Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah perumpamaan dari Nabi ﷺ tentang tiga umat: Muslim, Yahudi, dan Nasrani. Yahudi dan Nasrani diberi "waktu kerja" lebih awal, tetapi mereka meninggalkan amal sebelum selesai, sehingga upah mereka tidak sempurna. Umat Muslim datang di waktu yang tersisa, menyelesaikan pekerjaan hingga akhir, dan justru menerima upah penuh. Pelajarannya: yang menentukan bukan panjangnya waktu, tetapi kesungguhan menyelesaikan amal sampai akhir dengan iman dan ketaatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Mawaqit ash-Shalah (Waktu-Waktu Shalat), Bab: Siapa yang Mendapatkan Satu Raka'at dari Shalat Ashar Sebelum Matahari Terbenam, nomor 558. Perawinya adalah Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Abu Burdah dan Buraid.
Teks Arab hadits:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا إِلَى اللَّيْلِ، فَعَمِلُوا إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ، فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا إِلَى أَجْرِكَ، فَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ، وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ، فَعَمِلُوا حَتَّى إِذَا كَانَ حِينَ صَلَاةِ الْعَصْرِ قَالُوا: لَكَ مَا عَمِلْنَا. فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِمْ حَتَّى غَابَتِ الشَّمْسُ، وَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ».
Terjemahan ringkas: Perumpamaan kaum Muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang lelaki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja hingga malam. Mereka bekerja sampai tengah hari lalu berkata, "Kami tidak butuh upahmu." Lalu ia menyewa kaum lain dan berkata, "Selesaikan sisa hari kalian, dan kalian mendapat upah yang telah aku tetapkan." Mereka bekerja hingga waktu shalat Ashar lalu berkata, "Bagi kami apa yang telah kami kerjakan." Lalu ia menyewa kaum lain, mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka menyempurnakan upah kedua kelompok sebelumnya.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema ini:
QS. Al-Baqarah [2]: 286
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
Terjemahan: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya, dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dilakukannya."
Ayat ini menegaskan bahwa yang dinilai adalah usaha dan kesungguhan, bukan sekadar panjangnya waktu. Ini sejalan dengan makna hadits di atas.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan perumpamaan tiga golongan umat dalam menerima risalah dan menyikapi amal.
Kelompok pertama (Yahudi): Mereka diberi waktu bekerja dari pagi hingga tengah hari. Namun mereka berhenti dan berkata, "Kami tidak butuh upahmu." Ini menggambarkan sikap mereka yang menolak sebagian perintah Allah dan tidak menyempurnakan amal. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah isyarat tentang kaum yang diberi kitab Taurat, lalu mereka tidak mengamalkannya dengan sempurna dan meninggalkan sebagian besar perintah.
Kelompok kedua (Nasrani): Mereka bekerja hingga waktu Ashar, lalu berkata, "Bagi kami apa yang telah kami kerjakan." Mereka juga tidak menyelesaikan pekerjaan sampai akhir. Ibnu Hajar menjelaskan ini sebagai isyarat tentang kaum yang diberi kitab Injil, namun juga tidak menyempurnakan amal dan meninggalkan sebagian perintah.
Kelompok ketiga (Muslim): Mereka bekerja hingga matahari terbenam, menyelesaikan sisa hari, dan menerima upah penuh — bahkan upah kedua kelompok sebelumnya. Ini menggambarkan umat Nabi Muhammad ﷺ yang datang di akhir zaman, namun mereka menyempurnakan amal dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengikuti syariat yang sempurna.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan keutamaan umat Islam yang diberi waktu singkat namun amal mereka diterima dengan sempurna, karena mereka beriman kepada seluruh nabi dan kitab, sedangkan umat sebelumnya menolak sebagian.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa yang menjadi ukuran bukanlah banyaknya amal, tetapi keikhlasan dan kesesuaian dengan syariat. Umat Islam diberi umur yang pendek, tetapi dengan amal yang benar dan niat yang ikhlas, mereka bisa menyamai atau melebihi pahala umat-umat sebelumnya.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim ketika menafsirkan ayat-ayat tentang umat-umat terdahulu menjelaskan bahwa Allah memberi masing-masing umat waktu dan kesempatan. Yang menyempurnakan amalnya akan mendapat upah penuh, dan yang meninggalkan amalnya akan rugi.
Hadits ini juga berkaitan dengan bab dalam Shahih Al-Bukhari tentang "Siapa yang Mendapatkan Satu Raka'at dari Shalat Ashar Sebelum Matahari Terbenam." Ini menunjukkan bahwa waktu Ashar memiliki keutamaan khusus, dan siapa yang menyempurnakan shalat Ashar di waktunya akan mendapat pahala yang besar, sebagaimana pekerja yang menyelesaikan pekerjaan hingga matahari terbenam.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu menyampaikan hadits ini kepada kaumnya untuk menjelaskan mengapa umat Islam — yang datang terakhir — justru mendapat pahala yang besar. Beliau menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa umat Yahudi dan Nasrani diberi waktu lebih panjang, tetapi mereka meninggalkan amal. Sementara umat Islam diberi waktu yang singkat, namun mereka menyempurnakan amal dengan iman dan ketaatan.
Dalam riwayat lain yang shahih, Nabi ﷺ juga bersabda bahwa umur umat Islam berkisar antara 60 hingga 70 tahun, lebih pendek dibanding umat-umat sebelumnya, namun Allah memberi keutamaan dengan malam Lailatul Qadar dan amal-amal yang pahalanya dilipatgandakan. Ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat ini.
Hikmahnya: jangan meremehkan waktu yang singkat. Yang penting adalah menyelesaikan amal dengan baik, ikhlas, dan sesuai sunnah. Sebagaimana pekerja yang menyelesaikan pekerjaannya hingga akhir, demikian pula kita harus menyempurnakan amal hingga akhir hayat.
Kesimpulan Praktis
- Jangan menunda amal. Waktu yang tersedia mungkin singkat, tetapi yang menentukan adalah kesungguhan menyelesaikannya.
- Sempurnakan amal hingga akhir. Seperti pekerja yang bekerja hingga matahari terbenam, kita harus istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hayat.
- Ikhlas dan sesuai sunnah. Amal yang banyak tetapi tidak ikhlas dan tidak sesuai tuntunan tidak akan diterima.
- Jaga shalat Ashar. Hadits ini menyinggung waktu Ashar; siapa yang menyempurnakan shalat Ashar di waktunya akan mendapat pahala besar.
- Bersyukur menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ. Meski umur pendek, Allah memberi keutamaan dengan amal yang diterima dan pahala yang berlipat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.