Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5766 tentang Nabi terkena sihir dan Allah memberitahu cara mengatasinya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah terkena sihir oleh seorang Yahudi bernama Labid bin Al-A'sam. Namun perlu dipahami dengan benar: sihir itu hanya memengaruhi hal-hal duniawi yang bersifat fisik dan perasaan, tidak pernah mampu mengubah wahyu, risalah, atau akhlak beliau. Allah ﷻ kemudian menyembuhkan beliau dan memberitahukan lokasi alat sihir tersebut melalui perantara dua malaikat. Nabi ﷺ memilih untuk tidak mengungkapkan dan mengeluarkan alat sihir itu karena khawatir akan menimbulkan fitnah dan keburukan di tengah masyarakat. Pelajaran utamanya adalah: sihir itu nyata, tetapi perlindungan Allah dan doa adalah obat yang paling utama.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Falaq [113]: 1-5 (tentang berlindung dari kejahatan sihir):

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۝ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ۝ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ۝ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ۝ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

"Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki."

2. Hadits terkait:

Hadits yang sedang kita bahas ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ath-Thibb (Kedokteran), Bab As-Sihr, no. 5766, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab As-Salam, Bab Sihr an-Nabi ﷺ, no. 2189.

3. Kaitan dengan ulama:

  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan panjang lebar tentang hadits ini, termasuk hikmah mengapa Nabi ﷺ tidak mengeluarkan alat sihir tersebut.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas hadits ini dan menegaskan bahwa sihir yang menimpa Nabi ﷺ adalah ujian dari Allah, bukan berarti mengurangi kemuliaan beliau.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin dan kitab-kitabnya menjelaskan bahwa sihir itu nyata dan bisa memengaruhi tubuh dan perasaan, tetapi tidak bisa memengaruhi wahyu dan agama.

Penjelasan Rinci

A. Makna Hadits Secara Umum

Hadits ini adalah salah satu dalil terkuat bahwa sihir itu nyata dan benar-benar terjadi. Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa Nabi ﷺ terkena sihir dari seorang Yahudi bernama Labid bin Al-A'sam. Akibat sihir tersebut, beliau merasa seolah-olah telah melakukan sesuatu padahal sebenarnya tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa sihir dapat memengaruhi persepsi dan perasaan seseorang.

Namun perlu ditegaskan: sihir ini tidak pernah memengaruhi wahyu, Al-Qur'an, atau risalah kenabian. Para ulama sepakat bahwa Allah menjaga Nabi ﷺ dari hal-hal yang berkaitan dengan penyampaian risalah. Yang terkena hanyalah urusan duniawi beliau, seperti perasaan dan dugaan tentang hal-hal yang bersifat fisik.

B. Bagaimana Para Ulama Memahami Hadits Ini

1. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sihir yang menimpa Nabi ﷺ adalah bentuk ujian dari Allah untuk mengangkat derajat beliau dan untuk mengajarkan umatnya tentang hakikat sihir serta cara berlindung darinya. Beliau juga menjelaskan hikmah Nabi ﷺ tidak mengeluarkan alat sihir tersebut:

  • Karena Allah telah menyembuhkannya, maka tidak ada lagi kebutuhan untuk mengeluarkannya.
  • Khawatir jika alat itu dikeluarkan dan diperlihatkan, orang-orang akan semakin penasaran dan belajar sihir, sehingga menimbulkan keburukan yang lebih besar.
  • Ini adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya.

2. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang mukmin memberitahukan musibah yang menimpanya, selama tidak mengarah pada keluhan yang dilarang. Beliau juga menegaskan bahwa sihir yang menimpa Nabi ﷺ tidak bertentangan dengan kemaksuman beliau dalam menyampaikan wahyu.

3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:

  • Sihir itu nyata dan bisa memengaruhi manusia.
  • Doa adalah senjata utama seorang mukmin.
  • Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang bisa terkena penyakit, tetapi Allah selalu menjaganya dalam hal risalah.
  • Kita harus berlindung kepada Allah dari kejahatan sihir dengan membaca Al-Mu'awwidzat (Al-Falaq dan An-Nas).

C. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama

Ada sebagian kecil ulama yang mencoba menakwilkan hadits ini dengan mengatakan bahwa yang terjadi hanyalah perasaan subjektif, bukan sihir yang sebenarnya. Namun pendapat ini lemah dan bertentangan dengan zhahir hadits. Mayoritas ulama dari kalangan salaf dan khalaf, termasuk para imam hadits dan fiqih, menetapkan bahwa sihir itu nyata dan benar-benar menimpa Nabi ﷺ. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menegaskan bahwa sihir itu nyata dan memiliki pengaruh, dan hadits ini adalah dalil yang jelas tentang hal tersebut. Beliau juga menjelaskan bahwa sihir yang menimpa Nabi ﷺ adalah ujian dan musibah yang Allah takdirkan, dan Allah kemudian menyembuhkannya.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang bagaimana para salaf meneladani Nabi ﷺ dalam menghadapi musibah. Imam Ahmad bin Hanbal — semoga Allah meridhainya — ketika beliau ditimpa musibah yang sangat berat berupa ujian penciptaan Al-Qur'an dan dipenjara serta disiksa oleh penguasa, beliau tetap bersabar dan tidak pernah berhenti berdoa kepada Allah. Ketika ditanya, "Bagaimana engkau bisa bersabar wahai Imam?" Beliau menjawab, "Aku ingat bagaimana Nabi ﷺ bersabar ketika beliau disihir, ketika beliau disakiti oleh kaumnya, dan ketika beliau diusir dari Mekkah. Musibahku ini tidak ada apa-apanya dibandingkan musibah beliau."

Ini menunjukkan bahwa ketika seorang mukmin ditimpa musibah, ia harus melihat kepada Nabi ﷺ dan para sahabat sebagai teladan dalam kesabaran. Dan obat yang paling utama adalah doa dan tawakal kepada Allah, sebagaimana Nabi ﷺ berdoa kepada Allah ketika terkena sihir.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Sihir itu nyata — kita harus meyakininya dan berlindung kepada Allah dari kejahatannya, tanpa berlebihan dalam ketakutan.
  2. Perbanyak membaca Al-Mu'awwidzat (Surat Al-Falaq dan An-Nas) — ini adalah obat yang diajarkan Nabi ﷺ untuk berlindung dari sihir dan kejahatan lainnya.
  3. Doa adalah senjata utama — Nabi ﷺ berdoa kepada Allah ketika terkena sihir, dan Allah mengabulkannya. Maka perbanyaklah doa dalam setiap kesulitan.
  4. Jangan menyebarkan keburukan — Nabi ﷺ memilih untuk tidak mengungkapkan alat sihir tersebut karena khawatir menimbulkan fitnah. Ini mengajarkan kita untuk tidak memperluas keburukan dan fitnah di tengah masyarakat.
  5. Tetap tenang dan bertawakal — ketika ditimpa musibah, jangan panik. Berusahalah dengan cara-cara yang dibolehkan syariat, dan bertawakallah kepada Allah.
  6. Jangan belajar sihir — sihir adalah perbuatan kufur dan dosa besar. Jauhilah dan jangan pernah mendekatinya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.