Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah terkena sihir dari seorang Yahudi munafik bernama Labid bin Al-A’sham. Sihir itu membuat beliau merasa telah berhubungan dengan istri-istrinya padahal tidak. Namun, Allah ﷻ menyembuhkan beliau melalui wahyu. Nabi ﷺ tidak membalas dendam kepada pelaku sihir, karena beliau tidak ingin menyebarkan keburukan di antara manusia. Hadits ini mengajarkan bahwa sihir itu nyata dan bisa menimpa siapa pun, termasuk Nabi, namun kesembuhan datang dari Allah, dan seorang mukmin dianjurkan untuk memaafkan dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur’an:
Allah ﷻ berfirman tentang sihir dan perlindungan dari-Nya:
QS. Al-Falaq [113]: 1-5
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾
Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita yang meniup pada buhul-buhul (sihir), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Kedokteran, Bab Apakah Sihir Dapat Dikeluarkan, nomor 5765, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Kaitan dengan Ulama:
- Sufyan bin ‘Uyainah (ulama Tabi’ut Tabi’in) dalam riwayat ini menegaskan bahwa sihir yang menimpa Nabi ﷺ adalah sihir yang paling parah, karena mempengaruhi persepsi beliau terhadap hal yang nyata.
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa sihir itu benar-benar ada dan bisa mempengaruhi fisik dan mental seseorang, namun tidak bisa mengubah takdir Allah. Beliau juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak membalas dendam karena akhlak mulia beliau.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu dalil terkuat tentang realitas sihir dalam Islam. Berikut penjelasan rincinya:
- Sihir Itu Nyata dan Bisa Terjadi pada Siapa Saja
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini untuk menunjukkan bahwa sihir itu ada dan bisa menimpa manusia, termasuk Nabi Muhammad ﷺ. Namun, sihir itu hanya mempengaruhi hal-hal yang bersifat duniawi (seperti persepsi), bukan wahyu atau kenabian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa menegaskan bahwa sihir tidak bisa mengubah wahyu atau risalah kenabian, karena Allah menjaga Nabi-Nya dari hal itu.
- Sihir Itu Berasal dari Orang Kafir dan Munafik
Pelaku sihir adalah Labid bin Al-A’sham, seorang munafik yang bersekutu dengan Yahudi. Ini menunjukkan bahwa sihir sering kali dilakukan oleh orang-orang yang jauh dari iman. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma’ad menjelaskan bahwa sihir adalah perbuatan setan dan orang-orang kafir, dan seorang mukmin harus berlindung kepada Allah darinya.
- Nabi ﷺ Tidak Membalas Dendam
Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha menyarankan agar Nabi ﷺ mengobati dirinya dengan nashrah (sejenis ruqyah atau pengobatan), beliau menjawab bahwa Allah telah menyembuhkannya dan beliau tidak ingin menyebarkan keburukan kepada siapa pun. Ini menunjukkan akhlak mulia Nabi ﷺ yang memaafkan dan tidak membalas kejahatan. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan bahwa ini adalah teladan bagi umat untuk tidak membalas dendam secara berlebihan, meskipun dizalimi.
- Kesembuhan Hanya dari Allah
Nabi ﷺ tidak melakukan pengobatan khusus selain memohon kepada Allah. Ini mengajarkan bahwa kesembuhan sejati datang dari Allah, dan kita dianjurkan untuk berdoa dan berlindung kepada-Nya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya menekankan bahwa ayat-ayat Al-Mu’awwidzat (Al-Falaq dan An-Nas) adalah perlindungan terbaik dari sihir.
Story Telling
Kisah ini mengingatkan kita pada keteguhan Nabi ﷺ dalam menghadapi ujian. Meskipun beliau terkena sihir yang sangat berat, beliau tidak pernah mengeluh atau marah kepada pelaku. Bahkan, ketika Allah memberitahu lokasi sihir, beliau pergi ke sumur Dharwan dan mengeluarkan benda-benda sihir itu, tetapi tidak membalas dendam. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah mengatakan bahwa ini adalah bukti kesabaran dan kemuliaan akhlak Nabi ﷺ. Beliau lebih memilih untuk memaafkan dan tidak menyebarkan kejahatan, meskipun pelaku adalah seorang munafik yang sangat jahat.
Kesimpulan Praktis
- Percaya bahwa sihir itu nyata dan bisa menimpa siapa pun, namun jangan takut karena Allah Maha Kuasa atas segalanya.
- Berlindung kepada Allah dengan membaca Al-Mu’awwidzat (Al-Falaq dan An-Nas) setiap pagi dan petang, serta ayat Kursi.
- Jangan membalas dendam jika dizalimi, tetapi maafkan dan serahkan urusan kepada Allah. Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini.
- Berobat dengan cara yang syar’i seperti ruqyah, doa, dan pengobatan medis yang halal, namun tetap yakin bahwa kesembuhan hanya dari Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.