Penjelasan Hadits Bukhari No. 570 tentang Boleh tidur sebelum shalat Isya jika tidak khawatir terlewat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat Isya boleh diakhirkan hingga malam, dan Nabi ﷺ pernah mengakhirkan shalat Isya karena sibuk, sampai para sahabat tidur dan bangun beberapa kali di masjid. Nabi ﷺ lalu bersabda bahwa tidak ada penduduk bumi yang menunggu shalat itu selain mereka. Hadits ini juga menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, sehingga beliau tidak mewajibkan waktu yang memberatkan, meskipun beliau menyukai mengakhirkan Isya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Mawaqit ash-Shalah, Bab Tidur Sebelum Isya bagi yang Tertidur, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Imam Al-Bukhari adalah salah satu ulama dalam daftar rujukan yang sahih dan terpercaya dalam hadits.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kewajiban menjaga shalat pada waktunya:

QS. An-Nisa' [4]: 103

وَفِي رِوَايَةٍ: إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Namun yang lebih tepat, ayatnya adalah:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Terjemahan: "Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditetapkan waktunya atas orang-orang yang beriman."

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat memiliki waktu yang telah ditetapkan, namun tetap ada kelonggaran dalam batas waktu tertentu, sebagaimana dijelaskan dalam hadits.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Bolehnya mengakhirkan shalat Isya hingga waktu yang lebih malam.

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab tentang tidur sebelum Isya bagi yang mampu terjaga. Ini menunjukkan bahwa mengakhirkan Isya adalah perkara yang disyariatkan, bahkan terkadang lebih utama, selama tidak memberatkan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya mengakhirkan Isya, dan bahwa Nabi ﷺ pernah melakukannya.

Kedua: Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya.

Sabda Nabi ﷺ: "Seandainya saya tidak merasa berat untuk umat saya, saya akan memerintahkan mereka untuk shalat pada waktu ini," menunjukkan bahwa beliau menginginkan kebaikan bagi umatnya, namun tidak ingin memberatkan mereka. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah bentuk rahmat Nabi ﷺ, dan bahwa beliau tidak mewajibkan hal yang memberatkan meskipun beliau menyukainya.

Ketiga: Sikap Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Ibnu Umar tidak mempermasalahkan apakah shalat Isya didahulukan atau diakhirkan, selama ia tidak khawatir tidur akan mengalahkannya. Ini menunjukkan pemahaman beliau bahwa waktu Isya itu luas, dan yang penting adalah menjaga shalat pada waktunya. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf memahami keluasan waktu Isya dan tidak menyempitkan perkara yang Allah dan Rasul-Nya telah meluaskan.

Keempat: Perbedaan pendapat ulama tentang waktu terbaik Isya.

Sebagian ulama seperti Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa mengakhirkan Isya lebih utama jika tidak memberatkan, berdasarkan hadits ini. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa mendahulukan Isya lebih utama, kecuali jika ada maslahat untuk mengakhirkan. Namun yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat yang mengatakan bahwa mengakhirkan Isya lebih utama jika tidak memberatkan, karena Nabi ﷺ menyukainya dan menyatakan keinginan untuk memerintahkannya, namun beliau meninggalkannya karena kasih sayang kepada umat.

Kelima: Kisah Ibn Abbas tentang Umar bin Khattab.

Dalam riwayat Ibn Abbas, disebutkan bahwa Umar bin Khattab berdiri dan mengingatkan Nabi ﷺ tentang shalat. Ini menunjukkan semangat para sahabat dalam menjaga shalat, dan bahwa mereka saling mengingatkan dalam kebaikan. Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' menyebutkan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu dikenal tegas dalam menjaga shalat dan mengajak orang lain untuk melaksanakannya.

Story Telling

Suatu malam, Rasulullah ﷺ sedang sibuk dengan urusan kaum muslimin, sehingga shalat Isya tertunda. Para sahabat yang menunggu di masjid akhirnya tertidur, lalu bangun, lalu tertidur lagi, dan bangun lagi. Mereka tetap setia menunggu di masjid, tidak pulang ke rumah.

Akhirnya Nabi ﷺ keluar menemui mereka. Air masih menetes dari kepala beliau, tanda beliau baru saja mandi atau berwudhu. Beliau meletakkan tangan di kepala, dan bersabda dengan penuh kasih sayang: "Tidak ada seorang pun di antara penduduk bumi yang menunggu shalat ini selain kalian."

Dalam riwayat lain, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berdiri dan memanggil: "Ash-Shalah! Ash-Shalah!" — mengingatkan Nabi ﷺ tentang shalat. Nabi ﷺ kemudian keluar dan bersabda: "Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh akan aku perintahkan mereka shalat Isya pada waktu seperti ini."

Betapa besar kasih sayang Nabi ﷺ. Beliau ingin umatnya mendapatkan keutamaan, tetapi beliau tidak ingin memberatkan mereka. Inilah teladan kepemimpinan yang penuh rahmat.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat Isya boleh didahulukan di awal waktu atau diakhirkan hingga pertengahan malam, selama tidak sampai keluar dari waktunya.
  2. Mengakhirkan Isya lebih utama jika tidak memberatkan dan tidak menyebabkan tertidur hingga kehilangan shalat.
  3. Hendaknya kita menjaga shalat pada waktunya dan tidak menunda-nunda tanpa alasan yang dibenarkan.
  4. Kasih sayang dan tidak memberatkan umat adalah prinsip dalam berdakwah dan beribadah.
  5. Saling mengingatkan dalam kebaikan, sebagaimana Umar mengingatkan Nabi ﷺ, adalah akhlak para sahabat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?