Penjelasan Hadits Bukhari No. 5655 tentang Kasih sayang dan kesabaran saat anak sakit

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa ketika musibah datang—terutama sakit berat atau kematian anak—seorang mukmin hendaknya bersabar, mengharap pahala, dan menerima ketetapan Allah, karena semua yang ada di dunia ini milik Allah dan memiliki waktu yang telah ditentukan. Namun kesabaran bukan berarti mati rasa; menangis karena kasih sayang adalah rahmat yang Allah tanamkan di hati hamba-Nya, dan Allah hanya menyayangi hamba yang penyayang.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 156

وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Terjemahan: "Dan orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: 'Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.'"

QS. Al-Hadid [57]: 22

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Terjemahan: "Setiap musibah yang menimpa di bumi dan pada dirimu, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Orang Sakit, Bab Mengunjungi Anak-anak (no. 5655), dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma. Hadits senada juga diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih-nya.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini sebagai dalil bolehnya menangis karena kasih sayang, dan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan sabar.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan rahmat dan kasih sayang, serta bahwa menangis bukanlah bentuk ketidaksabaran selama tidak disertai keluhan terhadap Allah.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa sabar adalah menahan diri dari keluh kesah, bukan menahan air mata.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

Pertama: Mengunjungi orang sakit adalah sunnah yang dianjurkan.

Nabi ﷺ menerima undangan putrinya untuk datang menjenguk anaknya yang sedang sekarat. Ini menunjukkan bahwa menjenguk orang sakit—terutama keluarga dekat—adalah bagian dari adab Islam. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya menjenguk orang sakit, bahkan kepada anak kecil.

Kedua: Kalimat penghibur saat musibah.

Nabi ﷺ mengirimkan pesan: "Inna lillahi ma akhadza wa ma a'thaa, wa kullu syai'in 'indahu musamma" — "Milik Allah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki batas waktu." Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kalimat ini adalah penghibur terbaik bagi orang yang tertimpa musibah, karena mengingatkan bahwa semua yang kita miliki adalah titipan Allah, dan Dia berhak mengambilnya kapan saja.

Ketiga: Anjuran untuk bersabar dan mengharap pahala.

Nabi ﷺ memerintahkan putrinya untuk "fahtasib wa ashbir" — berharap pahala dan bersabar. Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa ihtisab (mengharap pahala) adalah inti dari sabar, karena seseorang bersabar bukan karena terpaksa, tetapi karena mengharap balasan dari Allah.

Keempat: Menangis karena kasih sayang bukanlah dosa.

Ketika Nabi ﷺ melihat anak itu meninggal dalam pangkuannya, air matanya mengalir. Sa'd bertanya, "Apa ini, wahai Rasulullah?" Nabi ﷺ menjawab bahwa itu adalah rahmat yang Allah tanamkan di hati hamba-Nya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa menangis karena kasih sayang tidaklah mengurangi kesabaran, karena sabar adalah menahan lisan dari keluh kesah dan hati dari kebencian terhadap ketetapan Allah—bukan menahan air mata.

Kelima: Allah hanya menyayangi hamba yang penyayang.

Nabi ﷺ bersabda: "Wa laa yarhamullahu min 'ibaadihi illaa ar-ruhamaa'" — "Allah tidak menyayangi hamba-Nya kecuali yang penyayang." Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah dorongan untuk memiliki sifat rahmat, karena rahmat Allah akan diberikan kepada orang yang memiliki rahmat kepada makhluk.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian orang mungkin menyangka bahwa menangis saat musibah bertentangan dengan sabar. Namun para ulama dari daftar—seperti Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibnu Rajab—sepakat bahwa menangis karena kasih sayang tidak bertentangan dengan sabar, selama tidak disertai ratapan atau keluhan terhadap Allah. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur ulama ini, berdasarkan hadits itu sendiri di mana Nabi ﷺ menangis namun tetap disebut sebagai orang yang sabar.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma—seorang sahabat muda yang sangat dicintai Nabi ﷺ—menyaksikan langsung peristiwa ini. Ketika Nabi ﷺ menerima pesan dari putrinya, beliau sedang bersama Sa'd bin Abi Waqqash dan Ubay bin Ka'b. Nabi ﷺ awalnya mengirimkan pesan penghibur, namun karena putrinya sangat memohon, beliau pun berangkat bersama para sahabat.

Sesampainya di sana, anak kecil itu diletakkan di pangkuan Nabi ﷺ. Napasnya tersengal-sengal, tanda ajal sudah dekat. Tidak lama kemudian, anak itu meninggal. Air mata Nabi ﷺ mengalir. Sa'd yang melihat itu bertanya dengan penuh keheranan, karena beliau tahu Nabi ﷺ adalah orang yang paling sabar. Nabi ﷺ menjawab dengan lembut bahwa air mata ini adalah rahmat yang Allah tanamkan di hati hamba-Nya. Ini menunjukkan bahwa kasih sayang dan kesabaran bisa berjalan bersama.

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada putri Nabi ﷺ, yaitu Zainab radhiyallahu 'anha, dan anak yang meninggal adalah Abu Umamah atau yang dikenal dengan nama Umamah. Kisah ini mengajarkan bahwa bahkan Nabi ﷺ—manusia paling mulia—tetap memiliki perasaan sebagai manusia, namun beliau tidak pernah mengeluh kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Saat musibah, ucapkan kalimat penghibur: "Inna lillahi ma akhadza wa ma a'thaa, wa kullu syai'in 'indahu musamma" — semua milik Allah, dan segala sesuatu memiliki waktu yang ditentukan.
  2. Bersabarlah dengan mengharap pahala (ihtisab), bukan sekadar menahan diri.
  3. Boleh menangis karena kasih sayang, selama tidak disertai ratapan atau keluhan terhadap Allah.
  4. Tanamkan sifat penyayang kepada keluarga, anak-anak, dan sesama makhluk, karena Allah hanya menyayangi hamba yang penyayang.
  5. Jenguklah orang sakit, terutama keluarga dekat, sebagai bentuk kepedulian dan ibadah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?