Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa rahmat Allah itu sangat luas, jauh melebihi kasih sayang yang kita lihat di dunia. Seluruh kasih sayang yang ada di alam semesta, dari seorang ibu kepada anaknya hingga hewan kepada anaknya, hanyalah satu bagian dari seratus bagian rahmat Allah. Sembilan puluh sembilan bagian lainnya disimpan Allah untuk diberikan kepada hamba-Nya yang bertakwa di hari Kiamat kelak. Ini menunjukkan betapa besar dan sempurnanya rahmat Allah, serta menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa berharap dan berusaha meraihnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ
"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."
(QS. Al-A'raf [7]: 156)
Hadits:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab Allah Menjadikan Rahmat Seratus Bagian, nomor 6000. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab At-Taubah, Bab Rahmat Allah Lebih Luas dari Siksa-Nya, nomor 2752.
Penjelasan Ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (17/67) menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah Allah Ta'ala menciptakan rahmat (kasih sayang) menjadi seratus bagian. Satu bagian Dia turunkan ke bumi, dan darinya tercipta seluruh bentuk kasih sayang yang ada di antara makhluk, termasuk kasih sayang ibu kepada anaknya dan hewan kepada anaknya. Adapun sembilan puluh sembilan bagian sisanya, Dia khususkan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman di hari Kiamat kelak.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin (1/47) menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah. Kasih sayang yang kita lihat di dunia hanyalah setetes dari lautan rahmat-Nya. Ini seharusnya membuat seorang mukmin sangat berharap kepada rahmat Allah dan tidak pernah berputus asa dari-Nya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung tentang luasnya rahmat Allah. Mari kita pahami maknanya secara lebih mendalam:
- "Allah menjadikan rahmat seratus bagian..." : Ini adalah permisalan dari Allah untuk mendekatkan pemahaman kepada kita. Rahmat Allah adalah satu sifat yang sempurna dan tak terbatas, namun Allah menggambarkannya dalam bentuk bagian-bagian agar kita bisa membayangkan betapa besarnya kasih sayang-Nya.
- "...lalu Dia menahan sembilan puluh sembilan bagian di sisi-Nya..." : Bagian yang sangat besar ini adalah rahmat khusus yang Allah simpan untuk hari Kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain dari Imam Muslim, "Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat, satu di antaranya Dia turunkan ke bumi untuk jin, manusia, hewan, dan serangga. Dengan rahmat itulah mereka saling menyayangi dan berkasih sayang, dan dengan rahmat itulah hewan liar menyayangi anaknya. Dan Allah menahan sembilan puluh sembilan rahmat untuk menyayangi hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat." (HR. Muslim, no. 2753). Ini adalah kabar gembira yang luar biasa bagi orang-orang beriman.
- "...dan menurunkan satu bagian di bumi..." : Satu bagian rahmat inilah yang tersebar di seluruh alam. Dari bagian inilah lahir semua bentuk kasih sayang, cinta, dan belas kasih yang kita saksikan. Kasih sayang seorang ibu yang begitu tulus, persahabatan, bahkan naluri induk hewan melindungi anaknya, semuanya berasal dari satu bagian rahmat Allah ini.
- "...sehingga kuda pun mengangkat kakinya dari anaknya karena takut menginjaknya." : Ini adalah contoh konkret yang sangat indah. Seekor kuda betina yang biasanya kuat, dengan hati-hati mengangkat kakinya saat melangkahi anaknya yang masih kecil. Ini adalah bukti nyata adanya rahmat yang Allah tanamkan pada makhluk-Nya.
Kesimpulan dari penjelasan para ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/440) mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan betapa sempurnanya rahmat Allah dan bahwa kasih sayang di dunia hanyalah sedikit dibandingkan dengan apa yang Dia simpan untuk hamba-Nya di akhirat.
- Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini adalah dorongan kuat bagi seorang mukmin untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Jika satu bagian saja sudah menghasilkan begitu banyak kasih sayang di dunia, maka bagaimana dengan sembilan puluh sembilan bagian yang disimpan untuk hari yang paling membutuhkan rahmat, yaitu hari Kiamat?
Story Telling
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menulis dalam sebuah kitab yang ada di sisi-Nya di atas 'Arsy: 'Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.'" (HR. Al-Bukhari, no. 3194 dan Muslim, no. 2751)
Kisah ini mengajarkan kita bahwa rahmat Allah adalah sifat yang dominan. Sejak awal penciptaan, Allah telah menetapkan bahwa rahmat-Nya lebih luas dan lebih dahulu daripada murka-Nya. Ini adalah kabar gembira yang sangat menenangkan hati. Jangan pernah merasa bahwa dosa kita terlalu besar sehingga Allah tidak akan mengampuni kita. Selama kita bertaubat dan kembali kepada-Nya, pintu rahmat-Nya selalu terbuka lebar.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah akan luasnya rahmat Allah. Jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya, betapa pun besarnya dosa yang kita lakukan.
- Berharaplah hanya kepada Allah. Karena hanya Dialah yang memiliki rahmat yang sempurna dan abadi. Kasih sayang makhluk hanyalah sementara dan terbatas.
- Jadilah pribadi yang penyayang. Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang). Sayangilah siapa yang di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh yang di langit." (HR. Abu Dawud, no. 4941, dishahihkan Al-Albani). Dengan menyayangi makhluk Allah, kita sedang meneladani sifat rahmat Allah dan berharap mendapatkan rahmat-Nya yang besar.
- Perbanyaklah istighfar dan taubat. Karena rahmat Allah disediakan khusus bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan beriman.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.