Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang kabar gembira yang sangat besar: akan ada 70.000 orang dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal) dan tanpa azab. Wajah mereka bercahaya seperti bulan purnama. Kisah ini juga mengajarkan kita tentang adab bersegera dalam kebaikan dan keutamaan orang yang pertama kali meminta kebaikan tersebut. Sahabat 'Ukasyah bin Mihshan radhiyallahu 'anhu adalah orang yang beruntung karena beliau bersegera meminta didoakan oleh Nabi ﷺ, dan doa tersebut dikabulkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Pakaian, Bab Tentang Jubah, Jilbab, dan Selendang, no. 5811, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Iman, Bab 70.000 Orang dari Umat Ini Masuk Surga Tanpa Hisab, no. 216.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Maka barang siapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-A'raf [7]: 8)
Ayat ini menjelaskan tentang adanya timbangan amal pada hari kiamat. Namun, 70.000 orang yang disebut dalam hadits ini adalah mereka yang dikecualikan dari hisab karena kesempurnaan tawakal mereka kepada Allah.
Penjelasan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa jumlah 70.000 ini adalah jumlah awal, dan akan ditambah dari setiap kabilah sebanyak 70.000 lagi, sebagaimana dalam riwayat lain. Beliau juga menukil penjelasan para ulama bahwa mereka yang masuk surga tanpa hisab adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah (jampi-jampi), tidak melakukan tathayyur (menganggap sial dengan sesuatu), tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya bertawakal kepada Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Keutamaan 70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa orang-orang yang masuk surga tanpa hisab ini adalah mereka yang memiliki sifat-sifat khusus, yaitu:
- Tidak meminta orang lain meruqyahnya (walaupun ruqyah itu dibolehkan, mereka meninggalkannya karena kesempurnaan tawakal)
- Tidak melakukan tathayyur (menganggap sial terhadap sesuatu)
- Tidak menggunakan kay (pengobatan dengan cara membakar besi panas)
- Hanya bertawakal kepada Allah Ta'ala
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa sifat-sifat ini menunjukkan kesempurnaan tauhid dan tawakal mereka. Mereka tidak menggantungkan hati kepada selain Allah, baik dalam urusan pengobatan maupun urusan lainnya. Ini bukan berarti ruqyah atau pengobatan itu haram, tetapi mereka memilih meninggalkannya karena ingin mencapai derajat tawakal yang paling tinggi.
2. Kisah 'Ukasyah bin Mihshan dan Pelajaran tentang Bersegera dalam Kebaikan
Dalam hadits ini, ketika Nabi ﷺ mengabarkan tentang 70.000 orang tersebut, 'Ukasyah bin Mihshan al-Asadi langsung berdiri dan meminta didoakan oleh Nabi ﷺ agar termasuk di antara mereka. Beliau memakai namirah (kain bergaris yang terbuat dari bulu) yang menunjukkan kesederhanaannya.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa sikap 'Ukasyah ini menunjukkan semangatnya yang luar biasa dalam meraih kebaikan. Beliau tidak menunda-nunda dan tidak malu untuk meminta didoakan oleh Nabi ﷺ. Ini adalah pelajaran berharga: ketika ada kesempatan untuk meraih kebaikan, kita harus bersegera dan tidak menunda.
3. Jawaban Nabi ﷺ kepada Orang Anshar
Ketika seorang laki-laki Anshar berdiri setelah 'Ukasyah dan meminta hal yang sama, Nabi ﷺ bersabda: "Ukasyah telah mendahuluimu." Ini menunjukkan bahwa doa Nabi ﷺ untuk 'Ukasyah telah dikabulkan, dan tidak ada lagi yang tersisa untuk orang tersebut. Ini juga menunjukkan bahwa kebaikan yang pertama kali diminta akan lebih utama, selama tidak ada larangan syar'i.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Akan masuk surga dari umatku sekelompok yang berjumlah 70.000, wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan purnama.'"
Maka berdirilah 'Ukasyah bin Mihshan al-Asadi yang saat itu mengenakan kain namirah (kain bergaris dari bulu) yang sederhana. Beliau berkata: "Wahai Rasulullah, doakanlah Allah untukku agar Dia menjadikanku di antara mereka."
Rasulullah ﷺ bersabda: "Ya Allah, jadikanlah dia di antara mereka."
Kemudian seorang laki-laki Anshar berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah, doakanlah Allah untukku agar Dia menjadikanku di antara mereka."
Rasulullah ﷺ bersabda: "'Ukasyah telah mendahuluimu."
Kisah ini menunjukkan betapa beruntungnya 'Ukasyah bin Mihshan radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah orang yang bersegera dalam kebaikan dan tidak menunda-nunda. Beliau juga dikenal sebagai salah satu sahabat yang gugur sebagai syahid dalam Perang Riddah (melawan kaum murtad) di masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Semoga Allah meridhai beliau.
Kesimpulan Praktis
- Bersegera dalam kebaikan - Jangan menunda-nunda ketika ada kesempatan untuk meraih kebaikan, sebagaimana 'Ukasyah yang langsung meminta didoakan oleh Nabi ﷺ.
- Memperbaiki tawakal kepada Allah - Berusaha untuk tidak terlalu bergantung pada sebab-sebab lahiriah, tetapi tetap bertawakal kepada Allah dalam segala urusan.
- Tidak sombong dengan amal - Orang-orang yang masuk surga tanpa hisab adalah mereka yang ikhlas dan tawakal, bukan mereka yang membanggakan amalnya.
- Menghidupkan harapan - Hadits ini memberikan harapan besar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ untuk meraih surga tanpa hisab, selama kita berusaha memperbaiki kualitas tauhid dan tawakal kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.