Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5797 tentang Perump

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perumpamaan indah dari Nabi ﷺ tentang hati orang dermawan dan orang kikir. Sedekah ibarat jubah besi yang melapangkan dada, membuat hati luas, dan mendatangkan keberkahan. Sebaliknya, kekikiran seperti jubah besi yang semakin mengecil dan mengikat, membuat jiwa sempit dan hidup terasa susah. Setiap kali seorang dermawan bersedekah, dadanya terasa lapang dan rezekinya bertambah; setiap kali orang kikir berniat bersedekah, hatinya malah semakin sesak.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an:

QS. Al-Baqarah [2]: 261 — Perumpamaan sedekah yang dilipatgandakan.

Teks Arab:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍۢ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍۢ ۗ وَٱللَّهُ يُضَـٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Terjemahan ringkas: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti satu biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

Hadits yang dibahas:

Shahih Al-Bukhari no. 5797, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lafaz hadits telah disebutkan di atas. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim (no. 1021) dengan tambahan redaksi.

Penjelasan ulama dari daftar:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/432-433) menjelaskan bahwa jubah besi melambangkan hati manusia. Sedekah melapangkan hati, sedangkan kekikiran mengeraskannya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/87-88) menegaskan bahwa hadits ini adalah perumpamaan yang sangat jelas: setiap kali seseorang bersedekah, dadanya lapang dan rezekinya meluas, sebaliknya kikir membuat hati sempit.
  • Tawus bin Kaysan (guru Abu Hurairah) meriwayatkan hadits ini langsung, menunjukkan bahwa para tabi'in memahami makna ini secara tekstual.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggunakan permisalan yang sangat kuat. Dua orang masing-masing memakai jubah dari besi (jubbatain min hadid). Jubah besi adalah pakaian perang yang kaku dan berat. Tangan mereka terikat ke arah dada dan leher — artinya sulit digerakkan. Lalu:

  • Orang dermawan (al-mutashaddiq): Setiap kali ia bersedekah, jubahnya melonggar, membesar, hingga menutupi ujung jari dan bahkan melebihi bekas telapak kakinya. Ini gambaran bahwa sedekah melapangkan hati, dada menjadi lega, dan rezeki mengalir dari arah yang tak disangka.
  • Orang kikir (al-bakhil): Setiap kali ia berniat bersedekah, jubahnya justru mengecil dan mengencang, setiap cincin rantai besi itu mencengkeram tempatnya. Ia tidak bisa bergerak leluasa. Begitulah hati orang kikir: ia terbelenggu oleh harta, hidup terasa sempit, dan setiap kali ada keinginan berbagi, ada rasa berat yang mengikatnya.

Abu Hurairah kemudian berkata: “Aku melihat Rasulullah ﷺ meletakkan jarinya di saku kemejanya seperti ini — seolah beliau berusaha melonggarkan saku itu, tetapi ia tidak mau melonggar.” Ini isyarat bahwa sifat kikir itu sulit diubah kecuali dengan latihan bersedekah.

Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam) menjelaskan bahwa hati manusia ibarat bejana. Sedekah mengisinya dengan cahaya dan kelegaan. Sedangkan sifat bakhil membuat hati berkarat dan terkunci.

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Tidaklah seorang hamba bersedekah dengan satu sedekah melainkan Allah melapangkan dadanya, dan tidaklah ia menahan sedekah melainkan Allah menyempitkan dadanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan termasuk dalam pemahaman generasi tabi'in).

Perhatikan bahwa jubah dari besi bukan pakaian biasa, melainkan lambang kondisi batin. Semakin dermawan, semakin lapang. Semakin kikir, semakin sesak. Ini bukan hanya soal rezeki dunia, tetapi juga ketenteraman jiwa.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa suatu hari Nabi ﷺ melihat seorang sahabat yang sangat miskin, namun ia rajin bersedekah dengan apa yang ada. Lalu beliau bersabda: “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (Shahih Muslim no. 2588). Karena makna ini pula, para salaf sangat mencintai sedekah.

‘Abdullah bin al-Mubarak — seorang ulama besar tabi'ut tabi'in — pernah ditanya: “Apa obat hati yang paling ampuh?” Beliau menjawab: “Banyak bersedekah dan banyak membaca Al-Qur’an.” Kisah ini menunjukkan bahwa ulama terdahulu mempraktikkan secara langsung pemahaman hadits di atas. Sedekah melapangkan hati, sebagaimana jubah besi yang melonggar.

Kesimpulan Praktis

  • Bersedekahlah meskipun sedikit, karena sedekah melapangkan dada dan mendatangkan keberkahan.
  • Jangan menunda-nunda niat baik untuk bersedekah, karena setiap kali kita menahan, hati kita seperti terbelenggu.
  • Latihlah jiwa untuk memberi, dimulai dari hal kecil yang mudah.
  • Ingatlah bahwa kekikiran adalah penyakit hati yang membuat hidup terasa sempit dan penuh tekanan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk menjadi hamba yang dermawan dan dijauhkan dari sifat kikir. Aamiin.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.