Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5673 tentang Larangan menginginkan kematian dan anjuran memperbanyak amal

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua hal besar: pertama, masuk surga itu murni karena rahmat dan karunia Allah, bukan semata-mata karena amal kita. Kedua, kita dilarang berharap mati karena masih ada kesempatan untuk menambah kebaikan (bagi yang baik) atau bertobat (bagi yang buruk). Hadits ini juga memerintahkan kita untuk beramal dengan seimbang dan konsisten, tidak berlebihan hingga akhirnya malah berhenti beribadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Penyakit, Bab Keinginan Orang Sakit untuk Mati, no. 5673, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan) adalah:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو عُبَيْدٍ، مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ " لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ " . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ " لاَ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَلاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا، وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ "

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۗ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Yusuf [12]: 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan seseorang dari keburukan adalah karena rahmat Allah, bukan semata-mata kekuatan diri sendiri. Ini sejalan dengan makna hadits di atas.

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan amal seseorang tidak bisa menjadi satu-satunya sebab masuk surga, melainkan harus disertai rahmat Allah. Beliau juga menukil perkataan ulama bahwa amal adalah syarat (prasyarat) untuk masuk surga, tetapi bukan penyebab mandiri yang terlepas dari kehendak dan rahmat Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat indah:

1. Makna "Amal tidak memasukkan ke surga"

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini bukan berarti amal tidak berguna sama sekali. Akan tetapi, amal itu sendiri tidak bisa menjadi satu-satunya sebab yang pasti memasukkan seseorang ke surga tanpa rahmat Allah. Karena amal kita sangat sedikit dan penuh kekurangan, sedangkan nikmat surga sangatlah agung. Maka Allah dengan keutamaan-Nya memberikan surga kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh, sebagai karunia dari-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa amal saleh adalah sebab yang Allah tetapkan untuk masuk surga, tetapi sebab itu sendiri tidak akan berhasil kecuali dengan rahmat Allah. Beliau mencontohkan: api adalah sebab untuk membakar, tetapi api tidak akan membakar kecuali dengan izin Allah. Demikian pula amal, ia adalah sebab yang Allah tetapkan, namun keberhasilannya tetap bergantung pada rahmat Allah.

2. Jawaban Nabi ﷺ: "Tidak, dan aku pun tidak"

Ini adalah puncak ketawadhu'an Nabi ﷺ. Beliau yang dijamin masuk surga tetap menyandarkan segalanya kepada rahmat Allah. Ini mengajarkan kita agar tidak pernah merasa aman dari tipu daya Allah dan tidak merasa bangga dengan amal kita. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa seorang hamba yang benar adalah yang selalu berada di antara dua keadaan: khauf (takut) dan raja' (harap), tidak merasa aman dengan amalnya, dan tidak pula berputus asa dari rahmat Allah.

3. Perintah "Saddiduu wa Qaaribuu" (beramal dengan seimbang dan mendekatlah)

Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk beramal secara seimbang (tidak berlebihan) dan mendekat (jika tidak bisa sempurna, lakukan yang mendekati sempurna). Ini adalah bimbingan agar kita tidak memberatkan diri dalam ibadah hingga akhirnya malah berhenti total. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam hadits lain bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama kecuali ia akan dikalahkan olehnya."

4. Larangan berharap mati

Nabi ﷺ melarang seorang muslim berharap mati, baik karena kesusahan dunia maupun karena alasan lain. Beliau memberikan alasan yang sangat dalam:

  • Jika dia orang baik, dengan hidup lebih lama ia bisa menambah kebaikannya.
  • Jika dia orang yang berbuat dosa, dengan hidup ia masih punya kesempatan untuk bertobat.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa larangan ini bersifat makruh (tidak disukai) secara umum, kecuali jika seseorang khawatir akan fitnah dalam agamanya, maka sebagian ulama membolehkan berharap mati. Namun yang paling utama adalah tetap bersabar dan berdoa agar diberi kebaikan dalam keadaan hidup maupun mati.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf sangat takut jika amal mereka tidak diterima. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Bukanlah seorang mukmin itu yang merasa aman dari (tidak diterimanya) amalnya, dan bukan pula ia berputus asa dari rahmat Allah. Akan tetapi ia senantiasa berada di antara khauf dan raja'."

Beliau juga pernah menangis ketika membaca firman Allah tentang orang-orang yang berinfak namun tetap merasa takut karena mereka yakin akan kembali kepada Rabb mereka. Ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memahami makna hadits di atas: amal mereka banyak, tetapi mereka tetap takut dan berharap kepada rahmat Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan bangga dengan amal — semua kebaikan kita adalah murni karunia Allah, dan surga adalah rahmat-Nya.
  2. Tetap beramal dengan sungguh-sungguh — amal adalah sebab yang Allah perintahkan, meskipun hasil akhirnya tetap milik Allah.
  3. Beramal dengan seimbang — jangan memaksakan diri hingga akhirnya berhenti total. Konsistensi lebih dicintai Allah daripada amal yang banyak tapi terputus.
  4. Jangan berharap mati — selama masih hidup, perbanyak tobat dan kebaikan. Jangan berputus asa dari rahmat Allah.
  5. Perbanyak doa memohon rahmat Allah — karena rahmat-Nya adalah kunci keselamatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.