Penjelasan Hadits Bukhari No. 564 tentang Waktu shalat Isya dan penamaan Al-Atmah

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengabarkan kepada para sahabat bahwa tidak ada seorang pun yang hidup pada malam itu yang akan masih hidup seratus tahun kemudian. Ini bukan larangan shalat Isya atau isyarat kiamat seratus tahun, melainkan pemberitahuan tentang ajal generasi tersebut. Hadits ini juga menunjukkan bahwa shalat Isya disebut juga al-‘Atmah oleh sebagian orang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Waktu Shalat, Bab Menyebutkan Shalat Isya dan Al-‘Atmah. Perawi: Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, melalui jalur Salim bin Abdullah, dari Az-Zuhri, dari Yunus, dari Abdullah bin al-Mubarak, dari Abdan.

Teks hadits:

صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيْلَةً صَلَاةَ الْعِشَاءِ — وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ — ثُمَّ انْصَرَفَ فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا فَقَالَ: «أَرَأَيْتُمْ لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ، فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ»

Terjemahan: "Suatu malam Rasulullah ﷺ memimpin kami shalat Isya — yaitu yang disebut orang-orang sebagai al-‘Atmah — kemudian beliau berpaling dan menghadap kami, lalu bersabda: 'Tahukah kalian tentang malam kalian ini? Sesungguhnya pada awal seratus tahun darinya, tidak akan tersisa seorang pun dari yang ada di permukaan bumi.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan ajal dan kematian:

QS. Al-A'raf [7]: 34

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Terjemahan: "Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat memundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya."

Penjelasan Rinci

Hadits ini dipahami oleh para ulama dalam beberapa aspek:

  1. Penamaan shalat Isya dan al-‘Atmah: Imam Al-Bukhari sengaja memasukkan hadits ini dalam bab tentang nama shalat Isya dan al-‘Atmah. Ini menunjukkan bahwa kedua nama itu boleh digunakan, meskipun nama yang lebih utama adalah Isya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an (QS. An-Nur [24]: 58). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa al-‘Atmah adalah nama lain shalat Isya, dan Nabi ﷺ menyebutnya demikian karena orang-orang Arab biasa menyebutnya dengan nama itu. Namun, beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama memakruhkan menyebut al-‘Atmah karena hadits lain yang melarangnya, tetapi pendapat yang kuat adalah boleh, dan hadits ini menjadi dalilnya.
  2. Makna "tidak ada yang tersisa setelah seratus tahun": Ini bukanlah isyarat bahwa kiamat akan terjadi seratus tahun kemudian, melainkan pemberitahuan bahwa semua orang yang hidup pada malam itu akan meninggal dalam rentang seratus tahun. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, perawi hadits ini, memahami hadits ini secara literal dan menyatakan bahwa memang benar, semua orang yang hidup saat itu telah meninggal dalam seratus tahun. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah mukjizat Nabi ﷺ tentang ajal generasi tersebut, bukan tentang kiamat. Ibn Katsir dalam tafsirnya juga menegaskan bahwa hadits ini tidak menunjukkan kiamat seratus tahun, tetapi menunjukkan bahwa generasi sahabat akan berakhir dalam seratus tahun.
  3. Pelajaran tentang ajal: Hadits ini mengajarkan bahwa ajal setiap orang sudah ditentukan dan tidak ada yang tahu kapan datangnya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setiap umat memiliki ajal yang tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Ini mendorong kita untuk selalu mempersiapkan diri menghadapi kematian.
  4. Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa tidak ada seorang pun yang hidup saat itu yang akan mencapai usia seratus tahun. Ini bukan larangan mempelajari ilmu atau beramal, tetapi pemberitahuan tentang berakhirnya generasi sahabat. Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan hadits ini dan memahaminya sebagai kabar tentang ajal.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, setelah mendengar hadits ini dari Nabi ﷺ, selalu mengingatnya dan menyampaikan kepada orang lain. Dalam riwayat lain, beliau berkata: "Sungguh, seratus tahun setelah malam itu, tidak ada seorang pun yang tersisa dari mereka yang hadir." Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat memperhatikan sabda Nabi ﷺ dan menjadikannya pelajaran tentang kefanaan dunia. (Sumber: Shahih Al-Bukhari dan penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat Isya boleh disebut al-‘Atmah, tetapi nama yang lebih utama adalah Isya.
  2. Hadits ini mengajarkan bahwa ajal setiap orang sudah ditentukan dan tidak ada yang tahu kapan datangnya.
  3. Kita harus selalu mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan amal saleh.
  4. Jangan memahami hadits ini sebagai isyarat kiamat seratus tahun, tetapi sebagai kabar tentang berakhirnya generasi sahabat.
  5. Hendaknya kita meneladani para sahabat dalam memperhatikan sabda Nabi ﷺ dan menjadikannya pelajaran hidup.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?