Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab mulia Nabi ﷺ dalam berdakwah dan menjenguk orang sakit: beliau menunggangi keledai bersama Usamah, melewati majelis campuran, tetap memberi salam, mengajak kepada Allah, dan membacakan Al-Qur'an. Ketika Abdullah bin Ubai (munafik) menghina dan mengusir beliau, Nabi ﷺ tidak membalas, tetapi menenangkan suasana, lalu mengunjungi Sa'd bin 'Ubadah dan menyampaikan keluhannya dengan lembut. Sikap Sa'd bin 'Ubadah menunjukkan adab memaafkan dan memahami keadaan orang yang baru masuk Islam atau yang hatinya masih lemah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Penyakit, Bab Mengunjungi Orang Sakit dengan Menunggangi dan Berjalan (no. 5663), dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma.
Dalil Al-Qur'an yang sangat relevan dengan sikap Nabi ﷺ dalam hadits ini:
QS. Ali 'Imran [3]: 159
وَفَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Terjemahan: "Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal."
QS. Fushshilat [41]: 34
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Terjemahan: "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia."
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menjenguk orang sakit, keutamaan menunggangi kendaraan untuk menjenguk, serta keutamaan akhlak Nabi ﷺ yang lembut dalam berdakwah.
Penjelasan Rinci
1. Keutamaan menjenguk orang sakit dan menunggangi kendaraan.
Imam Al-Bukhari memberi judul bab "Mengunjungi Orang Sakit dengan Menunggangi dan Berjalan", menunjukkan bahwa menjenguk orang sakit boleh dengan kendaraan atau berjalan. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya menunggangi keledai (bukan hanya kuda atau unta), dan bahwa menjenguk orang sakit adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
2. Adab Nabi ﷺ dalam berdakwah di majelis campuran.
Nabi ﷺ melewati majelis yang berisi Muslim, musyrik penyembah berhala, dan Yahudi. Beliau tetap memberi salam, berhenti, turun, mengajak kepada Allah, dan membacakan Al-Qur'an. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan bolehnya berdakwah di majelis campuran dengan cara yang lembut, serta memberi salam kepada ahlu majelis meskipun di dalamnya ada orang kafir.
3. Sikap Abdullah bin Ubai bin Salul.
Ia menutup hidungnya karena debu keledai, lalu berkata kasar kepada Nabi ﷺ: "Jangan ganggu kami dengan itu di majelis kami, kembalilah ke rumahmu." Ini menunjukkan sifat munafik dan kesombongannya. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa Abdullah bin Ubai adalah tokoh munafik Madinah yang selalu menentang Nabi ﷺ, namun Nabi ﷺ tetap bersabar.
4. Sikap Abdullah bin Rawaha.
Ia membela Nabi ﷺ: "Ya Rasulullah, bawalah ajaranmu ke majelis kami, karena kami menyukainya." Ini menunjukkan kecintaan sahabat kepada dakwah dan keberanian membela kebenaran. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Abdullah bin Rawaha adalah sahabat mulia yang syahid di Perang Mu'tah.
5. Nabi ﷺ menenangkan suasana.
Ketika Muslim, musyrik, dan Yahudi hampir bertengkar, Nabi ﷺ terus menenangkan mereka hingga tenang. Ini menunjukkan hikmah dan kesabaran beliau. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah teladan dalam menahan emosi dan mendahulukan perdamaian.
6. Nasihat Sa'd bin 'Ubadah.
Sa'd berkata: "Wahai Rasulullah, maafkan dan ampunilah dia, karena Allah telah memberimu apa yang Dia berikan. Penduduk Madinah sepakat mengangkatnya menjadi pemimpin, tetapi ketika kebenaran datang kepadamu, ia cemburu." Ini menunjukkan pemahaman Sa'd tentang psikologi orang yang hatinya sakit karena kehilangan kepemimpinan. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah contoh nasihat yang lembut dan bijak.
Perbedaan pendapat ulama daftar:
Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama daftar tentang hadits ini. Mereka sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menjenguk orang sakit, adab berdakwah, dan kesabaran Nabi ﷺ. Yang paling kuat adalah pendapat yang menegaskan bahwa Nabi ﷺ tetap berdakwah dengan lembut meskipun dihadapi dengan kasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Story Telling
Kisah Usamah bin Zaid dan Keledai Nabi ﷺ
Usamah bin Zaid, seorang sahabat muda yang sangat dicintai Nabi ﷺ, menceritakan pengalaman berharga ini. Ia duduk di belakang Nabi ﷺ di atas keledai yang diberi pelana dan penutup beludru dari Fadak. Mereka pergi menjenguk Sa'd bin 'Ubadah, pemimpin Bani Khazraj yang sedang sakit, sebelum Perang Badr.
Di tengah perjalanan, mereka melewati majelis yang di dalamnya ada Abdullah bin Ubai bin Salul, tokoh munafik yang belum masuk Islam saat itu. Majelis itu bercampur: ada Muslim, penyembah berhala, dan Yahudi. Abdullah bin Rawaha, sahabat mulia, juga hadir.
Ketika debu keledai menutupi majelis, Abdullah bin Ubai menutup hidungnya dengan pakaiannya dan berkata kasar. Nabi ﷺ tetap memberi salam, turun, dan berdakwah dengan lembut. Abdullah bin Ubai menolak dengan sombong, tetapi Abdullah bin Rawaha membela Nabi ﷺ. Suasana hampir memanas, namun Nabi ﷺ menenangkan semua orang.
Setelah itu, Nabi ﷺ menemui Sa'd bin 'Ubadah dan menceritakan kejadian itu. Sa'd, yang bijak, berkata: "Wahai Rasulullah, maafkanlah dia. Penduduk Madinah hampir mengangkatnya menjadi pemimpin, tetapi kebenaran yang Allah berikan kepadamu membuatnya cemburu."
Hikmah: Kesabaran Nabi ﷺ dalam menghadapi penghinaan, kelembutan dalam berdakwah, dan kebijaksanaan Sa'd dalam memahami keadaan orang lain. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan kisah ini sebagai contoh akhlak Nabi ﷺ yang agung.
Kesimpulan Praktis
- Jenguklah orang sakit dengan kendaraan atau berjalan, karena itu sunnah yang penuh pahala.
- Berdakwahlah dengan lembut meskipun dihadapi dengan kasar; jangan membalas keburukan dengan keburukan.
- Berilah salam kepada ahlu majelis, meskipun di dalamnya ada orang yang berbeda keyakinan.
- Tahanlah emosi dan utamakan perdamaian ketika terjadi perselisihan.
- Maafkanlah orang yang menghina atau menyakiti, terutama jika ia baru masuk Islam atau hatinya masih lemah.
- Nasihatilah dengan bijak, seperti Sa'd bin 'Ubadah yang memahami psikologi orang yang cemburu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.