Penjelasan Hadits Bukhari No. 5861 tentang Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang berkesinambungan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua hal penting: pertama, bolehnya menggunakan tikar atau alas untuk shalat dan duduk, sebagai bentuk kemudahan dan keindahan dalam ibadah. Kedua, dan ini inti utamanya, bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (istiqamah), meskipun jumlahnya sedikit. Allah tidak pernah bosan menerima amalan hamba-Nya, justru kitalah yang mudah bosan. Maka, syariat menganjurkan kita untuk beramal sesuai kemampuan, yang penting istiqamah, bukan memaksakan diri hingga akhirnya berhenti total.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Pakaian, Bab Duduk di Atas Tikar dan Sejenisnya, nomor 5861, dari sahabat 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir, dari jalur yang sama.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah semampu kalian."

(QS. At-Taghabun [64]: 16)

Ayat ini adalah prinsip dasar bahwa syariat tidak membebani hamba di luar kemampuannya, dan ini sejalan dengan pesan hadits di atas.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah dari hadits ini:

1. Tentang Kebolehan Menggunakan Tikar (Hasir)

Imam Al-Bukhari membawakan hadits ini dalam "Kitab Pakaian" pada bab "Duduk di Atas Tikar dan Sejenisnya" untuk menunjukkan bahwa menggunakan tikar, permadani, atau alas duduk adalah perkara yang dibolehkan dan dilakukan oleh Nabi ﷺ. Ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang berlebihan dalam zuhud hingga menganggap duduk di atas alas yang nyaman sebagai sesuatu yang tercela. Nabi ﷺ sendiri duduk di atas hasir (tikar dari daun kurma), dan ini menunjukkan bahwa menggunakan fasilitas duniawi yang halal tidaklah bertentangan dengan kesederhanaan.

2. Tentang Amalan yang Paling Dicintai Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan amalan yang langgeng (dawam) meskipun sedikit, karena amalan yang langgeng akan lebih banyak dikerjakan secara kumulatif dibanding amalan besar yang hanya sesekali. Beliau juga menegaskan bahwa istiqamah dalam amalan kecil adalah tanda kecintaan dan keikhlasan, karena setan selalu berusaha memalingkan hamba dari amalan yang rutin.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa makna "أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ" (amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit) adalah bahwa amalan yang sedikit namun rutin lebih baik daripada amalan banyak namun terputus. Beliau menukil perkataan sebagian ulama salaf: "Amalan yang sedikit namun terus-menerus lebih baik daripada amalan yang banyak namun terputus, karena amalan yang langgeng meskipun sedikit akan mengalahkan amalan yang banyak namun terputus dalam hal pahala."

3. Tentang Makna "Allah Tidak Bosan Hingga Kalian Bosan"

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa makna kalimat ini adalah Allah tidak akan menghentikan pahala dan ganjaran-Nya kepada hamba selama hamba tersebut tidak bosan dan berhenti beramal. Ini adalah dorongan yang sangat besar agar kita tidak putus asa dan tidak berhenti beramal. Jika kita berhenti, maka kitalah yang merugi, bukan Allah.

4. Tentang Kisah di Balik Hadits

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan konteks hadits ini. Awalnya Nabi ﷺ shalat malam sendirian di atas hasir. Ketika orang-orang mengetahui hal itu, mereka mulai ikut shalat di belakang beliau. Jumlah mereka semakin banyak. Kemudian Nabi ﷺ berhenti keluar untuk shalat berjamaah bersama mereka, dan beliau menjelaskan alasannya dalam hadits lain bahwa beliau khawatir shalat malam itu akan diwajibkan kepada umatnya. Maka beliau memberikan nasihat ini agar mereka tidak memaksakan diri di luar kemampuan, karena yang penting adalah istiqamah.

5. Pelajaran tentang Adab dan Kasih Sayang Nabi ﷺ

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya. Beliau tidak membiarkan para sahabat memaksakan diri dalam ibadah hingga bisa menyebabkan mereka bosan dan meninggalkan ibadah sama sekali. Ini adalah prinsip penting dalam syariat: "Agama ini mudah, dan tidaklah seseorang memaksakan diri dalam agama kecuali ia akan dikalahkan." (HR. Al-Bukhari, dari Abu Hurairah).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma pernah sangat bersemangat dalam beribadah hingga ia hampir tidak tidur di malam hari dan berpuasa hampir setiap hari. Ketika Nabi ﷺ mengetahuinya, beliau bersabda kepadanya:

"Wahai Abdullah, aku mendengar bahwa engkau berpuasa setiap hari dan shalat sepanjang malam. Janganlah engkau lakukan itu, karena sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Berpuasalah dan berbukalah, shalatlah dan tidurlah. Berpuasalah tiga hari dalam sebulan, karena satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, dan itu seperti puasa setahun penuh."

Abdullah terus meminta tambahan, dan Nabi ﷺ terus menguranginya hingga akhirnya beliau bersabda: "Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, itu adalah puasa Nabi Dawud 'alaihissalam, dan itu adalah puasa yang paling utama." Abdullah pun berkata di akhir hayatnya: "Aduhai, sekiranya aku menerima keringanan yang diberikan Rasulullah ﷺ dahulu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hikmahnya: Semangat yang berlebihan tanpa memperhatikan kemampuan diri justru bisa berujung pada penyesalan dan berhenti total. Jalan yang paling dicintai Allah adalah jalan yang sederhana namun istiqamah.

Kesimpulan Praktis

  1. Gunakan fasilitas yang halal seperti tikar, karpet, atau alas shalat yang nyaman. Ini bukan bertentangan dengan zuhud.
  2. Jangan memaksakan diri dalam ibadah di luar batas kemampuan, karena itu bisa menyebabkan kebosanan dan berhenti total.
  3. Utamakan istiqamah dalam amalan, meskipun sedikit. Satu amalan kecil yang rutin lebih dicintai Allah daripada amalan besar yang hanya sesekali.
  4. Jaga keseimbangan antara hak Allah, hak tubuh, hak keluarga, dan hak orang lain. Jangan sampai ibadah membuat kita lalai terhadap kewajiban lainnya.
  5. Jangan pernah berhenti beramal, karena Allah tidak bosan menerima amalan kita. Jika kita berhenti, kitalah yang rugi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?