Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5993 tentang Kasih sayang Nabi kepada anak kecil

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ yang luar biasa kepada anak-anak, termasuk kepada anak non-muslim sekalipun. Beliau memuji pakaian anak tersebut dengan bahasa yang indah, membiarkannya bermain dengan cincin kenabian, dan mendoakannya dengan umur panjang. Ini adalah teladan agung dalam bersikap lembut, memuliakan anak, dan tidak menghardik mereka meskipun dalam urusan yang tampak sepele.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Man Taraka ash-Shabiyya hatta yal'aba bihi au yubasysyirahu au yuda'ibahu (Bab Siapa yang Meninggalkan Anak Lain Hingga Ia Bermain atau Menciumnya atau Menggoda), no. 5993. Dari Ummu Khalid binti Khalid bin Sa'id radhiyallahu 'anha.

Penjelasan Ulama:

  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (10/439-440) menjelaskan bahwa kata "سَنَهْ سَنَهْ" (sanah sanah) adalah bahasa Habasyah (Ethiopia) yang berarti "hasanah hasanah" (bagus, bagus). Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memuji pakaian anak tersebut dengan bahasa yang ia pahami, sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (15/82) ketika membahas hadits serupa menekankan bahwa sikap Nabi ﷺ yang membiarkan anak bermain dengan cincin kenabian adalah bukti kelembutan dan kesabaran beliau dalam mendidik anak, serta tidak memarahi mereka karena hal-hal yang tidak membahayakan.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (3/234) menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ "أَبْلِي وَأَخْلِقِي" (semoga engkau hidup lama sehingga pakaianmu usang) adalah doa kebaikan untuk umur panjang dan keberkahan. Ini bukan sekadar doa biasa, tetapi mengandung harapan agar anak tersebut terus hidup dalam ketaatan dan kebaikan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Ummu Khalid binti Khalid bin Sa'id, seorang sahabat wanita yang masih kecil ketika bersama ayahnya menemui Nabi ﷺ. Ayahnya, Khalid bin Sa'id, adalah salah satu sahabat yang mulia. Saat itu Ummu Khalid mengenakan baju berwarna kuning, dan Nabi ﷺ langsung memujinya dengan bahasa Habasyah: "Sanah Sanah" yang artinya "Bagus, bagus."

Pelajaran pertama: Nabi ﷺ menguasai atau setidaknya memahami beberapa kata dari bahasa lain, dan beliau menggunakannya untuk berkomunikasi dengan anak kecil agar ia merasa dihargai. Ini menunjukkan bahwa seorang pendidik atau orang tua hendaknya berusaha memahami dunia anak dan berkomunikasi dengan cara yang mereka pahami.

Pelajaran kedua: Ketika Ummu Khalid mulai bermain dengan cincin kenabian (خاتم النبوة) yang ada di punggung Nabi ﷺ, ayahnya langsung menegurnya. Namun Nabi ﷺ melarang ayahnya dengan berkata, "Biarkan dia." Ini menunjukkan bahwa anak-anak perlu diberi ruang untuk bermain dan bereksplorasi, selama tidak membahayakan. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa sikap ini adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) dan kasih sayang Nabi ﷺ, serta pengajaran bahwa memarahi anak secara berlebihan justru bisa membuat mereka takut dan kehilangan rasa percaya diri.

Pelajaran ketiga: Doa Nabi ﷺ "أَبْلِي وَأَخْلِقِي" (semoga engkau hidup lama sehingga pakaianmu usang) adalah doa yang penuh makna. Syaikh as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa doa ini mengandung harapan agar anak tersebut panjang umur, sehat, dan terus mendapatkan kebaikan. Kata "أَبْلِي" (abli) berarti semoga pakaianmu menjadi usang karena sering dipakai, dan "أَخْلِقِي" (akhliqi) berarti semoga engkau menggantinya dengan yang baru. Ini adalah doa untuk keberkahan umur dan rezeki.

Perbedaan pendapat ulama: Tidak ada perbedaan signifikan dalam memahami hadits ini. Semua ulama sepakat bahwa hadits ini menunjukkan akhlak mulia Nabi ﷺ dalam memperlakukan anak-anak. Imam al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab yang menunjukkan bahwa meninggalkan anak bermain, menciumnya, atau menggoda mereka adalah bagian dari adab Islam yang mulia.

Story Telling

Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, beliau berkata: "Dahulu para sahabat Rasulullah ﷺ, mereka sangat menyayangi anak-anak. Jika seorang anak datang kepada mereka, mereka akan mengusap kepalanya, tersenyum, dan berbicara dengan lembut. Mereka tidak pernah menghardik anak-anak, meskipun anak-anak itu kadang mengganggu majelis mereka." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dengan sanad yang shahih)

Kisah ini mengingatkan kita bahwa generasi terbaik umat ini adalah mereka yang paling lembut kepada anak-anak. Mereka tidak menganggap anak-anak sebagai beban, tetapi sebagai amanah yang harus dididik dengan cinta dan kesabaran.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersikaplah lembut kepada anak-anak, meskipun mereka bukan dari keluarga kita. Nabi ﷺ bersikap lembut kepada Ummu Khalid yang masih kecil dan bukan mahramnya.
  2. Gunakan bahasa yang dipahami anak untuk memuji dan menyemangati mereka. Ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan cinta mereka kepada kita.
  3. Jangan mudah memarahi anak karena hal-hal yang tidak membahayakan. Biarkan mereka bermain dan bereksplorasi, karena itu adalah fitrah mereka.
  4. Doakan anak-anak dengan doa yang baik, seperti doa panjang umur dalam ketaatan, keberkahan, dan kebaikan.
  5. Teladani Nabi ﷺ dalam setiap interaksi dengan anak-anak, karena beliau adalah suri teladan yang paling sempurna.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.