Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits tentang rukyatullah (melihat Allah) di akhirat bagi orang-orang beriman, dan juga berisi dorongan yang sangat kuat untuk menjaga shalat Subuh dan Ashar. Nabi ﷺ mengumpamakan melihat Allah kelak seperti melihat bulan purnama yang sangat jelas, tanpa keraguan dan tanpa kesulitan. Kemudian beliau mengaitkannya dengan perintah menjaga dua shalat tersebut, karena keduanya adalah waktu-waktu yang mulia dan menjadi saksi bagi para malaikat.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ dalam hadits ini:
Allah ﷻ berfirman:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam."
(QS. Qaf [50]: 39)
2. Hadits terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari sahabat Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 633) dengan lafaz yang serupa.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan panjang lebar tentang hadits ini, terutama tentang makna "rukyatullah" dan keutamaan shalat Subuh dan Ashar.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan hadits ini, menegaskan bahwa melihat Allah di akhirat adalah hak bagi orang-orang beriman, dan beliau menukil ijma' (kesepakatan) Ahlus Sunnah tentang hal ini.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin dan kitab-kitab aqidahnya menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil penetapan sifat "melihat" bagi Allah di akhirat, sesuai dengan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung dua pokok bahasan besar:
Pertama: Penetapan Rukyatullah (Melihat Allah) di Akhirat
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini."
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa ini adalah kabar gembira bagi orang-orang mukmin bahwa mereka akan melihat Allah ﷻ di akhirat kelak. Ini adalah salah satu kenikmatan terbesar di surga.
- Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama salaf lainnya menetapkan bahwa Allah ﷻ dapat dilihat oleh orang-orang beriman di akhirat, tanpa kita mengetahui hakikat cara melihat tersebut. Ini adalah keyakinan yang berdasar pada nash Al-Qur'an dan hadits shahih.
- Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat" (QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23) adalah dalil terkuat tentang rukyatullah.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa melihat Allah adalah kenikmatan yang paling agung bagi penghuni surga, melebihi segala kenikmatan lainnya.
Nabi ﷺ mengumpamakan dengan bulan purnama karena:
- Melihat bulan purnama itu jelas dan tidak perlu diragukan.
- Semua orang bisa melihatnya bersama-sama tanpa berdesakan.
- Ini menunjukkan bahwa melihat Allah kelak akan sangat jelas dan nyata.
Kedua: Perintah Menjaga Shalat Subuh dan Ashar
Setelah menyebutkan rukyatullah, Nabi ﷺ langsung bersabda: "Jika kalian mampu untuk tidak terkalahkan (terlewat) dari shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah."
Maksudnya adalah shalat Subuh (sebelum terbit matahari) dan shalat Ashar (sebelum terbenam matahari).
- Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menggandengkan penyebutan rukyatullah dengan perintah menjaga dua shalat ini sebagai motivasi. Artinya: barangsiapa yang ingin meraih kenikmatan melihat Allah di akhirat, maka hendaknya ia menjaga shalat-shalatnya, terutama dua shalat yang disebutkan.
- Imam Al-Bukhari sendiri memberikan judul bab untuk hadits ini: "Bab Keutamaan Shalat Subuh", menunjukkan bahwa hadits ini adalah dalil tentang keutamaan shalat Subuh secara khusus.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa hikmah penyebutan dua shalat ini secara khusus adalah karena keduanya terjadi pada waktu yang sering dilalaikan manusia: Subuh saat orang terlelap tidur, dan Ashar saat orang sibuk dengan pekerjaan di penghujung hari.
Nabi ﷺ kemudian membacakan ayat QS. Qaf [50]: 39 sebagai penguat dari sabdanya. Ini menunjukkan bahwa perintah menjaga shalat Subuh dan Ashar adalah perintah yang sangat ditekankan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal (semoga Allah merahmatinya) sangat menjaga shalat Subuh berjamaah. Beliau berkata: "Aku tidak pernah meninggalkan shalat Subuh berjamaah kecuali karena sakit yang sangat berat." Bahkan ketika beliau dipenjara dan disiksa pada masa ujian penciptaan Al-Qur'an (fitnah khalqil Qur'an), beliau tetap berusaha menjaga shalat berjamaah semampunya.
Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami pesan hadits ini. Mereka menjadikan shalat Subuh dan Ashar sebagai ukuran keimanan seseorang. Barangsiapa yang menjaga keduanya, maka ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
Hikmah dari kisah ini: menjaga shalat, terutama Subuh dan Ashar, adalah tanda kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dan balasan terbesar bagi orang yang mencintai Allah adalah bisa melihat-Nya di surga kelak.
Kesimpulan Praktis
- Yakinilah bahwa melihat Allah di akhirat adalah benar dan merupakan kenikmatan terbesar bagi penghuni surga. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah berdasarkan Al-Qur'an dan hadits shahih.
- Jagalah shalat Subuh dan Ashar dengan sungguh-sungguh, karena keduanya adalah shalat yang paling ditekankan untuk dijaga. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lalai dari keduanya.
- Jadikan shalat sebagai sarana untuk meraih cinta Allah, karena dengan menjaga shalat, kita berharap bisa meraih kenikmatan melihat wajah Allah yang mulia di akhirat kelak.
- Perbanyaklah bertasbih dan berdzikir di waktu pagi dan petang, sebagaimana perintah dalam ayat yang dibaca Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.