Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5784 tentang Larangan menyeret pakaian karena sombong

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa menyeret pakaian (seperti sarung, celana, atau jubah) hingga melebihi mata kaki karena sombong adalah perbuatan yang sangat dilarang. Ancaman "Allah tidak akan melihatnya" pada hari kiamat adalah bentuk murka dan penghinaan. Namun, jika pakaian itu turun atau panjang tanpa disengaja dan tanpa ada niat sombong, maka tidak mengapa. Ini sebagaimana yang terjadi pada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, yang dikecualikan oleh Nabi ﷺ karena ia tidak melakukannya karena sombong.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."

(QS. Al-Isra' [17]: 37)

2. Hadits Terkait:

Hadits yang sedang kita bahas adalah riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Pakaian, Bab "Siapa yang Menyeret Ikat Pinggangnya Tanpa Kesombongan", no. 5784, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan panjang lebar tentang bab ini, bahwa yang menjadi patokan adalah niat kesombongan, bukan sekadar panjangnya pakaian.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa larangan ini terkait dengan sifat sombong, dan beliau menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa memanjangkan pakaian karena sombong adalah haram.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat tegas dalam masalah larangan isbal (memanjangkan pakaian melebihi mata kaki) jika disertai kesombongan. Mari kita bedah maknanya:

1. Makna "Menyeret Pakaian karena Sombong"

Yang dimaksud adalah seseorang yang memanjangkan pakaiannya (seperti sarung, celana, atau gamis) hingga melewati mata kaki, lalu menyeretnya di tanah, dengan tujuan untuk menunjukkan keagungan diri, pamer, atau merasa lebih tinggi dari orang lain. Ini adalah perbuatan yang diharamkan.

2. Makna "Allah Tidak Akan Melihatnya"

Ini adalah ancaman yang sangat berat. Bukan berarti Allah tidak mampu melihatnya, tetapi ini adalah kiasan bahwa Allah murka dan tidak akan memandangnya dengan pandangan rahmat dan kasih sayang pada hari kiamat. Ini adalah bentuk penghinaan yang sangat besar. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "tidak melihat" di sini adalah tidak melihat dengan pandangan rahmat, sebagaimana dalam hadits-hadits lain yang semakna.

3. Pengecualian untuk Abu Bakar radhiyallahu 'anhu

Ketika Abu Bakar radhiyallahu 'anhu mendengar ancaman ini, beliau langsung khawatir karena salah satu sisi kainnya sering terulur tanpa sengaja. Maka Nabi ﷺ menenangkannya: "Kamu bukan termasuk orang yang melakukannya karena kesombongan."

Ini menunjukkan bahwa yang menjadi ukuran adalah niat dan keadaan hati. Jika pakaian panjang tanpa disengaja, atau karena kondisi fisik (misalnya tubuhnya besar sehingga kainnya turun), dan tidak ada niat sombong, maka tidak mengapa.

4. Pendapat Ulama tentang Isbal

Para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam madzhab berbeda pendapat tentang hukum isbal (memanjangkan pakaian melewati mata kaki):

  • Pendapat pertama (haram mutlak): Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayatnya, dan dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya Ats-Tsamar Al-Mustathab. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang melarang isbal secara mutlak, tanpa syarat sombong.
  • Pendapat kedua (haram jika sombong): Ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Asy-Syafi'i, dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Mereka berdalil dengan hadits Abu Bakar ini, bahwa Nabi ﷺ mengecualikan beliau padahal kainnya panjang, karena tidak ada kesombongan.
  • Pendapat yang lebih kuat: Sebagian besar ulama, termasuk Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin, menggabungkan kedua dalil ini. Mereka menjelaskan bahwa larangan keras dalam hadits-hadits lain itu ditujukan untuk orang yang melakukannya karena sombong. Adapun jika tidak sombong, maka hukumnya makruh (tidak disukai) dan lebih utama untuk dihindari, karena lebih selamat dari perselisihan ulama.

5. Hikmah dari Hadits Ini

Hadits ini mengajarkan kita tentang pentingnya ikhlas dan menjauhi sifat sombong. Sombong adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Pakaian hanyalah salah satu sarana untuk menampakkan kesombongan. Yang terpenting adalah membersihkan hati dari sifat ini, karena iblis pun diusir dari surga karena kesombongannya.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal tentang kesombongan yang diceritakan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Al-Fawa'id. Beliau menyebutkan bahwa ketika Nabi Musa 'alaihis salam bertanya kepada Allah tentang sesuatu, Allah menjawab bahwa orang yang sombong tidak akan masuk surga. Maka Musa pun bertanya lagi, "Wahai Rabbku, aku sendiri pun merasa sombong ketika berjalan dan memakai sandalku." Maka Allah berfirman, "Wahai Musa, yang dimaksud sombong adalah orang yang tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan manusia."

Kisah ini menunjukkan bahwa kesombongan yang tercela adalah yang membuat seseorang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Adapun perasaan wibawa atau kepercayaan diri yang wajar, itu bukanlah kesombongan yang tercela.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga hati dari sifat sombong, karena ini adalah pangkal dari banyak keburukan.
  2. Hindari memanjangkan pakaian melewati mata kaki jika itu dilakukan karena sombong atau pamer. Ini adalah dosa besar.
  3. Jika pakaian panjang tanpa disengaja, maka tidak mengapa, tetapi lebih utama untuk tetap menjaganya agar tidak melewati mata kaki.
  4. Perhatikan niat dalam setiap amal, karena amal yang kecil bisa menjadi besar di sisi Allah karena keikhlasan, dan amal yang besar bisa menjadi sia-sia karena kesombongan.
  5. Jangan meremehkan orang lain karena pakaiannya, karena kemuliaan di sisi Allah adalah dengan ketakwaan, bukan dengan penampilan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.