Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan kecintaan para sahabat kepada Nabi ﷺ. Mereka sangat mengagungkan dan menghormati beliau, bahkan terhadap sisa air wudhu beliau sekalipun. Mereka berebut untuk mendapatkan air wudhu tersebut dan mengusapkannya ke tubuh mereka sebagai bentuk tabarruk (mencari berkah) dari peninggalan Nabi ﷺ. Hadits ini juga menunjukkan bahwa para sahabat sangat bersemangat dalam meraih kebaikan dan keberkahan, serta mengajarkan kita tentang adab dan cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Pakaian, Bab Khemah Merah dari Kulit, nomor 5859, dari sahabat Abu Juhaifah Wahb bin 'Abdillah As-Suwa'i radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ، قَالَ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ وَهْوَ فِي قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ، وَرَأَيْتُ بِلاَلًا أَخَذَ وَضُوءَ النَّبِيِّ ﷺ وَالنَّاسُ يَبْتَدِرُونَ الْوَضُوءَ، فَمَنْ أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا تَمَسَّحَ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يُصِبْ مِنْهُ شَيْئًا أَخَذَ مِنْ بَلَلِ يَدِ صَاحِبِهِ.
Terjemahan: "Aku datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau berada di dalam khemah merah dari kulit, dan aku melihat Bilal mengambil sisa air wudhu Nabi ﷺ, dan orang-orang berebut untuk mendapatkan air wudhu tersebut. Siapa yang mendapatkan sesuatu darinya, maka ia mengusapkannya (ke badannya), dan siapa yang tidak mendapatkan sesuatu darinya, maka ia mengambil dari kelembapan tangan temannya (lalu mengusapkannya)."
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
QS. Al-Hasyr [59]: 7 tentang kewajiban mengikuti perintah Nabi ﷺ dan menjauhi larangannya:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."
Kaitan dengan ulama: Peristiwa ini menunjukkan betapa para sahabat sangat mencintai Nabi ﷺ, dan hal ini dijelaskan oleh para ulama seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) dan Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim sebagai bentuk penghormatan dan cinta yang dibenarkan selama tidak mengandung unsur syirik atau keyakinan bahwa air tersebut memiliki kekuatan gaib dengan sendirinya, melainkan sebagai berkah dari Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Cinta dan Penghormatan Sahabat kepada Nabi ﷺ
Para sahabat radhiyallahu 'anhum memiliki kecintaan yang luar biasa kepada Rasulullah ﷺ. Mereka menganggap segala sesuatu yang bersentuhan dengan beliau sebagai sesuatu yang mulia dan penuh berkah. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan betapa para sahabat sangat mengagungkan Nabi ﷺ dan mencari keberkahan dari sisa-sisa beliau. Hal ini wajar karena mereka menyaksikan langsung wahyu dan kemuliaan beliau.
2. Tabarruk (Mencari Berkah) dari Peninggalan Nabi ﷺ
Peristiwa ini menjadi dalil bahwa tabarruk dengan peninggalan Nabi ﷺ diperbolehkan selama beliau masih hidup. Para sahabat mengambil air wudhu beliau dan mengusapkannya ke tubuh mereka. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hal ini khusus untuk Nabi ﷺ karena kemuliaan beliau, dan para ulama berbeda pendapat apakah hal ini berlaku juga untuk peninggalan selain beliau setelah wafatnya. Namun yang jelas, tabarruk yang dilakukan para sahabat ini adalah bentuk kecintaan dan penghormatan, bukan keyakinan bahwa air tersebut memiliki kekuatan sihir atau semacamnya.
3. Semangat dalam Meraih Kebaikan
Peristiwa ini menunjukkan semangat para sahabat dalam meraih kebaikan. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan air wudhu Nabi ﷺ, bahkan jika tidak mendapatkannya, mereka mengambil dari kelembapan tangan temannya. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa semangat para sahabat ini menunjukkan betapa mereka sangat antusias dalam segala hal yang berkaitan dengan Nabi ﷺ, karena mereka tahu bahwa mengikuti beliau adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.
4. Adab dan Akhlak Mulia
Hadits ini juga mengajarkan adab yang tinggi. Para sahabat tidak saling mendorong atau berebut dengan kasar, tetapi mereka berbagi dengan temannya. Siapa yang mendapat air wudhu, ia mengusapkannya, dan siapa yang tidak mendapat, ia mengambil dari kelembapan tangan temannya. Ini menunjukkan ukhuwah dan kebersamaan yang indah di antara mereka.
5. Khemah Merah dari Kulit
Nabi ﷺ tinggal di dalam khemah merah dari kulit (adam) saat perjalanan atau peperangan. Ini menunjukkan kesederhanaan hidup beliau. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Pakaian untuk menunjukkan bahwa tinggal di khemah atau tenda adalah hal yang diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan tuntunan Islam.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Juhaifah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang masih muda ketika bertemu Nabi ﷺ. Ia berkata: "Aku datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau berada di khemah merah dari kulit. Aku melihat Bilal mengambil sisa air wudhu Nabi ﷺ, dan orang-orang berebut untuk mendapatkannya."
Peristiwa ini terjadi di daerah Abthah dekat Makkah, ketika Nabi ﷺ dalam perjalanan. Para sahabat yang hadir sangat antusias. Ada yang berhasil mendapatkan air wudhu tersebut dan langsung mengusapkannya ke wajah dan tubuhnya. Ada pula yang tidak mendapatkannya, maka ia mengambil dari kelembapan tangan temannya yang telah memegang air tersebut.
Abu Juhaifah sendiri menceritakan bahwa ia termasuk orang yang beruntung mendapatkan air wudhu tersebut. Ia mengusapkannya ke wajahnya dan merasakan keberkahan yang luar biasa. Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat mencintai Nabi ﷺ, bahkan sisa air wudhu beliau pun menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi mereka.
Kesimpulan Praktis
- Cintailah Nabi ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta, karena cinta kepada beliau adalah bagian dari iman. Kita bisa meneladani kecintaan para sahabat dengan cara mengikuti sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari.
- Bersemangatlah dalam meraih kebaikan, sebagaimana para sahabat bersemangat mendapatkan air wudhu Nabi ﷺ. Jangan malas atau menunda-nunda dalam beribadah dan beramal shalih.
- Jaga ukhuwah dan kebersamaan, seperti para sahabat yang saling berbagi kelembapan air wudhu. Kita harus saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
- Hidup sederhana adalah bagian dari sunnah, sebagaimana Nabi ﷺ tinggal di khemah sederhana. Kita tidak perlu bermewah-mewahan dalam hidup.
- Hindari sikap ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Nabi ﷺ. Cinta kita harus dalam koridor syariat, tidak meyakini bahwa benda-benda peninggalan Nabi memiliki kekuatan gaib dengan sendirinya, karena hal itu bisa menjerumuskan pada kesyirikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.