Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa praktik perdukunan dan ramalan pada dasarnya adalah batil dan tidak boleh dipercaya. Meskipun kadang seorang peramal mengatakan sesuatu yang benar, kebenaran itu hanyalah "curian" jin dari langit yang kemudian dicampur dengan seratus kebohongan. Maka seorang Muslim wajib menjauhi peramal, tidak mendatanginya, dan tidak membenarkan ucapannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Kedokteran (Ath-Thibb), Bab Ramalan (Bab Al-Kahanah), nomor 5762, dari jalur Aisyah radhiyallahu 'anha. Sanadnya: Ali bin Abdullah → Hisyam bin Yusuf → Ma'mar → Az-Zuhri → Yahya bin Urwah bin Az-Zubair → Urwah → Aisyah.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَاسٌ عَنِ الْكُهَّانِ، فَقَالَ: «لَيْسَ بِشَيْءٍ». فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ، يَخْطَفُهَا مِنَ الْجِنِّيِّ، فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ، فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ».
Terjemahan: "Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang para peramal. Beliau bersabda, 'Mereka tidak ada apa-apanya.' Mereka berkata, 'Wahai Rasulullah! Kadang-kadang mereka memberitahukan kepada kami sesuatu yang ternyata benar.' Rasulullah ﷺ bersabda, 'Itu adalah kata-kata dari kebenaran, yang dicuri oleh jin, lalu mereka menaruhnya di telinga teman mereka (peramal), dan mereka mencampurkan dengan kata itu seratus kebohongan.'"
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan, Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
QS. Al-Isra' [17]: 36
Terjemahan: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban."
Juga firman Allah:
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
QS. An-Naml [27]: 65
Terjemahan: "Katakanlah, 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib, kecuali Allah.'"
Penjelasan Rinci
Hadits ini menyentuh pokok akidah yang sangat penting: ilmu gaib hanya milik Allah. Para peramal (kahin) dan dukun mengklaim mengetahui hal-hal gaib, padahal itu adalah kedustaan besar.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Ath-Thibb (Kedokteran) pada bab khusus tentang Al-Kahanah (perdukunan). Ini menunjukkan bahwa beliau memandang perdukunan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan tawakal dan pengobatan yang syar'i — seorang Muslim tidak boleh mencari kesembuhan atau pengetahuan melalui jalan perdukunan.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "لَيْسَ بِشَىْءٍ" (mereka tidak ada apa-apanya) bermakna: klaim mereka mengetahui gaib itu batil, tidak memiliki dasar. Adapun jika ada yang kebetulan benar, itu bukan karena kemampuan mereka, melainkan karena jin mencuri satu kalimat dari langit lalu menyampaikannya. Ibnu Hajar juga menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil haramnya mendatangi kahin dan membenarkannya.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa para ulama sepakat bahwa mempercayai ucapan kahin tentang hal gaib adalah kekufuran, karena mendustakan Al-Qur'an yang menegaskan bahwa tidak ada yang mengetahui gaib selain Allah. Adapun jika seseorang mendatangi kahin hanya untuk bertanya tanpa membenarkan, itu tetap haram dan shalatnya tidak diterima selama 40 hari — sebagaimana hadits lain dari sebagian istri Nabi ﷺ yang diriwayatkan Muslim.
Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan dan Miftah Daris Sa'adah menjelaskan bahwa jin memiliki kemampuan mencuri pendengaran dari langit sebelum dihalangi dengan bintang-bintang (sejak diutusnya Nabi ﷺ). Kalimat yang mereka curi itu kemudian disampaikan kepada peramal dengan tambahan kebohongan yang jauh lebih banyak. Ibnu Qayyim menegaskan bahwa syariat menutup semua pintu menuju perdukunan karena merusak tauhid dan tawakal.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "لَا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ" adalah dasar yang membatalkan seluruh klaim perdukunan. Beliau menegaskan bahwa siapa pun yang mengaku mengetahui gaib — baik melalui jin, ramalan, atau cara apa pun — telah terjatuh dalam kesyirikan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah: (1) perdukunan adalah batil, (2) setan mencuri berita dari langit, (3) kebenaran yang kadang terjadi pada ramalan peramal tidak menjadikannya boleh dipercaya karena dicampur dengan seratus kebohongan, (4) wajib menjauhi peramal dan tidak membenarkannya.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz menegaskan bahwa mendatangi peramal dan membenarkan ucapannya termasuk dosa besar, bahkan bisa sampai pada kekufuran jika meyakini peramal mengetahui gaib.
Kesimpulan dari para ulama: Hadits ini secara tegas membatalkan perdukunan, melarang mendatanginya, dan melarang membenarkannya. Kebenaran yang kadang muncul hanyalah kebetulan dari curian jin, bukan bukti kebenaran perdukunan.
Story Telling
Dikisahkan bahwa sebelum diutusnya Nabi ﷺ, jin biasa duduk di beberapa tempat di langit untuk mencuri pembicaraan para malaikat tentang urusan yang akan terjadi di bumi. Mereka lalu menyampaikan satu kalimat itu kepada para peramal di bumi. Ketika Nabi ﷺ diutus, langit dijaga dengan bintang-bintang yang dilemparkan kepada jin yang mencoba mencuri dengar, sehingga mereka tidak lagi bisa mendapatkan berita seperti dulu.
Az-Zuhri — yang meriwayatkan hadits ini — termasuk ulama Tabi'in yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau menjelaskan bahwa setelah diutusnya Nabi ﷺ, jin yang mencuri dengar itu dilempari dan tidak lagi bisa mendapatkan berita dengan leluasa. Karena itu, kebenaran yang kadang muncul pada ramalan peramal di zaman Nabi ﷺ hanyalah sisa-sisa dari apa yang pernah mereka dengar sebelumnya, atau dari bisikan setan yang tetap berusaha menyesatkan manusia.
Hikmahnya: Setan dan jin selalu berusaha menyesatkan manusia dengan mencampur sedikit kebenaran dengan banyak kebohongan. Inilah cara mereka menjadikan perdukunan tampak "berhasil" di mata sebagian orang, padahal hakikatnya adalah kedustaan.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi perdukunan — jangan mendatangi peramal, dukun, atau siapa pun yang mengaku bisa mengetahui hal gaib.
- Jangan membenarkan ucapan mereka, meskipun kadang terbukti benar. Kebenaran itu hanyalah curian jin yang dicampur dengan seratus kebohongan.
- Yakinlah bahwa ilmu gaib hanya milik Allah — sebagaimana firman-Nya dalam QS. An-Naml [27]: 65.
- Jaga tauhid dan tawakal — gantungkan hati hanya kepada Allah, bukan kepada ramalan atau prediksi yang mengaku mengetahui masa depan.
- Jika terlanjur mendatangi peramal, bertaubatlah kepada Allah dan tinggalkan kebiasaan itu. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, siapa yang mendatangi peramal dan bertanya kepadanya, shalatnya tidak diterima selama 40 hari (HR. Muslim).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.