Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pada awalnya suka menyesuaikan diri dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam hal-hal yang tidak ada perintah khusus dari Allah. Salah satu contohnya adalah cara mengatur rambut. Ahli Kitab biasa membiarkan rambut mereka terurai (tidak dibelah), sementara orang musyrik membelah rambut mereka. Maka Nabi ﷺ pun awalnya membiarkan rambutnya terurai, tetapi kemudian beliau membelahnya setelah turun perintah untuk berbeda dari Ahli Kitab. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya menyelisihi kebiasaan orang-orang yang menyimpang dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Maidah [5]: 48
وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
"Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan."
Hadits terkait:
Hadits yang dimaksud adalah Shahih Al-Bukhari no. 5917, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2336) dengan redaksi yang serupa.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (10/357) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebolehan menyesuaikan diri dengan Ahli Kitab dalam perkara yang tidak ada perintah syariat, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, setelah syariat datang dengan perintah untuk berbeda, maka wajib menyelisihi mereka.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14/96) juga menjelaskan bahwa kebiasaan Nabi ﷺ yang awalnya suka menyesuaikan diri dengan Ahli Kitab adalah karena beliau mengharapkan mereka akan lebih mudah menerima Islam. Namun, setelah mereka tetap dalam kekufuran, beliau diperintahkan untuk berbeda.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan pelajaran penting tentang sikap seorang muslim terhadap non-muslim, khususnya Ahli Kitab. Berikut penjelasan rincinya:
- Makna "Muwaafaqah" (Menyesuaikan Diri): Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pada awalnya suka menyesuaikan diri dengan Ahli Kitab dalam perkara-perkara yang tidak ada perintah khusus dari Allah. Ini bukan berarti beliau mengikuti agama mereka, tetapi lebih kepada strategi dakwah dan kebiasaan yang tidak dilarang. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hal ini dilakukan karena Ahli Kitab memiliki kitab suci dan diharapkan lebih dekat kepada kebenaran.
- Perbedaan Cara Mengatur Rambut:
- Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani): Mereka membiarkan rambut mereka terurai (tidak dibelah), sehingga rambut mereka jatuh ke depan atau ke samping secara alami.
- Orang Musyrik (Penyembah Berhala): Mereka membelah rambut mereka menjadi dua bagian (belahan di tengah), sehingga rambut terbagi rapi ke kiri dan kanan.
- Perubahan Sikap Nabi ﷺ: Pada awalnya, Nabi ﷺ mengikuti kebiasaan Ahli Kitab dengan membiarkan rambutnya terurai. Namun, kemudian beliau membelah rambutnya (mengikuti kebiasaan orang musyrik). Perubahan ini terjadi setelah turun perintah untuk menyelisihi Ahli Kitab dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka. Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam hadits lain (no. 5892) bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai rambut mereka, maka selisihilah mereka."
- Pelajaran Utama:
- Tidak boleh tasyabbuh (meniru) secara mutlak: Umat Islam dilarang meniru kebiasaan khusus yang menjadi identitas agama lain, terutama jika tujuannya untuk menyerupai mereka.
- Prioritas pada perintah syariat: Jika ada perintah atau larangan dari Allah dan Rasul-Nya, maka itu yang harus didahulukan, bukan kebiasaan atau tradisi.
- Hikmah di balik perintah berbeda: Perintah untuk menyelisihi Ahli Kitab dan orang musyrik adalah untuk menjaga identitas umat Islam dan menghindari pencampuradukan ajaran.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
> "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Selisihilah orang-orang musyrik, cukurlah kumis dan peliharalah jenggot.'" (HR. Al-Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259)
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya bagi seorang muslim untuk memiliki identitas yang jelas dan tidak meniru kebiasaan orang-orang kafir, baik dalam hal ibadah maupun kebiasaan sehari-hari. Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa perintah menyelisihi ini mencakup perkara yang menjadi ciri khas mereka, seperti cara berpakaian, cara berbicara, dan cara berpenampilan. Namun, jika suatu kebiasaan tidak menjadi ciri khas mereka dan tidak bertentangan dengan syariat, maka tidak mengapa melakukannya.
Kesimpulan Praktis
- Jaga identitas Islam: Hindari meniru kebiasaan yang menjadi ciri khas agama atau budaya non-muslim, terutama jika tujuannya untuk menyerupai mereka.
- Utamakan dalil: Dalam setiap perkara, kembalilah kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan kepada kebiasaan atau tradisi yang bertentangan.
- Bersikap bijak: Tidak semua kebiasaan non-muslim dilarang. Yang dilarang adalah yang menjadi syiar atau identitas agama mereka, atau yang bertentangan dengan syariat.
- Niat yang benar: Jika melakukan sesuatu yang juga dilakukan non-muslim, pastikan niatnya bukan untuk meniru mereka, tetapi karena ada dalil atau manfaat yang dibenarkan syariat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.