Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar merawat dan berbuat baik kepada anak-anak perempuan. Nabi ﷺ menjanjikan bahwa siapa yang menanggung, merawat, dan memperlakukan anak perempuan dengan baik, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka. Hadits ini juga memuji kelembutan seorang ibu yang mendahulukan anaknya meski hanya punya satu butir kurma.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. At-Takwir [81]: 8-9
وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ
Terjemahan: "Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, dosa apa yang menyebabkan ia dibunuh?"
Ayat ini menunjukkan betapa Islam memuliakan anak perempuan, setelah sebelumnya di masa jahiliyah mereka direndahkan bahkan dikubur hidup-hidup. Ibn Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayat ini merupakan teguran keras bagi orang yang menzalimi anak perempuan.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adab, Bab Rahmatul Walad wa Mu'anqatuhu (Bab Kasih Sayang kepada Anak dan Mencium serta Memeluknya), nomor 5995. Perawi jalurnya: Abu Al-Yaman → Syu'aib → Az-Zuhri → Abdullah bin Abu Bakr → Urwah bin Az-Zubair → Aisyah radhiyallahu 'anha.
Hadits senada juga diriwayatkan Imam Muslim dari Anas bin Malik, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dengan makna yang sama tentang keutamaan merawat anak perempuan.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini berisi kisah seorang wanita miskin yang datang kepada Aisyah radhiyallahu 'anha bersama dua anak perempuannya untuk meminta bantuan. Aisyah hanya memiliki satu butir kurma, dan memberikannya kepada wanita itu. Wanita tersebut tidak memakan kurma itu sendiri, melainkan membaginya kepada kedua putrinya. Kemudian Nabi ﷺ masuk, dan Aisyah menceritakan kejadian itu. Nabi ﷺ lalu bersabda bahwa siapa yang diberi tanggung jawab merawat anak perempuan lalu berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak itu akan menjadi pelindung dari api neraka.
Pemahaman para ulama:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar membesarkan anak perempuan, dan bahwa pahala tersebut khusus bagi yang memperlakukan mereka dengan baik. Beliau juga menyebutkan bahwa penyebutan "anak perempuan" secara khusus karena pada masa itu banyak orang tidak senang memiliki anak perempuan, sehingga Islam memberi dorongan besar untuk memuliakan mereka.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kata "سِتْرًا" (penghalang/pelindung) bermakna bahwa anak-anak perempuan tersebut akan menjadi sebab seseorang dijauhkan dari neraka, baik dengan doa mereka, syafaat mereka, atau karena pahala kesabaran orang tua dalam merawat mereka.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa hadits ini termasuk bab keutamaan berbuat baik kepada keluarga, khususnya anak perempuan, dan bahwa pahala besar diberikan bagi orang yang bersabar dalam mendidik dan menafkahi mereka.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Tuhfatul Maudud (kitab khusus tentang hukum dan adab anak) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Islam terhadap anak perempuan, dan bahwa merawat mereka dengan baik adalah ibadah yang berpahala besar.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama menjelaskan bahwa keutamaan ini berlaku umum untuk anak laki-laki dan perempuan, namun penyebutan anak perempuan secara khusus karena konteksnya dan karena pada masa itu anak perempuan sering ditelantarkan. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa keutamaan ini mencakup semua anak, namun anak perempuan mendapat penekanan khusus karena kondisi sosial saat itu dan karena mereka lebih lemah serta lebih membutuhkan perlindungan.
Story Telling
Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa seorang wanita miskin datang kepadanya dengan membawa dua anak perempuannya. Wanita itu meminta bantuan, namun Aisyah hanya memiliki satu butir kurma. Aisyah memberikan kurma itu kepadanya. Wanita itu tidak memakan kurma tersebut, melainkan membaginya kepada kedua putrinya — masing-masing mendapat separuh. Setelah itu ia bangkit dan pergi.
Ketika Nabi ﷺ masuk, Aisyah menceritakan apa yang baru saja terjadi. Nabi ﷺ lalu menyampaikan sabdanya yang penuh harapan dan kabar gembira: bahwa siapa yang merawat anak perempuan dengan baik, mereka akan menjadi pelindung dari api neraka.
Kisah ini menggambarkan kelembutan hati seorang ibu yang mendahulukan anaknya meski dirinya sendiri kekurangan, dan bagaimana Nabi ﷺ menghargai perbuatan tersebut dengan memberikan kabar gembira yang besar. Ini juga menunjukkan bahwa amal kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh kasih sayang memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah.
Kesimpulan Praktis
- Berbuat baik kepada anak perempuan adalah ibadah yang berpahala besar — mereka bisa menjadi pelindung dari api neraka bagi orang tua yang merawat mereka dengan baik.
- Kasih sayang kepada anak adalah bagian dari ajaran Islam — Nabi ﷺ sendiri sangat penyayang kepada anak-anak, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits.
- Mendahulukan kebutuhan anak adalah tanda keimanan — seperti yang dicontohkan wanita dalam hadits ini yang tidak memakan kurma itu sendiri, melainkan memberikannya kepada anak-anaknya.
- Jangan merendahkan anak perempuan — Islam memuliakan mereka, berbeda dengan kebiasaan jahiliyah yang membenci anak perempuan.
- Pendidikan dan perawatan anak adalah tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan — namun bagi yang menjalankannya dengan baik, ada pahala besar yang dijanjikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.