluarga mereka selama dua puluh malam. Beliau bertanya tentang siapa yang mereka tinggalkan, lalu memerintahkan mereka pulang. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi juga memperhatikan kondisi jiwa dan keluarga para sahabat. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah bentuk tarbiyah (pendidikan) Nabi ﷺ yang penuh hikmah: beliau mengutamakan kemaslahatan keluarga para sahabat tanpa mengabaikan pengajaran agama.

2. Perintah mengajarkan agama kepada keluarga

Sabda beliau "فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ" (ajarkanlah mereka dan perintahkanlah mereka) menunjukkan kewajiban seorang muslim untuk menjadi guru bagi keluarganya. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini mencakup pengajaran tauhid, shalat, akhlak, dan seluruh perkara agama. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitabnya juga menekankan bahwa kepala keluarga bertanggung jawab atas pendidikan agama keluarganya.

3. Shalat sesuai tuntunan Nabi ﷺ

Sabda "وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي" (shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat) adalah kaidah emas dalam fiqih shalat. Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik menjadikan hadits ini sebagai dalil utama bahwa shalat harus mengikuti tata cara Nabi ﷺ secara praktis, bukan hanya secara teori. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa perbuatan Nabi ﷺ (fi'liyah) adalah sumber hukum dalam ibadah.

4. Adzan dan imam dalam shalat berjamaah

Sabda "فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ" (hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, kemudian yang tertua di antara kalian menjadi imam) menunjukkan dua hukum penting:

  • Disyariatkannya adzan sebelum shalat berjamaah.
  • Yang lebih tua lebih berhak menjadi imam jika tidak ada yang lebih faqih (lebih paham agama).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa dalam konteks ini, Nabi ﷺ memerintahkan yang tertua karena mereka semua setara dalam ilmu. Namun jika ada yang lebih faqih, maka yang lebih faqih didahulukan, sebagaimana hadits lain yang shahih.

5. Perbedaan pendapat di antara ulama

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih berhak menjadi imam: yang lebih tua atau yang lebih faqih. Imam Ahmad dan jumhur ulama berpendapat bahwa yang lebih faqih lebih didahulukan, berdasarkan hadits "يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ" (yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling hafal Al-Qur'an). Namun dalam kondisi setara ilmu, yang lebih tua didahulukan. Ini adalah pendapat yang paling kuat dan dipegang oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu 'anhu dan rombongannya adalah para pemuda dari Bani Layts yang datang ke Madinah dengan semangat belajar. Mereka tinggal selama dua puluh hari, belajar shalat, wudhu, dan dasar-dasar Islam. Ketika Nabi ﷺ melihat mereka mulai rindu keluarga, beliau tidak menahan mereka untuk tetap tinggal. Sebaliknya, beliau mengutus mereka pulang dengan membawa ilmu.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Malik bin Al-Huwairits kemudian menjadi tokoh yang mengajarkan shalat kepada kaumnya. Ia pernah berkata kepada penduduk Basrah: "Aku akan shalat bersama kalian sebagaimana aku melihat Nabi ﷺ shalat." Ini menunjukkan bahwa ilmu yang beliau bawa dari Madinah benar-benar diamalkan dan diajarkan.

Hikmahnya: seorang penuntut ilmu tidak boleh hanya menimba ilmu untuk dirinya sendiri, tetapi harus kembali kepada keluarganya dan masyarakatnya untuk mengajarkan apa yang telah dipelajari. Inilah yang dicontohkan oleh para salaf seperti Al-Hasan Al-Bashri, Sa'id bin Al-Musayyib, dan lainnya yang menjadi imam dalam ilmu dan pengajaran.

Kesimpulan Praktis

  1. Ajarkan agama kepada keluarga — Jadikan rumah sebagai madrasah pertama. Ajarkan tauhid, shalat, akhlak, dan adab kepada istri, anak, dan keluarga.
  2. Shalat sesuai sunnah Nabi ﷺ — Pelajari tata cara shalat dari hadits-hadits shahih dan amalkan sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya.
  3. Tunaikan shalat berjamaah — Jika memungkinkan, shalat berjamaah di masjid atau di rumah. Kumandangkan adzan dan pilih imam yang paling faqih atau paling tua di antara yang setara.
  4. Perhatikan keluarga — Jangan sampai ibadah dan aktivitas dakwah membuat kita melupakan hak keluarga. Nabi ﷺ mengajarkan keseimbangan antara ibadah, ilmu, dan keluarga.
  5. Kasih sayang dalam mendidik — Didiklah keluarga dengan lembut dan penuh kasih, sebagaimana Nabi ﷺ mendidik para sahabatnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?